
Aku mengerjapkan mata karena sinar matahari yang menyilaukan. Rupanya hari sudah siang. Aku mencoba untuk duduk, tapi tidak bisa. Aku merasa sangat pusing. Berkali-kali aku mencoba memberikan sedikit pijatan di dahi, tapi tidak berhasil.
Aku mencoba untuk bangun, dan betapa terkejutnya aku mendapati diriku yang polos tanpa mengenakan sehelai benangpun. Aku shock dan kembali terduduk sambil mengingat-ngingat apa yang terjadi semalam.
‘Seingatku semalam aku tidur di kamar masih mengenakan pakaian. Tidak ... tidak. Aku semalam terbangun karena haus, lalu aku meminum minuman milik Heru. Setelah itu aku merasa kacau. Lalu setelah itu Habibie datang. Dia menghampiriku dan memelukku. Ya, Habibie telah datang. Dia pasti datang untuk menepati janjinya.’
‘Tidak, itu tidak mungkin. Bagaimana mungkin Habibie semalam ada disini sedangkan kemarin adalah hari pernikahannya. Sudah pasti semalam dia bersama dengan istrinya. Selain itu tidak mungkin Habibie akan menyentuhku. Itu sangat mustahil. Pasti aku hanya bermimpi. Lalu apa yang terjadi denganku? Bagaimana bisa aku tertidur dalam keadaan seperti ini?’
Ditengah kebingunganku, aku berusaha untuk bangun, mencari seseorang yang mungkin bisa menjelaskan semuanya. Aku mencari-cari keberadaaan pakaianku, tapi tidak jua ku temukan. Aku memutuskan untuk memakai pakaian yang ada di tasku saja.
Setelah itu aku berjalan menuju ruang tamu. Tidak ada siapa-siapa disana. Kulihat di meja ada nasi beserta lauk pauknya. Karena lapar mendera, akupun segera melahapnya. Kulihat jam di dinding, pantas saja aku merasa lapar, rupanya sudah waktunya jam makan siang.
Usai menyantap sarapan sekaligus makan siangku aku beranjak membawa piring bekas makanku ke dapur. Tak ku temui siapapun disana. Lalu dimana Heru?
Karena tidak menemui siapapun, aku memutuskan untuk berjalan-jalan disekitar pondok, berharap bisa bertemu dengan siapapun yang berwujud manusia. Tapi nihil, sejauh mata memandang, tidak ada seorang pun terlihat disana.
Aku mulai ketakutan dan panik. Aku berlari kembali ke pondok. Mencari keberadaan ponselku. Mencari ... dan terus mencari, tapi tidak kutemukan. Aku yang mulai panik berlari kedalam kamar. Duduk diatas kasur seraya menyelimuti diri dengan selimut.
‘Tuhan, sebenarnya aku dimana? Dan dimana Heru? Dan apa yang terjadi semalam? Kenapa aku bisa terbangun dalam keadaan memalukan seperti ini?’ Aku ingin berteriak, tapi aku terlalu takut bahkan untuk hanya sekedar mendengarkan suara nafasku.
Berjam-jam lamanya aku hanya bersembunyi dibawah selimut. Bahkan hingga hari hampir gelap pun aku tetap berada di tempat yang sama, tanpa melakukan apapun. Aku terlalu takut bahkan untuk sekedar mengintip keluar selimut.
Samar-samar ku dengar suara sepeda motor mendekat, lalu berhenti di depan rumah. Aku menduga-duga siapa gerangan yang datang. Heru? Ya, pasti itu Heru. Siapa lagi yang akan datang kesini selain dia?
“Ameera, kamu didalam? Kok lampunya gak dinyalain?” Aku sangat senang mendengar suara Heru. Entah mengapa aku sangat merindukannya.
Aku membuka selimutku dengan kasar, lalu beranjak bangun dan berlari kearahnya. Aku menghambur kearahnya. Memeluknya dengan erat dan menangis di dadanya.
__ADS_1
“Kakak kemana saja? Aku takut sendirian ...,” ucapku disela tangisku.
Heru melepaskan pelukanku dan menangkup kedua pipiku dengan tangannya, “maaf sayang, aku tadi habis dari kantor. Maaf tidak pamit, karena tadi kamu masih tertidur ketika aku berangkat. Sudah ya, jangan nangis, cup ... cup ... cup ....”
“Kamu sudah makan?” tanyanya.
Aku hanya mengangukkan kepala sebagai jawaban.
“Tadi aku bermaksud ke kantor untuk mengajukan cuti saja, tapi rupanya ada beberapa pekerjaan yang harus aku kerjakan dulu, makanya baru pulang selarut ini,” paparnya.
“Kak, ada yang mau aku tanyakan,” ucapku ragu.
“Aku tahu Ra, ayo kita duduk dulu.” Kami berdua duduk diatas sofa yang ada di ruang tamu.
“Emmm ... semalam ... apa semalam terjadi sesuatu? Dan kenapa aku terbangun dalam keadaan seperti itu?”
“Maaf Ra, tapi semalam memang sudah terjadi sesuatu.” Heru nampak menundukkan pandangannya.
