
“Nama ibunya siapa?”
“Ameera puspita.”
“Nama ayahnya siapa?”
Sejenak aku terdiam, bingung harus menjawab apa. “Nama ayahnya ... nama ayahnya Heru dokter.”
“Baik, silakan bu Ameera berbaring disana. Kita lihat janinnya sama-sama yah,” ucap dokter tersebut.
Sesuai rencana, hari ini Umi Salmah mengantarkanku ke dokter kandungan. Sebenarnya aku tidak mau, tapi Umi tetap memaksa, katanya demi kesehatan janin.
Dokter muda yang bernama Yesi itu mengoleskan gel di permukaan perutku. Perlahan ia menggerakkan transducer menjelajahi perut bawahku. Malu rasanya memperlihatkan bagian tubuh yang biasa tertutupi di hadapan orang lain. Untung saja Umi Salmah memilihkan dokter wanita untukku.
“Janinnya alhamdulillah sehat bu. Ibu bisa lihat disini yah.” Pandanganku tertuju ke arah layar yang memperlihatkan janin didalam perutku. “Usianya sekitar lima minggu ya bu. Jadi belum terlihat jenis kelaminnya. Ini kehamilan pertama bu?”
“Iya dokter,” jawabku. Dokter Yesi membereskan kembali pakaianku.
“Saya tuliskan resep vitaminnya yah. Nanti diminum secara teratur ya.”
“Baik dokter.”
“Saran saya awal-awal kehamilan jangan dulu berhubungan suami istri yah, masih rentan. Nanti sampaikan sama suaminya. Saya lihat bu Ameera ini masih muda. Pasangan muda biasanya masih hangat-hangatnya, hihihi ....” Dokter Yesi dengan santainya memberikan wejangan. Tidak menyadari kalau aku yang diajak bicara sudah merasa kikuk.
“Baik dokter, kalau begitu kami permisi dulu,” ucap Umi Salmah. Umi nampaknya mengerti kekikukanku.
“Jangan lupa kesini lagi sesuai tanggal yang sudah saya tulis di buku yah.” Pesan dokter Yesi sebelum kami pulang.
***
“Bagaimana perasaan kamu sekarang?”
“Saya baik-baik saja Umi.”
“Bayi kamu sepertinya mengerti keadaan ibunya, tidak rewel. Biasanya ibu yang hamil muda itu suka mual-mual di pagi hari. Tapi selama ini Umi lihat kamu sama sekali tidak terganggu dengan kehamilan kamu. Kamu masih aktif bekerja, dan kadang Umi lihat kamu suka berlari-lari kecil kesana kemari.” Umi Salmah nampak terkekeh mengingat kelakuanku.
“Iya Umi alhamdulillah,” ucapku seraya mengelus-elus perutku yang sudah mulai terlihat.
__ADS_1
“Neng, sekarang kan kandungan kamu sudah memasuki usia empat bulan, biasanya disini kalau ibu hamil suka ngadain acara empat bulanan neng. Apa sebaiknya kita juga—“
“Tidak Umi, tidak usah.”
“Di usia empat bulan dalam kandungan itu janin diberi ruh, kamu suka merasakan dia bergerak-gerak gak?” tanya Umi Salmah seraya mengelus-elus perutku.
Aku mengingat-ingat kembali, rasanya aku tidak pernah merasakan pergerakan apapun. Atau mungkin akunya saja yang tidak peka. Selama ini aku jarang memperhatikan perutku sendiri, selain pada ukurannya yang sedikit cembung. “Rasanya tidak Umi.”
“Mulai sekarang kamu sering-sering baca ayat suci alquran, nanti bayi kamu mendengarkan. Mudah-mudahan nanti anak kamu bisa jadi anak yang shaleh, yang bisa menjadi jalan kamu menuju surganya Allah.”
Aku tertawa mendengar nasehat Umi Salmah, “ Hihihihi ... memangnya bayi yang masih didalam perut bisa mendengar kita Umi? Umi ini ada-ada saja.”
“Eh, kamu jangan salah. Coba saja nanti kamu ajak ngobrol bayinya, sambil usap-usap perut kamu, nanti bayi kamu bereaksi.”
“Benarkah? Hihihi ... lucu sekali yah. Sampai saat ini saya masih tidak menyangka kalau sebentar lagi saya akan menjadi seorang ibu Umi. Seandainya saja bayi ini hadir dalam sebuah pernikahan, pasti saya akan sangat bahagia.” Mataku berkaca-kaca membayangkan nasib anak yang sedang aku kandung kedepannya. “Menurut Umi bagaimana nasib anak ini nanti? Bagaimana kalau masyarakat tidak menerimanya? Saya takut anak ini akan di cap sebagai anak haram.”
