
Aku sudah duduk disamping Habibie di dalam mobilnya. “Umi kok belum keluar juga ya? Katanya mau ikut mengantar ke dokter. Aku panggil Umi dulu yah A.” Baru saja aku akan membuka pintu mobil, nampak Umi berjalan ke arah kami. Tapi Umi tidak sendiri, disampingnya berjalan juga seorang gadis yang sudah seperti putri kandung Umi, Ameera.
“Maaf menunggu lama. Umi sekalian ajak Ameera, dia juga mau cek kandungan.” ucap Umi seraya masuk kedalam mobil.
Habibie segera melajukan mobil yang kami tumpangi. Sepanjang perjalanan kulihat Habibie masih saja curi-curi pandang kearah spion. Apa yang dilihatnya? Ah kenapa pula aku masih bertanya, sudah jelas pasti Habibie sedang memperhatikan Ameera.
Akhirnya perjalanan tidak nyaman kamipun berakhir. Kami sampai di parkiran rumah sakit. Umi berjalan berdampingn dengan Ameera. Aku menyusul dibelakangnya bersama Habibie.
Aku menghentikan langkahku karena tiba-tiba perutku terasa mual. Bau khas rumah sakit membuatku sangat terganggu. Aku segera menutup mulutku dengan tangan agar tidak sampai muntah di lantai rumah sakit.
“Kamu kenapa sayang? Mual lagi?” Umi yang menyadari aku sedang tidak baik-baik saja segera menghampiriku. “Ayo Umi antar ke toilet.” Tanpa menunggu persetujuanku, Umi langsung memapahku.
Begitu sampai di toilet aku segera mengeluarkan kembali sarapan pagiku yang belum sempat dicerna dengan baik. Dan tentunya dengan bentuk dan aroma yang berbeda. Umi dengan telaten menyusap-usap pundakku penuh kasih sayang.
Tiba-tiba terfikir olehku, apakah Ameera juga mengalami hal serupa. Dan apakah Umi juga memperlakukan Ameera sama dengan yang Umi lakukan padaku saat ini? “Umi, apakah semua wanita Hamil seperti ini? saya lihat Ameera tidak pernah muntah-muntah parah seperti ini.” tanyaku seraya menyeka mulutku dengan tisu pemberian Umi.
“Kondisi kehamilan setiap ibu itu berbeda-beda sayang,” ucap Umi seraya memapahku kembali keluar toilet. “Sejauh ini kehamilan Ameera memang tidak mengganggunya. Dia tidak mual dan muntah seperti kamu sekarang. Dia juga masih bisa beraktifitas normal. Bahkan Umi beberapa kali harus menegurnya karena dia suka berlari-lari.” Aku hanya tersenyum masam mendengar Umi begitu bersemangat menceritakan Ameera.
“Oh iya Umi, dimana suami Ameera?”
Umi menghentikan langkahnya dan menatapku sejenak, “maaf sayang, Umi tidak berhak untuk berbicara tentang itu.”
Aku tahu Umi bukan tipe orang yang suka membicarakan orang lain. Apalagi jika itu adalah sebuah aib. Tapi bukannya hal yang kutanyakan adalah sesuatu hal yang wajar. Aku hanya bertanya dimana suami Ameera. Karena sejauh ini aku belum pernah sekalipun melihatnya atau hanya mendengar Ameera bercerita tentangnya. Ah aku lupa, aku bahkan tidak seakrab itu dengannya hingga dia harus bercerita tentang kehidupan pribadinya.
Aku dan Umi sedang berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju ke ruangan dokter Yesi saat kulihat pemandangan yang begitu menggangguku. Kulihat Habibie disana, berdiri disamping Ameera. Dan didepannya berdiri seorang perempuan dengan jas putih yang kuyakini adalah dokter Yesi. Ameera selesai melakukan cek kandungan? Dan Habibie mendampinginya? Kenapa mereka berdua terlihat seperti sepasang suami istri?
“Sayang kok berhenti? Kenapa? Mual lagi?” pertanyaan Umi berhasil membuyarkan lamunanku. Aku melanjutkan kembali perjalananku yang sempat terganggu.
“Assalamualaikum dokter Yesi,” sapa Umi.
“Waalaikum salam Umi,” jawab dokter Yesi.
__ADS_1
“Bagaimana perkembangan janin Ameera dokter?” Ternyata Umi begitu perhatian terhadap Ameera.
“Janinnya berkembang dengan baik Umi. Saya sudah meresepkan beberapa vitamin untuk bu Ameera konsumsi.”
