Cherry Blossom

Cherry Blossom
Memory Of Piano


__ADS_3

Setelah makan siang, Aku tiba di Mansion Edgar. Lalu membagikan hadiah dan jajanan khas Jepang untuk di bawa pulang Keluarga besar Edgar. Tetapi yang ku dapatkan malah cemoohan.


"Apa Edgar tidak memberikanmu uang? Kalau ini sih kita bisa beli dan malah sudah beli," ucap Silvia. Tante yang sedari tadi terus mengatai keburukanku dan mencibir apa yang ku lakukan


"Oh maaf Tante, aku pikir Tante belum membelinya. Aku buru-buru dan tidak sempat menuju tempat oleh-oleh yang lain," aku mengatakan alasanku agar Edgar juga tidak dipermalukan.


"Harusnya kau itu membelikan kami Kimono," ucap Silvia


"Aku juga ingin Yukata jika kau tidak keberatan," ucap Gonzales paman Edgar yang paling muda. Adik dari Ayahnya. Terkadang aku sering tertukar nama antara Maxime dan Gonzales karena wajahnya mereka hampir mirip


"Haha besok kita bisa membelinya, masih ada waktu kan?" ucap Ayahnya Edgar


Setelah itu aku meminta pelayan untuk mempersiapkan kamar tamu agar mereka bisa beristirahat.


Pesta akan dimulai malam nanti dan aku sudah mulai malas karena sikap mereka. Ku pikir semuanya akan berlaku baik rupanya, saling tersenyum palsu.


Edgar menelepon ku berkali-kali, tak ku angkat. Aku pun diam di kamar, tak ada yang ku lakukan. Semua rumah sudah bersih, tak ada debu tak ada sampah lantai, tak ada yang berantakan


Ku intip dari kaca jendela, di bawah Poky sedang memasang tenda lalu beberapa pelayan membawakan alat panggang kesana.


Aku lupa pesta nanti malam adalah pesta Barbeque.


Aku ingin ke bawah dan ikut membantu Poky mendirikan tenda dan menyiapkan pesta. Tetapi Edgar menelepon lagi jadi aku pun mengangkatnya seraya turun ke bawah.


Ku angkat dengan malas


"Hallo," ucapku


"Kenapa kau datang terlambat, dan bukannya menemuiku malah pulang! Sekarang Kau dimana?" tanya Edgar ketus


Ku bikin saja alasan.


"Maaf, aku terlambat karena menemani saudaramu dahulu. Lalu aku buru-buru ke kantormu dan menyebabkan aku kesakitan lagi. Jadi aku langsung pulang saja. Aku di kamar sekarang....Ahh sakit sekali," ucap ku dan sengaja mengeluh kesakitan.


Padahal obat yang diberikan dokter Jepang itu sangat manjur. Aku sudah tidak merasakan sakit lagi. Bengkaknya pun sudah kempes.


"Benarkah? Jangan lupa minum obatnya," ucap Edgar yang langsung berkata lembut.

__ADS_1


Apa dia khawatir?


"Iya.... Terimakasih sayang," ucapku sengaja mengatakan kata sayang agar dia tidak marah.


Tapi, Dia menutup telepon tanpa membalas perkataan ku. Setelah itu aku menyimpan ponsel dalam saku dan menghampiri Poky.


"Aku bantu ya," ucapku memegang tenda


"Ah tidak usah, biar aku dan para pelayan saja," tolak Poky


"Kalau dibantu maka pekerjaan akan cepat selesai," ucapku


Akhirnya Poky memberikan ijin


"Jadi pestanya di kebun belakang?" tanyaku


"Ya, ini ideku. Bagus kan hahaha," ucap Poky tertawa riang


"Bagus sekali," Puji ku. Tak berapa lama tenda telah terpasang.


Poky membuat 4 tenda hingga ke ujung dan kini telah selesai. Taman masih agak kosong mungkin belum semua di tata.


Meja taman itu sudah bersatu dengan kursinya, terbuat dari kayu dan bisa di tutup atau di angkat. Meja itu tadinya ada di ujung kemudian dipindahkan ke tengah.


Pelayan mulai membawakan piano.


"Kau harus membawakan satu musik untuk kita semua," ucap Poky memaksaku


"Ahh aku tidak. Aku sudah sedikit lupa... " ucap ku


"Maka dari itu belajarlah sekarang," ucap Poky tersenyum lalu dia mendekati pelayan yang baru saja membawakan piano besar serta tempat duduknya.


Poky mengarahkan letaknya sedikit lalu dia mulai duduk dan memainkan musik. Aku mendekatinya, benar-bener merindukan alunan piano. Aku tak pernah bermain piano lagi setelah menjual piano itu karena ku rusak sendiri dengan tanganku.


