CERITA CINTA AMEERA

CERITA CINTA AMEERA
PART 15


__ADS_3

[Assalamualaikum Ameera,


Sebelumnya Aa minta maaf jika harus mengatakan ini lewat pesan. Sebenarnya Aa tadi ke rumah kamu, tapi rupanya kamu tidak ada di rumah. Aa cuma mau mengundang kamu ke pernikahan Aa, insyaallah hari minggu ini. Aa harap kamu bisa datang Ra, karena bagaimanapun silaturahmi harus tetap terjaga.


Habibie].


Flashback ....


Saat itu aku masih duduk di bangku kelas dua SMA. Masa paling menyenangkan dari sepanjang jalan cerita hidupku. Disana aku banyak menemui orang-orang baru, termasuk Habibie.


Habibie merupakan putra dari pemilik pesantren dimana aku dulu pernah menimba ilmu agama disana. Aku bukanlah santri mondok disana, hanya ikut acara pesantren kilat yang diadakan pesantren tersebut pada bulan Ramadhan setiap tahunnya selama dua puluh hari. Dan itupun karena untuk memenuhi tugas sekolah.


Suatu hari pak Kyai memperkenalkan seorang ustadz kepada kami. Beliau mengatakan ustadz ini seorang sarjana ilmu agama dari luar kota dan saat ini tengah menempuh pendidikan program magister di salah satu universitas di kota kami. Dan ternyata orang itu adalah Habibie, putra sulungnya.


Pesona Habibie banyak menyita perhatian dari para santriwati disana. Dengan wajah yang tampan dan pintar ilmu agama menjadi kelebihan tersendiri bagi Habibie. Tidak sedikit para gadis sebaya denganku menjadi santri dadakan hanya karena ingin dekat dengannya.


Saat itu adalah hari terakhir pesantren kilat. Peserta membubarkan diri usai shalat maghrib berjamaah dan dilanjutkan dengan buka puasa bersama. Ketika akan pulang, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Satu persatu para peserta pesantren kilat sudah mulai meninggalkan area pesantren saat sudah mendapatkan jemputan. Dan tinggallah aku seorang diri.


Tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara seseorang yang menyapaku dari belakang, ternyata itu adalah Habibie. Dia mengajakku  untuk ikut shalat tarawih di mesjid sambil menunggu orang tuaku atau siapapun menjemputku. Akupun mengiyakan ajakan Habibie walaupun aku tidak yakin akan ada seseorang yang menjemputku.


Usai tarawih kulihat hujan sudah mulai mereda, tidak sederas tadi. Aku segera keluar dari mesjid bermaksud akan pulang ke rumah. Kututupi kepalaku yang terbalut jilbab dengan telapak tangan agar sedikit terhindar dari guyuran air hujan.


“Ameera, tunggu!” Aku menoleh ketika menyadari seseorang memanggilku dari arah belakang. Kulihat Habibie setengah berlari kearahku sambil mengenakan payung.


“Biar aku mengantarkanmu pulang. Ini sudah malam, tidak baik seorang gadis berjalan sendirian seperti ini,” ucapnya ketika dia sudah sampai dihadapanku, “ayo!” ajaknya kemudian.


Kami berjalan berdampingan dengan mengenakan payung yang sama. Sebenarnya Habibie tidak perlu melakukan itu semua. Disamping karena hujan sudah mulai mereda, pun aku rasa jalan ke rumahku selama ini tidak ada hal membahayakan sehingga Habibie harus sampai mengantarkanku pulang. Selain itu berada sedekat ini dengan Habibie membuatku merasa sedikit deg-degan. Aku bahkan bisa mencium aroma parfumnya.

__ADS_1


Ditengah perjalanan aku mencoba untuk bernegosiasi dengannya, “Ustadz tidak perlu mengantarku sejauh ini, saya jadi tidak enak. Lagi pula hujan sudah reda, rumah saya pun sudah dekat.”


“Jangan panggil aku Ustadz, pangil aja Aa. Dan jangan terlalu resmi begitu Ra,” ucapnya.


Kami pun melanjutkan perjalanan dalam diam. Aku tidak mengatakan sepatah katapun kecuali memang dia yang bertanya. Dan sepertinya Habibie sangat ingin mengetahui segala sesuatu tentang diriku, dimana sekolahku, kelas berapa, ngambil jurusan apa, dan lain-lain. Padahal tadinya aku pikir dia akan bertanya tentang isi kitab yang dia ajarkan di pesantren. Jika seperti itu maka dengan terpaksa aku harus jujur jika aku mengikuti pesantren tidak lebih dari sekedar menyelesaikan tugas sekolah saja.


Tanpa terasa kami sudah sampai di depan rumahku. Aku bergegas masuk ke rumah setelah sebelumnya mengajak Habibie masuk, tetapi ditolaknya dengan alasan waktu sudah larut.


Sejak saat itu aku mulai dekat dengan Habibie. Dia beberapa kali mengirimiku hadiah via santri yang mondok di pesantren. Bahkan saat menjelang idul fitri dia memberikanku satu set gamis yang dia minta agar aku kenakan saat hari raya.


Saat hari raya idul fitri aku kembali bertemu dengan Habibie. Kali ini kami sama-sama sedang bersama keluarga kami masing-masing untuk bersilaturahmi antar warga. Habibie tersenyum kearahku, dan aku membalas dengan senyuman juga.


Saat semua warga sedang sibuk saling bersalaman, tiba-tiba Habibie menghampiriku, “terimakasih kamu bersedia mengenakan gamis ini, cantik.”