“Kamu tidak seharusnya berlebihan seperti itu Ra, semua yang terjadi tidak sepenuhnya kesalahanku . Sudah ku bilang kamu jangan minum minuman itu, tapi kamu tidak mau dengar. Akibatnya kamu jadi mabuk kan?”
“Mabuk? Semalam aku mabuk?” tanyaku seraya berusaha mengingat-ingat lagi kejadian semalam.
“Ya kamu mabuk. Dan saat itu tiba-tiba kamu muntah, dengan terpaksa aku membuka seluruh pakaianmu, bermaksud untuk mengganti pakaianmu dengan yang baru. Tetapi justru yang terjadi diluar kendali, kamu mulai merayuku, memelukku, dan bergelayut manja di lenganku. Naluri kelelakianku muncul Ra, maaf aku tidak bisa menahannya,” sesalnya.
“Jadi maksud kakak kita benar-benar telah melakukannya?” tanyaku memastikan.
Heru menganggukkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaanku. “Kamu tidak usah khawatir Ra, aku pasti bertanggung jawab.”
__ADS_1
Aku kembali meneteskan air mata. Teringat semalam aku melihat Habibie, merasakan kehangatan tubuhnya, mencurahkan semua perasaan cinta padanya. Dan ternyata aku begitu terpukul setelah mengetahui bahwa orang yang aku kira Habibie adalah Heru. Aku kembali terisak mengingatnya. Jika semalam Habibie memadu kasih bersama dengan istrinya? Lalu bagaimana denganku? Aku malah melakukannya dengan pria yang tidak mempunyai hubungan apa-apa denganku.
Aku merasa sangat kotor. Aku adalah wanita menjijikkan. Mungkin benar yang dikatakan Umar\, aku adalah seorang pela*ur. Tidak\, bahkan seorang penjaja se*s saja masih lebih baik dariku. Aku sungguh merasa lebih buruk dari seorang penjaja se*s.
Tangisku pun pecah. Kali ini lebih kencang. Aku meraung-raung sambil sesekali memukul-mukul diriku sendiri. Heru berusaha menghentikannnya. Dia meraihku kedalam pelukannya.
“Hei ... hei ..., sudah Ra, jangan menyakiti diri kamu sendiri. Aku yang salah, maaf Ra. Seharusnya aku lebih bisa menjaga diri. Maaf.” Berulang kali kata maaf terucap dari mulut Heru, tapi sama sekali tidak membuatku merasa lebih baik.
Aku masih menangisi nasibku hingga beberapa menit selanjutnya. Heru dengan sabar menguatkanku. Walaupun aku berulang kali mengatakan Heru jahat, tapi entah mengapa aku justru tidak menolah sentuhannya.
“Terus bagaimana aku menjalani kehidupanku setelah ini? Orang tuaku pasti akan sangat kecewa. Aku bahkan terlalu malu untuk menunjukkan wajahku pada mereka.” Aku kembali terbayang wajah-wajah kedua orang tuaku.
“Mereka tidak perlu tahu Ra.” Heru nampak tengah memikirkan sesuatu.
Aku menarik diri dari pelukan Heru, “maksud kakak apa?”
“Tadi sudah aku sampaikan kalau aku akan bertanggung jawab. Jika sampai kamu hamil gara-gara kejadian ini, aku akan bertanggung jawab untuk membiayai semua keperluan kamu hingga bayi ini lahir. Setelah itu, kamu bebas untuk melakukan apapun yang kamu mau, bayi aku biar menjadi urusanku. Aku akan mengurusnya, membesarkannya, dan memberikan pendidikan yang layak untuknya,” papar Heru.
“Kakak akan mengambil bayiku yang mungkin aku kandung dan akan membuangku setelahnya? Ternyata kakak benar-benar jahat! Kakak jahat! Aku benci kamu!” Aku kembali meraung-raung sambil memukul-mukul tubuh Heru di beberapa tempat yang bisa aku raih.
Heru menangkap kedua pergelangan tanganku dan menatapku lekat. Kulihat matanya mulai berkaca-kaca. Heru menangis? Tapi untuk apa dia menangis? Apa yang dia tangisi?
Aku menghentikan aksiku, dan menatap iba ke arahnya. Belum pernah selama kami kenal dia menangis dihadapanku. Heru yang selalu ceria bahkan cenderung menjengkelkan kini tengah menangis dihadapanku.
Kutatap lekat wajah Heru yang tengah menciumi kedua tanganku. Berharap aku segera menemukan jawaban atas segala sikapnya saat ini.
“Jangan pernah sekalipun kamu berfikir aku akan membuangmu Ra. Kamu tahu beberapa kali aku mengajakmu menikah, tentu kamu tahu betapa aku sangat mencintai kamu. Kamua tahu, betapa besar keinginanku untuk hidup bersama denganmu. Tapi kenyataan yang baru ku ketahui tadi pagi sungguh sangat membuatku hancur.” Heru mengeluarkan dompet didalam saku celananya, lalu mengambil sesuatu di dalamnya.
__ADS_1
Aku mengambil benda tersebut, membaca tulisan demi tulisan yang tertera disana. Tidak ada yang aneh, sampai ketika aku sampai pada baris ke delapan, aku baru memahami apa yang dimaksud oleh Heru. Aku menoleh ke arahnya dengan ragu, Heru menganggukkan kepala seolah mengerti arti tatapanku.
***