Aku ingat betapa frustasinya aku ketika orang tuaku bercerai. Saat itu Aku mainkan beberapa lagu sambil menangis menyakiti jari-jariku dan berakhir kemarahan. Ku gulingkan piano itu dan berteriak keras seperti orang gila.


Broken home tidak adil untuk kami para anak. Itulah yang terjadi saat itu. Alunan piano yang dimainkan Poky membuatku meneteskan air mata.

__ADS_1


Poky melihatku menangis dan dia menghentikan permainannya


"Kenapa kau menangis? Apa lagu ini mengingatkan masa lalu yang menyedihkan untukmu?" tanya Poky seraya mengusap air mataku dengan tangannya


Sebelum ku menjawab, ku lihat Edgar yang berdiri bersandar di pilar teras halaman belakang. Setelah itu Edgar pergi dengan sinis. Ku pastikan dia akan marah setelah ini. Baguslah jika dia marah, setidaknya tujuanku untuk membuatnya cemburu tersalurkan padahal aku tidak berniat mendekati Poky untuk membuatnya cemburu.


"Hmm terimakasih, aku... iya aku teringat saat dimana Ibuku meninggalkan aku dan adikku," ucapku


Setelah itu Aku duduk di kursi yang jadi satu dengan mejanya. Poky duduk di bangku piano. Kami saling bercerita. Lalu bercanda tawa melupakan kesedihan, mengingat kejadian lucu saat kami Les piano, lebih tepatnya saat kami duduk di bangku Sekolah Dasar hingga bangku Sekolah Menengah Pertama.


Hari menjelang Sore. Aku pun selesai berbincang dengan Poky. Sementara keluarga yang lain tidak terlihat, mungkin mereka beristirahat.


Aku masuk ke kamar berniat membersihkan diriku. Tidak ada Edgar di sana, dengan leluasa aku bisa mandi tanpa diganggu olehnya.


Usai itu aku memakai pakaian terindah yang baru ku beli beberapa bulan lalu. Gaun yang sederhana, belum pernah ku pakai bahkan masih ada label harganya. Bukan baju bermerek namun itu adalah koleksi terakhir dari sahabatku sebelum ia meninggal dunia.


Kini wanita tercantik adalah diriku, ku puji diriku sendiri tetapi ada satu hal yang kurang, perhiasan. Ku buka satu set kotak berisi perhiasan yang diberikan Edgar padaku. Ku pilih satu yang paling ku suka, rantainya kecil dan bermata pink dengan bentuk bunga seperti sakura.


Tak terasa hari sudah gelap, rupanya berdandan itu membutuhkan waktu yang lama. Aku pun segera turun untuk menemui yang lain.


Rupanya dibawah sudah ramai, dan ada Edgar disana berbincang dengan yang lain. Ku perhatikan pakaian yang ia kenakan, setelan kemeja berwarna Navy. Tidak memakai jas karena pesta ini sedikit ringan. Tapi yang menjadi pertanyaan, di mana dia berganti pakaian? Karena sedari tadi dia tidak dikamar.


Poky menghampiriku yang baru turun dari tangga, dia merentangkan tangan dan membantu ku untuk turun. Padahal aku bisa sendiri. Aku semakin was-was, karena ku lihat Edgar memperhatikan diriku dan Poky.


Sesaat setelah aku berkumpul dengan yang lain. Ayah Edgar memimpin pesta. Aku pun membaur dengan yang lain, tawa bersama kecuali dengan Edgar. Pria itu memilih menjauh dari ku dan menjadi koki kami. Poky juga membantu Edgar memanggang daging


Mamanya Edgar mempersilahkan aku memainkan piano, sembari menunggu dagingnya matang. Akhirnya aku memainkan lagu yang menyedihkan, sesuai hatiku kini.


Ku pilih lagu Evanescence yang berjudul Solitude. Ku mainkan irama pianonya beberapa orang memperhatikan namun tidak tante Silvia. Dia pun menyela.


"Sorry Zoya, aku tidak tahu lagu apa yang kau mainkan bisa kau menyanyikan sedikit?" sahut Silvia dan langsung ku iyakan keinginannya.


Jujur saja aku tidak pandai bernyanyi tetapi ku usahakan memainkan piano sembari bernyanyi.


Aku sengaja memilih lagu ini untuk menyindir Edgar, liriknya sama persis dengan kehidupanku. Semoga Edgar bisa memahaminya.


Akhir dari lagu itu, entah mengapa ku rasakan sedikit lega dan tanpa sengaja aku meneteskan air mata.

__ADS_1


Oh tidak semoga semua orang tidak mengetahuinya.


Semuanya bersorak dan bertepuk tangan, ada satu yang menganggu pemandangan ku. Edgar terus memperhatikan ku. Entah sejak kapan, mungkin juga dia melihat aku menangis. Semoga tidak, karena Aku langsung teringat perkataan Xiaonian kalau Edgar tidak menyukai wanita yang cengeng.


__ADS_2