Setelah mengatakan itu Habibie kembali menjauh untuk menghampiri keluarganya. Meninggalkanku yang tanpa dia ketahui tengah tersipu malu mendengar pujiannya. Entah semerah apa wajahku saat itu.


Meskipun tidak ada pernyataan cinta diantara kami, tapi aku yakin Habibie mencintaiku seperti aku mencintainya. Hanya karena Habibie adalah putra dari seorang kyai, maka kami terpaksa menyembunyikan hubungan kami dari semua orang agar menjaga nama baik keluarga Habibie.


Hubungan kami masih tetap sama hingga aku naik ke kelas 3 SMA. Habibie masih sering mengantar dan menjemputku sekolah. Seperti biasa, aku bertemu dan berpisah dengannya diujung jalan desa. Walaupun demikian, aku sama sekali tidak merasa keberatan. Perhatiannya masih tetap sama terhadapku. Aku bisa merasakannya.


Pertengahan tahun, Mamahku mendapat kabar dari kakakku yang merantau diuar kota bahwa dia akan menikah. Kami semua diminta untuk datang. Sejak lulus SMA, memang dua kakak laki-lakiku yang nomor satu dan dua memutuskan untuk merantau ke luar kota. Mencari kehidupan yang lebih baik. Dan ternyata kakakku yang pertama bertemu dengan jodohnya disana. Kami bahagia mendengar kabar tersebut.


Setelah berdiskusi panjang, Bapak memutuskan akan berangkat satu minggu lagi karena pernikahan kakak akan dilaksanakan dua minggu lagi. Bapak ingin membantu persiapan kakak untuk mengurus segala sesuatunya disana. Sedangkan aku akan menyusul begitu ujian semesterku telah usai.


Satu minggu kemudian keluargaku berangkat dengan menggunakan kereta api. Aku menatap sedih kepergian mereka. Jika bukan karena ujian, aku sudah pasti akan berada disana bersama keluargaku.


Aku menjalani hari-hari selanjutnya tanpa keluargaku. Kesepian sudah pasti, tapi semua itu takan lama, begitu ujian selesai, aku akan segera bertemu dengan mereka kembali.

__ADS_1


Tanpa terasa hari terakhir ujianpun telah kulewati. Seperti biasa, Habibie datang menjemput.


“Kapan kamu nyusul mamah sama bapak Ra?” tanya Habibie membuka percakapan ketika kami ditengah perjalanan.


“Insyaallah besok A.” Jawabku.


Habibie nampak berfikir sejenak mendengar jawabanku. Setelah diam cukup lama akhirnya Habibie berkata, “Aa anterin aja yah? Aa khawatir sama kamu.”


Aku sedikit ragu menanggapi tawaran Habibie, “tapi A, bagaimana dengan orang tua Aa?”


Habibie nampak memikirkan jawaban atas pertanyaanku, “nanti Aa pikirkan,” jawabnya pada akhirnya.


Kami melanjutkan perjalanan sambil sesekali bercengkrama. Setiap kali menjemputku Habibie kerap bertanya mengenai kegiatanku hari itu, dan akupun dengan semangat menceritakan segalanya dengan semangat. Habibie hanya akan menjadi pendengar setia. Walaupun sesekali menanggapi ocehanku yang selalu membuatnya tersenyum.


Kutatap punggungnya yang terpampang nyata didepan mata. Ingin ku sekali saja memeluknya dari belakang, merasakan hangatnya tubuh Habibie, tapi tentu saja tidak ku lakukan. Walaupun aku seringkali iri melihat teman-temanku memeluk kekasihnya diatas sepeda motor ketika berkendara bersama, tapi itu tidak berlaku untukku dan Habibie. Aku cukup waras untuk tidak melakukan hal bodoh seperti itu kepada Habibie walaupun hati menginginkannya. Aku cukup mengenal Habibie, dan ku tahu Habibie takan menyukainya.


Keesokan harinya sesuai rencana, aku akan berangkat keluar kota menyusul kedua orang tuaku. Aku bergegas keluar dari rumah, menguncinya, dan menitipkan kunci tersebut kepada tetangga sebelah rumah. Tidak lupa menyampaikan pesan bapak untuk meminta tolong memberi makan ternak ayam kami.


Aku menuju stasiun dengan menaiki ojek. Begitu sampai di tempat tujuan, aku lekas turun dan menyerahkan helm beserta sejumlah uang kepada kang ojek tersebut. Begitu aku mengedarkan pandangan kearah stasiun aku melihat Habibie tengah berdiri disana seraya tersenyum kearahku, manis. Dengan perasaaan bahagia aku berjalan menghampirinya.


“Aa jadi nganterin aku?” tanyaku begitu sampai dihadapannya.


Habibie hanya mengangguk tanpa menyurutkan senyumannya seraya mengacungkan dua buah tiket kereta api dan memasukkannya kembali kedalam saku jaketnya. Akhirnya kami berjalan menuju ruang tunggu stasiun untuk menunggu kereta yang akan membawa kami ke tempat tujuan kami.


Dua puluh menit kemudian kereta kami tiba di stasiun. Aku naik kedalam kereta dan diikuti oleh Habibie. Dan kami berdua duduk berdampingan di kursi dengan nomor sesuai dengan yang tertera di tiket yang kami pegang.


Beberapa menit kemudian, kereta kami pun berangkat. Perjalanan jauh pertama kami dan sekaligus akan menjadi perjalanan kami yang terakhir.

__ADS_1


***


__ADS_2