“Nasib seseorang itu sudah ada yang mengatur neng. Kita sebagai manusia hanya bisa berbuat yang terbaik. Sisanya serahkan pada sang pemilik kehidupan.”
Kupandangi wajah wanita disampingku ini. Seorang ibu yang tidak ada hubungan darah denganku, tapi begitu peduli padaku. Seorang wanita yang menarikku dari kehinaan dan keputus asaan. Ya Allah terimakasih karena telah mengirim Umi Salmah dalam hidupku.
“Oh iya Umi, bagaimana kabar putrinya Umi?” tanyaku mengalihkan perhatian.
“Wah ... besan Umi ternyata punya pesantren yah?”
“Iya neng, besan Umi itu dulu sahabatnya almarhum suami Umi, teman kuliah. Mereka berdua ingin hubungan persahabatan mereka itu jadi hubungan keluarga.”
“Jadi mereka dijodohkan Umi?”
“Ya bisa dibilang begitu.”
“Tapi kok putrinya Umi mau yah? Maaf yah Umi, tapi kan sekarang bukan jamannya lagi jodoh-jodohan.”
“Kami hanya mengarahkan neng. Tidak serta merta ketemu langsung kami nikahkan. Berhubung keduanya merasa cocok ya akhirnya kami nikahkan. Tapi tentu saja sebelumnya sudah taaruf dulu. Sayang sekali abinya tidak bisa menyaksikan pernikahan putrinya. Keburu dipanggil sama Allah.” Umi Salmah nampak berkaca-kaca mengenang almarhum suaminya.
“Umi pasti sedih ya, baru ditinggal suami, trus ditinggal putri satu-satunya. Umi tidak kesepian?”
“Umi tidak sempat untuk merasa kesepian neng. Begitu Umi mengantarkan putri Umi ke keluarga barunya, Allah mengirim kamu kepada Umi.” Umi Salmah tersenyum kearahku seraya mengelus-elus kepalaku.
__ADS_1
“Umi, nanti kalau anak saya lahir, Umi yang kasih nama yah?”
“Iya neng insyaallah.”
Ketika kami sedang asyik berbincang, tiba-tiba terdengar suara mobil mendekat. Lalu berhenti tepat didepan rumah Umi Salmah.
“Assalamualaikum Umi.” Seorang gadis yang mengenakan gamis serta jilbab lebar masuk kedalam rumah.
“Waalaikum salam.” Umi Salmah beranjak dari tempat duduknya untuk menghampiri tamu yang baru saja datang. “Sayang, kamu pulang kok tidak telfon dulu Umi. Mana suami kamu?” Rupanya yang datang adalah putrinya Umi Salmah.
Bukannya menjawab, putrinya Umi Salmah malah menghambur kedalam pelukannya Umi dan kemudian menangis. “Saya datang sendiri Umi, suami saya—“ Ia menghentikan kalimatnya begitu menyadari keberadaanku seolah bertanya “siapa dia?”
Aku yang merasa kalau keberadaanku mengganggu mereka segera bangun dan pamit kebelakang untuk mengambilkan minum.
Aku kembali sambil membawa nampan berisi dua gelas teh manis hangat. Melihat dua ibu dan anak yang sedang berbicara serius, aku jadi ragu untuk menghampiri mereka. Hari ini mba Lusi tidak datang karena katanya suaminya sedang sakit, jadi mau tidak mau aku harus mengantarkan nampannya sendiri. Mereka berdua menghentikan obrolannya begitu melihat kedatanganku.
Sekilas kulihat wajah putrinya Umi Salmah, nampak familiar dimataku. Pernahkah kami bertemu? Tapi rasanya tidak mungkin. Sudah jelas kami lahir dan besar dilingkungan berbeda. Dia yang lulusan S2 tidak mungkin satu pergaulan denganku yang seorang buruh pabrik, mantan buruh pabrik maksudnya yang sekarang jadi pegawai catering di rumah Umi Salmah.
“Oh iya neng, ini putri Umi satu-satunya.” Umi Salmah memperkenalkanku pada putrinya.
Gadis cantik bermata sembab itu mengulurkan tangannya kearahku, dan kemudian segera ku sambut.
“Ameera.”
“Alifa.”
DEG ... DEG ... DEG ...
Mata kami bertemu. Kami saling bertatapan dalam diam. Alifa menatapku dengan pandangan yang sulit kuartikan.
***
__ADS_1