
POV Alifa
‘Ameera? Gadis didepanku ini bernama Ameera? Mungkinkah?’ Pikiranku melayang-layang.
Kupandangi gadis yang tengah menatapku ini. Matanya, hidungnya, bibirnya, dan wajahnya secara keseluruhan memang ada kemiripan. Hanya penampilannya saja yang berbeda. Ameera yang kulihat difoto dalam dompet Habibie tidak berjilbab. Sedangkan gadis didepanku ini nampak lebih islami.
Baru saja beberapa bulan yang lalu aku merasa bahagia karena akhirnya pria yang aku kagumi dan aku harapkan akhirnya menerima perjodohan kami. Satu hal yang tidak aku ketahui saat itu adalah ternyata dia tidak pernah mencintaiku atau bahkan hanya sekedar memandangku. Dia menerima perjodohan ini karena paksaan orang tuanya yang merasa telah hutang budi terhadap Abi yang saat itu baru saja wafat.
Saat itu aku masih mempunyai harapan bahwa dia akan mulai mencintaiku ketika kami sudah menikah. Tapi kenyataannya tidak. Raganya memang bersamaku, tapi tidak dengan hatinya. Hatinya milik orang lain. Walaupun dia memberikanku nafkah bathin, tapi aku tahu kalau dia membayangkan gadis lain saat sedang bersamaku. Dia sering menyebut nama Ameera didalam tidurnya, bahkan setelah kami melakukan hubungan suami istri.
Sakit? Tentu saja. Perempuan mana yang tidak sakit hati mengetahui kalau suaminya mencintai perempuan lain. Bahkan menyebut nama perempuan itu saat bersamanya. Tapi semua itu aku tahan, aku berharap dia akan melupakan perempuan itu.
Selama beberapa bulan menikah dengannya, dia masih tetap berlaku sopan dan memperlakukanku dengan lembut. Tapi bukan itu yang aku inginkan. Aku ingin hatinya, aku ingin cintanya, aku ingin perhatiannya. Justru sikapnya yang terlalu sopan seperti itu mengisyaratkan bahwa aku adalah orang lain, bukan istrinya.
Sampai akhirnya pada tadi malam. Aku tidak sengaja melihat sebuah foto di dalam dompet Habibie. Di dalam foto itu dia sedang bersama seorang gadis. Gadis tersebut nampak tertidur, bersender di pundak Habibie. Nampaknya foto itu diambil Habibie secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan si gadis. Saat itu aku tahu kalau Habibie tidak berniat untuk melupakan gadis yang bernama Ameera itu. Dia juga tidak sedang berusaha untuk mencoba mencintaiku dan menerimaku sebagai istrinya.
Pagi hari aku pamit kepadanya untuk pulang kerumah Umi tanpa mengatakan ataupun bertanya mengenai foto itu. Aku terlalu takut untuk mendengar jawabannya. Tanpa bertanya, dia langsung mengizinkan begitu saja dan hanya meminta maaf karena tidak bisa mengantarkan. Dia sama sekali tidak menyadari atau bahkan tidak mau tahu bagaimana perasaanku. Dan saat aku ingin mencurahkan segala keluh kesahku kepada Umi, aku malah melihatnya disini. Gadis yang ada didalam foto dompet Habibie sedang berdiri dihadapanku saat ini.
“Kok malah melamun?” Suara Umi membuyarkan semua lamunanku.
“Saya kebelakang dulu Umi, sepertinya kalian mau membicarakan sesuatu yang serius, saya takut mengganggu.” Gadis itu pergi ke belakang rumah dengan membawa nampan yang tadi dia pakai untuk membawa dua cangkir teh untuk kami.
“Baiklah, terimakasih yah neng tehnya,” Ucap Umi ketika dia pamit.
“Iya sama-sama.”
Begitu dia pergi, aku bertanya kepada Umi, “dia siapa Umi?”
__ADS_1
“Tadi kan sudah dikenalkan, namanya Ameera,” jawab Umi.
“Iya saya tahu, maksud saya kenapa dia disini? Apakah dia asisten baru Umi?” tanyaku penasaran.
“Bukan, dia bantu-bantu Umi ngurus catering.”
“Umi kenal dimana sama Ameera?” Aku melupakan tujuanku kesini karena lebih tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang Ameera.
“Kamu itu kenapa sih kayaknya penasaran banget sama Ameera. Bukannya kamu tadi bilang ada yang mau dibicarakan?” Umi nampaknya enggan bercerita kepadaku. Aku bingung, harus bagaimana aku mengatakan pada Umi bahwa apa yang akan aku ceritakan ini ada hubungannya dengan Ameera. Tapi sebelum itu aku harus memastikan sesuatu dulu.
