CERITA CINTA AMEERA

CERITA CINTA AMEERA
PART 8


__ADS_3

Beberapa hari setelah aku menyarankan Nita untuk melanjutkan pendidikannya, Nita mencari referensi tempat kuliah yang menyediakan kelas karyawan. Dia berfikir untuk kuliah sambil bekerja agar tidak membebani kedua orang tuanya. Sebentar lagi tahun ajaran baru, otomatis semua perguruan tinggi pun menerima mahasiswa baru


juga. Nita nampak sangat serius mempersiapkan diri untuk kuliah. Dia bahkan sudah mulai membaca kembali pelajaran-pelajaran yang dia terima di Sekolah Menengah Atas. Dia juga membeli sujumlah buku soal-soal tes masuk perguruan tinggi.


‘Semoga usahamu ini membuahkan hasil Nit’ doaku tulus.


Ketukan di pintu berhasil mengalihkan perhatianku dari Nita yang sedang belajar. Aku beranjak dari dudukku untuk kemudian membukakan pintu. Wajah Umar muncul dibalik pintu sesaat setelah aku membukanya.


“Umar, ada apa malam-malam kesini?” tanyaku


“Bisa ikut sebentar Bu?” ajak Umar seraya menarik tanganku ke arah teras kostan. Aku mengikuti langkahnya setelah melepaskan cengkaraman tangannya. Di luar ada beberapa orang sedang berkerumun, ku hitung ada empat orang disana. Mereka berempat menoleh kearah kami ketika kami sampai di teras kostan. Salah satu


diantaranya menyerahkan sebuah gitar kepada Umar. Rupanya mereka berempat adalah teman-teman Umar. Umar berdiri didepan mereka berempat dan kemudian mereka berlima menghadap ke arahku. Umar mulai memetik senar-senar pada gitar dan menyanyikan sebuah lagu.


“Dengarkanlah wanita pujaanku


Malam ini akan kusampaikan


Hasrat suci kepadamu dewiku


Dengarkanlah kesungguhan ini


Aku ingin mempersuntingmu


Tuk yang pertama dan terakhir


Jangan kau tolak dan buatku hancu


Ku tak akan mengulang tuk meminta


Satu keyakinan hatiku ini


Akulah yang terbaik untukmu


*Dengarkanlah wanita impianku


Malam ini akan kusampaikan


Janji suci satu untuk selamanya


Dengarkanlah kesungguhan ini


Jangan kau tolak dan buatku hancur


Ku tak akan mengulang tuk meminta

__ADS_1


Satu keyakinan hatiku ini


Akulah yang terbaik untukmu


Akulah yang terbaik untukmu*”


(Janji Suci – Yovie n Nuno)


Usai Umar menyelesaikan lagunya semua orang yang menonton pertunjukkan dadakan ini bertepuk tangan. Rupanya sedikit keributan yang Umar ciptakan menarik perhatian para penghuni kostan yang lain, termasuk Nita. Aku pun tidak menyadari sejak kapan mereka mulai menonton. Umar terlihat berbalik kearah teman-temannya dan memberikan sebuah kode. Lalu teman-temannya masing-masing membentangkan selembar kertas karton. Kubaca perlahan tulisan yang tertera disana ‘WILL YOU MARRY ME’


“Ameera puspita, maukah kamu menikah denganku?” tanya Umar seraya berjongkok dihadapanku dan menyodorkan sebuah kotak terbuka yang bertenggerkan sebuah cincin cantik disana.


Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, menoleh ke kanan dan ke kiri, dan akhirnya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Umar. Dan semua penghuni kostan kembali bertepuk tangan. Umar pun berdiri dan memakaikan cincin di jari manis tangan kiriku. Dan penonton pun bertepuk tangan untuk yang kedua kalinya. Mereka menyalami kami berdua sambil mengucapkan selamat.


‘Apa-apaan sih mereka ini, kami kan bukan sepasang pengantin’ gerutuku dalam hati.


Akhirnya para penonton dadakan tersebut membubarkan diri dengan tertib. Tinggal aku, Umar, Nita, dan keempat teman Umar yang masih ada disana. Kami semua duduk di teras kostan. Aku beranjak berdiri hendak membelikan minuman untuk kami semua setelah sebelumnya berpamitan terlebih dahulu.


Aku kembali dengan membawa enam botol minuman dingin dan memberikannya satu kepada masing-masing orang, “minum gih, kamu pasti capek udah nyanyi-nyanyi tadi” kataku kepada Umar seraya menyerahkan sebotol minuman untuknya.


“Ciiieee”


“Ciiieee”


“Ciiieee”


Umar nampak melirik tajam kearah teman-temannya. Sepertinya Umar memberikan sebuah kode kepada teman-temannya karena setelah itu mereka semua beringsut menjauh dari kami. Nita yang nampak memahami situasi pun pamit untuk kembali ke kamar. Dia berkata akan kembali melanjutkan pelajarannya yang sempat tertunda.


“Nita masih kuliah Bu?” tanya Umar


“Belum, baru mau” jawabku jujur yang dibalas dengan anggukan oleh Umar


Kulihat Umar tengah memperhatikan cincin yang kupakai, “makasih yah Bu udah nerima lamaran aku,” katanya kemudian


Aku mengikuti kemana arah Umar memandang. Kuusap-usap cincin yang terpasang dijari maris tangan kiriku dengan menggunakan ibu jari tangan kananku, “kamu seharusnya tidak melakukan semua ini Umar,” kataku pada akhirnya


“Aku hanya ingin menunjukkan keseriusan aku Bu, aku ingin kamu percaya bahwa aku bener-bener sayang sama kamu. Mereka saksinya” seraya menunjuk keempat temannya yang tengah mengobrol tak jauh dari kami.