“Alhamdulillah,” ucap Umi lega, “ini putri saya Alifa dokter, dia juga akan melakukan cek kandungan.”
“Baik, silakan masuk.” Aku masuk kedalam ruangan dokter Yesi bersama Habibie. Kulihat raut wajah dokter Yesi datar. Tidakkah dia penasaran tentang Habibie? Tidakkah dia penasaran mengapa Habibie mengantar dua orang wanita hamil bersamaan?
Setelah menanyakan identitas, dokter Yesi mempersilakanku untuk berbaring diatas tempat tidur. Ia akan memulai proses USG. Dokter Yesi nampak sangat telaten memeriksaku hingga kulihat raut wajahnya berubah.
“Bagaimana keadaan janin saya dok?” tanyaku begitu dokter Yesi mempersilakan kami duduk kembali.
“Maaf saya harus menyampaikan berita yang kurang bagus,” ucap dokter Yesi.
“Apa ada sesuatu yang terjadi dengan janin saya dokter?” tanyaku cemas.
Dokter Yesi hanya menggeleng sebagai jawaban, “Bu Alifa tidak sedang mengandung. Saya tidak menemukan adanya janin dalam rahim ibu.”
“Oh begitu yah.” Aku sungguh kecewa mendengar pernyataan dari dokter Yesi. Aku terlalu bersemangat mendengar ucapan Umi sehingga tidak menyadari kemungkinan ini. “Tidak apa-apa dokter. Mungkin Allah belum mentakdirkan kami memiliki keturunan saat ini.”
DEG ...
“Ma-maksud dokter?”
“Dari gejalanya saya lihat kemungkinan ibu terkena kanker hati. Tapi untuk lebih jelasnya sebaiknya ibu perikasakan diri ke dokter spesialis penyakit dalam.”
Aku sudah tidak kuasa membendung airmata yang mengalir dengan derasnya. Habibie hanya diam menatapku iba. Dia meraihku dalam pelukannya. Untuk pertama kalinya aku merasa Habibie menyayangiku.
Bagaimana mungkin aku terkena kanker hati? Aku mengidap penyakit yang sama yang telah merenggut nyawa Abi. Aku tersedu-sedu beberapa saat hingga akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari ruangan dokter Yesi.
“Haruskah kita memberitahukan hal ini kepada Umi A?” tanyaku pada Habibie.
__ADS_1
“Tentu saja, Umi berhak tahu apa yang terjadi pada putrinya.”
“Tapi apakah Umi akan baik-baik saja. Aa tahu kan rasanya baru kemarin Abi meninggal gara-gara kanker hati, sekarang akupun ternyata mengidap penyakit yang sama. Apakah sebentar lagi aku juga akan menyusul Abi?”
“Jangan mendahului ketetapan Allah. Jika Allah menghendaki kamu sembuh, kamu pasti sembuh. Jika Allah menghendaki kamu untuk—“
“Jika aku meninggal, akankan Aa menikah dengan Ameera?”
“Kenapa disaat seperti ini kamu menanyakan hal seperti itu?”
“Jawab saja A!”
Habibie hanya menatapku sejenak tanpa ada keinginan untuk menjawab pertanyaanku. “Sebaiknya kita temui Umi sekarang.”
***
“Astaghfirullohaladzim ....” Umi begitu sedih dan terpukul mendengar berita yang disampaikan oleh putri semata wayangnya ini. Umi nampak mulai meneteskan air mata.
“Yang sabar Umi, kita masih bisa berikhtiar untuk kesembuhan Alifa. Besok saya berencana akan membawa Alifa ke dokter spesialis penyakit dalam,” ucap Habibie mencoba menenangkan.
“Hari ini sebenarnya Umi berharap akan mendapatkan berita baik. Berita tentang kedatangan seorang cucu. Tapi ternyata—“ Umi masih berbicara tentang cucu disela tangisnya.
“Sabar Umi, ini sudah ketetapan Allah.” Habibie masih bersikap tenang menghadapi kami berdua.
Saat ini untuk pertama kalinya aku melihat peran Habibie sebagai seorang suami. Aku mulai merasa kalau Habibie kini melihatku bukan hanya sekedar bersikap kepada sesama manusia saja. Lebih dari itu, kini aku melihat perhatian dan kehawatiran di mata Habibie. Mungkinkah penyakitku ini menumbuhkan cinta dihatinya untukku? Jika iya, aku sangat beruntung mengalami semua ini. Terimakasih ya Allah. Jika setelah ini engkau memanggilku, aku sungguh ikhlas.
***
__ADS_1