“Hemmm ... nanti saja deh Umi, saya capek mau istirahat dulu di kamar, boleh?”
“Tentu saja boleh sayang, tapi jangan dulu tidur, tanggung sebentar lagi dzuhur.”
“Iya Umi.” Aku beranjak bangun menuju kamarku. Ternyata semua yang ada di kamar ini tidak ada yang berubah. Semuanya masih tampak sama seperti dulu.
Pikiranku masih bimbang. Jujur, aku takut jika jawabannya adalah iya. Bagaimana kalau Habibie tahu Ameera ada disini? Mereka pasti pada akhirnya akan bertemu. Bagaimana kalau mereka .... ah, membayangkannya saja aku tidak sanggup.
Sayup-sayup kudengar suara adzan berkumandang. Aku beranjak bangun menuju ke mushola. Tidak kudapati siapapun dirumah. Kemana Umi?
Kudengar ada yang sedang mengobrol di kamar tamu. Perlahan aku berjalan kearahnya. “Sudah adzan, ayo kita sholat dulu neng.” Rupanya suara Umi.
Pandanganku melihat mereka. Umi sedang merangkul bahu Ameera. Sepertinya mereka sangat dekat. Tiba-tiba sebersit perasaan cemburu. Setelah mendapatkan cinta Habibie, kini Ameera juga mendapatkan cinta Umi. Aku sangat iri karena keberuntungnnya. ‘Astaghfirullohaladzim.’ Aku segera tersadar dari pikiran kotor yang sempat memenuhi isi kepalaku. Tidak sepantasnya aku berfikiran sepeti itu.
Aku berusaha untuk mengatur emosiku, kemudian masuk kedalam kamar. “Umi, Ameera, mau sholat berjamaah?” tanyaku. Kulihat gadis itu tersenyum kearahku lalu menganggukkan kepalanya. Senyumnya manis, sesuai dengan wajahnya. Pantas saja Habibie tidak bisa melupakannya.
Usai melaksanakan shalat dzuhur berjamaah, kami menuju meja makan untuk makan siang bersama. Sekali lagi aku harus melihat kedekatan Umi dengan Ameera. Hatiku kembali merasa terbakar. Aku segera beristighfar untuk membuang kembali perasaan itu.
__ADS_1
“Kamu lama disini sayang? Pulangnya sendiri atau dijemput suami?” tanya Umi. Pertanyaan sederhana dan sangat wajar, tapi aku merasakannya berbeda. Pulang? Kenapa Umi bertanya pulang? Tidak kah Umi merasa bahwa aku sudah tidak boleh menganggap rumah ini sebagai tempat untuk ‘pulang’.
“Hemm ... nanti aku tanyakan pada Habibie Umi.” Aku sengaja menyebut nama Habibie dihadapan Ameera. Aku hanya ingin melihat ekspresinya. Dan benar saja, selama sepersekian detik aku melihat perubahan pada air mukanya. Aku semakin yakin kalau gadis dihadapanku ini adalah gadis yang sama. Kenapa tiba-tiba aku merasa dunia begitu sempit?
“Kamu itu yah, sama suami kok panggil nama aja. Walaupun kalian seumuran, tapi kamu harus selalu sopan sama suamimu sayang,” ucap Umi.
Benar yang dikatakan Umi. Tapi aku tidak bisa membahasnya disini, bahwa hubungan kami tidak sedekat itu sehingga kami harus mempunyai nama panggilan lain seperti pasangan suami istri pada umumnya. Selama ini aku merasa Habibie hanya menghormatiku sebagai sesama manusia, tidak lebih.
“Hemmm ... Ameera sudah menikah?” tanyaku seraya mengalihkan pandanganku padanya.
“Belum kak,” jawabnya.
“Sudah ada calon?” tanyaku lagi. Aku hanya ingin memastikan tidak ada alasan Habibie untuk dekat lagi dengannya. Dan aku sungguh kecewa karena dia malah menggelengkan kepala.
“Nanti aku minta Habibie untuk mengenalkan beberapa santri yang mungkin cocok sama kamu.” Sekali lagi aku menyebut nama Habibie dihadapannya. Dan kulihat air mukanya benar-benar berubah. Aku masih bisa melihatnya walaupun dia berusaha menutupinya dengan tersenyum.
“Sudah ... sudah ... kok malah mengobrol.” Umi menengahi obrolan kami.” Nanti saja lanjut ngobrolnya setelah makan. Sekarang segera habiskan makanan kalian.”
***
__ADS_1