Aku hanya menundukkan kepala tanpa menyanggah apapun yang Umar katakan. Aku harus berdamai dengan hatiku sendiri. Mungkin benar apa yang dikatakan Nita, aku sebenarnya adalah orang yang beruntung. Aku kembali meyakinkan hatiku sendiri bahwa Umar adalah pria yang baik yang pantas untuk dijadikan suami. Sedikit demi sedikit aku harus mengikis keraguan dihatiku sendiri.


“Jadi kapan kita akan menemui kedua orang tua kamu Bu?” tanya Umar memecah lamunanku


“Untuk apa?” tanyaku panik


“Ya tentu saja untuk meminta restu kepada calon mertua aku lah, kamu ini gimana sih” jawabnya.

__ADS_1


Orang tua? Restu? Calon mertua? Astaga apa-apaan ini. Baru saja aku berdamai dengan hatiku sendiri, dan sekarang aku harus menghadapi kedua orang tuaku juga. Tanpa terasa aku memijat keningku yang tiba-tiba terasa pusing.


“Aku akan menelpon mereka terlebih dahulu, kamu tunggu kabar dari aku aja yah” pintaku pada Umar. Umar nampak mengangguk menanggapi ucapanku


“Oh iya Bu, hemmm ...,” Umar tampak ragu untuk melanjutkan kalimatnya, “kamu kapan akan mulai memanggilku dengan panggilan ayah?” tanyanya nampak berharap.


Aku membelalakkan mata mendengar pertanyaan Umar. Hari ini banyak sekali permintaan Umar kepadaku. Mulai dari lamarannya, terus permintaan untuk bertemu dengan kedua orang tuaku, dan sekarang dia kembali mengingatkanku pada panggilan sayang yang dulu dia minta saat kami pertama menjalin hubungan. Tiga, iya cuma tiga, tapi terasa banyak sekali menurutku.


“Hemm, nanti kalau kita sudah menikah” jawabku mencari aman. Kulihat senyuman terkembang dibibir Umar. Nampaknya dia sangat senang dengan jawaban yang kuberikan.


“Yaudah aku pulang dulu yah Bu, udah malem takut ganggu yang lain” pamitnya yang kujawab dengan anggukan kepala. Kami berjalan beriringan untuk menghampiri teman-teman Umar yang masih terlihat asyik mengobrol. Setelah berbasa-basi sebentar akhirnya mereka berlima pergi dari kostanku. Aku segera masuk ke kamar kostku setelah sebelumnya membereskan bekas botol minuman untuk dikembalikan kepada pemilik warung.


Aku mendapati Nita masih berada didalam kamar kostku. Nampak sekali dia sedang serius membaca buku yang sedang dipegangnya, bahkan kedatanganku pun tidak disadarinya.


“Dor ...,”


Nita nampak kaget, “astaga Meeraaaa,” katanya seraya mengelus dadanya


“Serius banget sih, sampe aku masuk aja dicuekin” kataku seraya mengintip kedalam buku yang dibaca Nita


“Iya nih Ra, banyak banget yang harus aku pelajari lagi, terlalu lama lulus membuatku sedikit lupa sama pelajaran di sekolah”


“Kita baru lulus dua tahun yang lalu Ta,” ralatku, “masih hangat lah” lanjutku


Nita nampak sedikit murung, “menurut kamu aku bisa gak yah Ra?” tanyanya putus asa


Aku mendekat kearah Nita, “kamu pasti bisa Nit, kamu harus yakin bahwa setiap usaha pasti membuahkan hasil” kataku meyakinkannya. Dia nampak tersenyum mendengar ucapanku.


“Trus gimana hubungan kamu sama Umar Ra? Kapan kalian akan menikah?” tanyanya mengalihkan pembicaraan


“Umar pengen menemui orang tua aku dulu Nit, katanya sih mau minta restu. Tadi sih dia belum bilang kapan-kapannya, tapi sepertinya dia pengennya cepet-cepet deh” jawabku


“Akhirnya kamu bisa menghilangkan keraguan kamu yah Ra”


“Mengikis sedikit demi sedikit Nit, bukan menghilangkan keseluruhannya”


“Artinya kamu masih meragukan Umar?”


“Aku tidak pernah meragukan Umar Nit, aku ragu pada diriku sendiri”


“Apa yang membuatmu ragu Ra?”


“Entahlah Nit, aku hanya merasa ada yang salah dalam diriku. Aku merasa ada sesuatu, dan aku tidak tahu apa itu. Setiap aku berhubungan dengan seseorang aku selalu merasa ragu untuk melangkah Nit, bukan hanya dengan Umar, tapi semuanya”


“Apa kamu sedang menunggu pria lain?”

__ADS_1


Pertanyaan Nita membuatku menoleh kearahnya. Menunggu pria lain? Siapa? Siapa yang aku tunggu? Tiba-tiba sekelebat bayangan seorang pria yang tengah tersenyum kepadaku muncul dikepalaku begitu saja dan kemudian segera kutepis.


__ADS_2