CERITA CINTA AMEERA

CERITA CINTA AMEERA
PART 2


__ADS_3

Bunyi alarm berhasil membuatku terbangun dari tidurku. Waktu menunjukkan sudah pukul 5 pagi. Kulangkahkan kaki menuju kamar mandi umum dikostan ini. Setiap hari aku mandi pukul 5 pagi karena jam segini kamar mandi belum antri. Bukan apa-apa, semua penghuni kostan ini bekerja di pabrik tempatku bekerja. Kami semua masuk di jam yang sama, yaitu pukul 06.45 pagi. Aku masuk ke kamar mandi dan mulai menimba air ke dalam ember untuk mandi. Rasanya malas sekali. Kalau aku bisa memilih, ingin ku habiskan hari ini dengan tiduran di kasurku. Tapi aku mempunyai kewajiban yang harus ku tuntaskan di tempat kerja.


Ritual mandi sudah selesai. Aku kembali ke kamarku dan membangunkan Nita. Nita langsung terbangun dengan satu kali tepukan halus dikakinya.


“Mandi gih, keburu antri” kataku pada Nita.


Nita tidak menjawab, dia langsung beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi.


Tepat pukul 06.15 kami berdua berangkat ke pabrik dengan berjalan kaki. Jarak dari kostanku ke pabrik tidak terlalu jauh, sekitar 15 menit berjalan kaki.


“Ra, semalem Deni sms aku,” kata Nita membuka percakapan.


Aku menghentikan langkah sejenak seraya menoleh kearahnya.


“Dia bilang apa?” tanyaku kemudian.


“Ya intinya dia nanya ke aku tentang kamu, kamu nanyain dia gak pas dia udah pergi? Trus kamu cerita apa gitu gak sama aku? Gtu..” jelas Nita.


“Trus kamu jawab apa?” tanyaku penasaran.


“Belum aku bales lah... kan semalem aku udah tidur pas dia sms. Aku buka sms dia aja baru tadi pas mau berangkat kerja. Belum sempat aku bales kamu udah ngajak berangkat. Ya aku simpen aja lagi hapenya. Kan gak boleh bawa hape ke pabrik, kalaupun bawa harus dimatiin. Buat apa bawa hape kalo gitu” jawabnya panjang lebar.


Aku hanya manggut-manggut mendengar jawaban Nita. Kami melanjutkan perjalanan dalam hening. Hari ini Nita begitu pendiam, tidak seperti biasanya yang akan berceloteh ria menceritakan apapun yang dia pikirkan dan rasakan.


Menit demi menit kami lalui dan akhirnya kamipun sampai di depan gerbang pabrik. Para buruh mulai berdatangan. Aku dan Nita berpisah di gerbang, karena walaupun kami bekerja di pabrik yang sama tapi kami berbeda divisi. Nita di divisi sewing sedangkan aku divisi packing.


***


Bel sudah berbunyi yang berarti jam kerja hari ini sudah usai. Aku berjalan lelah menuju gerbang pabrik. Saat sampai di gerbang aku melihat seseorang yang sangat familiar di depan gerbang. Dari caranya celingukan menoleh kekanan dan kekiri nampak sekali orang tersebut tengah mencari seseorang.


“Deni...” lirihku pelan.


Aku diam mematung sejenak dan kemudian balik badan kembali menuju kedalam pabrik. Aku sungguh tak ingin menemuinya saat ini. Terserah dia mau berpikir lari dari masalah atau apapun. Aku berdiri disamping pos satpam. Dan aku yakin dia tidak bisa melihatku.

__ADS_1


Beberapa menit berlalu. Hampir semua buruh pabrik sudah pulang. Hanya tinggal satu dua orang yang masih berjalan keluar pintu gerbang. Ku lihat Deni masih disana. Dia mendekati motornya dan kemudian menyalakannya. Deni pun pergi.


‘Akhirnya pulang juga’ pikirku seraya mengelus dada.


“Meera kok kamu masih disini?” tanya seseorang dibelakangku.


“Eh Ani... hemm... aku... boleh gak aku ikut ke kosan kamu” kataku pada akhirnya.


“Boleh dooong...” jawab Ani.


Aku dan Ani berjalan menuju ke kostan Ani. Jaraknya lumayan dekat. Lebih dekat daripada kostanku. Diperjalanan Ani bercerita banyak hal, tapi tak ada satu katapun yang dapat aku cerna. Aku hanya memikirkan Deni.


‘Deni pasti saat ini sedang menuju ke kostanku’ pikirku. Apa yang dia lakukan hari ini bukannya membuatku kagum sama dia, aku malah makin ilfeel.


Sekitar lima menit berjalan, tibalah kami di kostan Ani. Tidak seperti kostanku, kostan Ani nampak sempit dan agak kumuh dengan bangunan semi permanen. Ruangan yang berukuran 2x3 itu hanya muat untuk kasur dan lemari kecil. Kami mengobrol banyak hal, walaupun kebanyakan hanya basa-basi karena sesungguhnya aku sama sekali tidak ingin berbicara.


Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Cuaca diluar mulai gelap. Selain karena sudah mendekati waktu malam, sepertinya hari ini akan turun hujan. Dan benar saja hujan pun turun disertai angin kencang.


“Hemm... gimana ya...” aku berpikir sejenak.


‘Nita pasti mencariku’ pikirku. Aku tidak bisa mengabarinya karena aku tidak membawa ponsel. Tapi kalaupun aku mengabarinya aku takut dia memberitahukan keberadaanku pada Deni.


“Yaudah deh... tapi gak ngerepotin kamu kan?” jawabku pada akhirnya. Mengingat besok hari minggu, kerja libur. Aku bisa pulang pagi hari besok.


“Ya engga lah... aku seneng kali ada temen disini” kata Ani.


***


Pagi hari aku pulang ke kostanku. Begitu aku membuka pintu Nita langsung menghambur ke arahku. Dia memelukku sangat erat seolah lama tak berjumpa.


“Meeraaaaaa... kamu kemana aja? Aku khawatir sama kamu tau!” kata Nita seraya melepaskan pelukannya.


“Mmmhhh anu... kemarin aku main ke kostan Ani pas mau pulang ujan gede jadi aku nginep deh. hehe... maaf yaaa...” kataku nyengir. Nita tampak cemberut mendengar jawabanku.

__ADS_1


“Kamu tau gak, Deni nyariin kamu sampe jam tiga pagi!” katanya antusias.


Mendengar nama Deni disebut entah mengapa membuatku merasa tak nyaman. Segala apa yang dilakukannya membuatku muak. Sudah tidak ada cinta dihatiku untuknya. Atau bahkan tidak pernah ada cinta? Mungkin perasaanku pada Deni selama ini hanya sebatas keinginan untuk bersenang-senang, bukan cinta.


“Tok...tok...tok” suara pintu diketuk. Aku beranjak menuju pintu, kubukakan pintu. Sebuah wajah yang tak ingin aku lihat muncul dibalik pintu. Deni tersenyum kearahku. Tampak sekali ada perasaan lega bisa melihatku. Kulihat ada kantung dimatanya. Mungkin dia tidak tidur semalaman. Ada sedikit perasaan bersalah karena itu.


“Kamu sudah pulang Ra?” tanyanya.


“Sudah” jawabku ketus.


“Kamu kemana aja? Aku khawatir sama kamu” tanyanya lagi. Ku abaikan pertanyaan Deni.


“Kamu ngapain nyariin aku?” tanyaku kesal.


“Kok kamu ngomongnya gitu sih? Ya jelas aku nyariin kamu aku kan pacar kamu aku khawatirsama kamu!” jawabnya.


“Maaf Deni kita sudah tidak cocok. Kamu berhak mendapatkan yang lebih baik dari aku. Aku mau kita udahan aja” kataku kemudian.


“Maksud kamu kita putus?” tanyanya.


“Iya” jawabku singkat.


“Ini pasti gara-gara laki-laki malam itu kan? Jadi bener kamu selingkuh sama dia?” tanyanya. Ada sedikit nada marah dalam ucapannya kali ini.


“Bukan. Ini bukan tentang dia. Ini tentang kita. Aku udah gak bisa sama kamu lagi. Maaf” kataku kemudian.


Ada gurat kecewa nampak sekali di wajah Deni. Tapi aku tak mau terus memberinya harapan sementara aku sendiri sudah tidak ada perasaan sayang padanya.


“Yaudah kalo itu mau kamu” jawabnya pada akhirnya seraya membalikkan badan menuju pintu dan kemudian perlahan menghilang dari pandangan.


Begitu sosok Deni sudah tak terlihat lagi aku berbalik. Nampak Nita sedang melihat kearahku seolah sedang menunggu jawaban atas pertanyaan yang tidak bisa dia ajukan. Aku berjalan melewatinya. Kurebahkan badan ini diatas kasur sambil melihat langit-langit. Tiba-tiba terbayang kenangan-kenanganku bersama Deni. Teringat saat kami berkendara menuju tempat wisata berupa air terjun. Kami melewati medan yang tidak mudah. Jalanan menanjak dan berpasir. Saat itu motor yang kami tumpangi oleng dan kami berdua terjatuh. Aku sangat kesal padanya saat itu, tapi dia malah tertawa terbahak-bahak bersama teman-temannya. Hal itu menambah kekesalanku padanya saat itu. Dan pada akhirnya aku meminta pulang.


Teringat pula suatu hari kami berencana pergi ke tempat wisata berupa kebun teh. Diperjalanan kami terkena razia polisi. Tapi saat polisi memberhentikan kami, dia bukannya menghentikan laju motornya malah menambah kecepatan. Kami kabur! Sampai satu cakaran kuku pak polisi mendarat di lengan kirinya. Setelah kutanya alasan dia melakukan itu barulah aku tahu kalau ternyata dia tidak mempunyai STNK motor. Dia selama ini berkendara hanya membawa fotokopi BPKB motornya itu.

__ADS_1


__ADS_2