Cherry Blossom

Cherry Blossom
Soal Wasiat


__ADS_3

"Lalu apa rencanamu sayang?" tanya Delta dengan suara pelan dan sedikit tersendat. Sepertinya dia sedang keenakan oleh sesuatu.


"Belum kupikirkan tapi setelah Edgar meninggal, akan ku pastikan Zoya menikah dengan poky dan ku serahkan semua hartanya pada mu dan poky," ucap Ayahku yang membuatku terkejut


Jadi orang yang mencelakai Edgar adalah Ayahnya sendiri. Lalu kenapa dia menyuruh Edgar menikah denganku kalau dia tidak mau memberikan hartanya pada Edgar. Aku sungguh bingung. Aku harus menemui pengacara Edgar yang menangani hartanya. Tapi Aku harus bertanya dengan siapa? Aku takut akan ada banyak musuh dalam selimut.


Ku ambil ponselku dan langsung merekamnya jika ada percakapan lagi. Menunggunya beberapa menit.


"Apakah Zoya mau?" ucap Delta


"Aku sengaja menikahkannnya dengan Zoya karena dia anak penurut dan selain itu di polos, aku yakin jika Edgar tiada maka Zoya akan menuruti ke inginan kita," ucap Arnold.


Ahh rupanya dia memilihku karena menganggapku penurut. Sayang sekali tidak ada percakapan lain yang lebih merujuk pada pengakuan jika Ayahlah yang mencelakai Edgar. Aku menunggu beberapa menit tetapi tak ada percakapan lagi.


Ayah mertua kali ini aku akan menyelamatkan rumah tangga ku. Aku tidak akan membiarkan orang lain mencelakai Edgar atau keluarga ku.


Tetapi untuk memulai rencana, pikiran ku terbalut akan sesuatu, buntu. Kucoba berpikir dan tuba-tiba sebuah ide datang. Jadi ku putuskan untuk membuka daun pintu itu, berharap mereka lupa menguncinya dan aku berpura-pura menerima telepon.


Aku memundurkan langkah diam-diam lalu berjalan keras sambil memegang ponsel seolah-olah aku sedang berbicara pada seseorang lewat telepon


"Oke.... baik... nanti saya akan kesana,"


Ceklek


Ku buka saja daun pintu itu, mataku terbelalak karena tidak terkunci. Langsung saja ku dorong pintunya dan tidak ada Ayah mertuaku disana.


Tetapi Tante Delta, sedang terbaring tanpa busana. Kemana larinya Ayah mertuaku?


"Tante... oh maaf aku tidak tahu jika ada orang didalam," ucap ku


"Hmm iya tadi aku kemari dengan Silvia dan Stefani juga ada Ayah Edgar tetapi mereka pergi dan aku pusing jadi aku memilih untuk tiduran di kamar ini," ucap Delta panjang lebar padahal aku tidak bertanya dengan siapa dia kemari. Yah seperti itulah jika seseorang ketakutan. Takut tertangkap basah


"Oh maaf jika mengganggu, aku kemari ingin mengambil... sabun di kamar mandi karena sabun dikamar mandi ku habis hehe," ucapku berbohong.


Aku yakin Ayah pasti bersembunyi di kamar mandi, jadi aku beralasan kesana


"Oh ambillah silahkan, Aku akan melanjutkan tidurku," ucap Delta


Dia tidak mencegah ku masuk berarti Ayah mertuaku sedang tidak di sana. Lalu ku edarkan pandanganku mencari keberadaan ayah mertua.


"Ada apa?" tanya Delta mencurigai ku karena aku tidak langsung masuk

__ADS_1


Ku tembak saja dirinya, "Hemm tante kau kemari dengan suamimu juga? Apa kau selalu tidur dalam keadaan tanpa busana?" ucapku membuatnya salah tingkah.


"Dan sebaiknya jendela ini dibuka tante, agar ada udara yang masuk," sahut ku tetapi tante Delta langsung berkata


"Jangan dibuka, aku pusing dan kalau tidur aku suka dalam keadaan gelap seperti ini," dia menjawab ucapan ku yang terakhir tetapi tidak langsung menjawab pertanyaan ku yang pertama


Itu artinya ada sesuatu di balik jendela. Aku tersenyum kecut, mataku sudah mendapati sosok Ayah disana ada bagian yang menonjol dari lainnya.


Ku langkahkan kakiku dan tetap membuka kain jendela seraya berkata, "Akan ku buka jendelanya saja tapi aku akan tetap membiarkan kain jendela itu tertutup," ucapku lalu ku raih kain jendela untuk membuka kaca jendela.


Aku sengaja membuka kainnya lebar agar menangkap basah Ayah mertuaku


"Zoya! Apa kau tuli!?" teriak Delta seraya mengataiku sangat kasar


Aku menghentikan tanganku yang masih memegang kain jendela. Jika ku teruskan dia pasti akan sangat marah.


Jadi ku putuskan untuk tidak melanjutkannya. Masih ada cara lain untuk menangkap basah mereka


"Ok baiklah, tapi kau tidak perlu berteriak seperti itu. Aku belum tuli," ucapku dan langsung masuk kedalam kamar mandi


Setelah ku ambil sabun dan keluar dengan cepat dari kamar Mandi, takut jika mertuaku sudah keluar dari sana. Lalu aku segera menuju laci yang berada di depan tempat tidur, disamping sofa kamar, seolah-olah mencari sesuatu disana.


Tetapi tangan satu ku sibuk menyalakan video lewat ponsel. Ku kunci tombolnya agar tidak tertekan dedaunan dan hanya bisa dihentikan lewat tombol luar setelah itu ku taruh ponselku dalam vas bunga. Sengaja ku arahkan ke tempat tidur. Jendela yang tidak terbuka, gelap mendukung posisi ponselku menjadi tak terlihat.


"Silahkan lanjutkan tante, aku pulang dulu," ucapku.


Maksud ku adalah silahkan lanjutkan perang diatas ranjangnya hahah aku tak sabar ingin menangkap basah keduanya dan merekamnya lewat ponsel untuk bukti perselingkuhan


Rupanya ada banyak rahasia di dalam rumah tangga Edgar.


Aku pun mencari Taeda ingin menanyakan nomer telepon pengacaranya. Taeda ada di depan, pos satpam.


"Kau asistennya Edgar kan?" tanyaku pada Taeda


"Iya Nyonya,"


"Saat itu kau membawa mobilku ke bengkel kan? Aku minta kuitansinya dan pembelian suku cadang atau penggantian apapun. Polisi membutuhkannya untuk penyelidikan," pinta ku.


"Hmm Maaf Nyonya saya tidak mendapatkan kuitansi itu karena pembayaran langsung dengan Tuan Edgar, untuk kuitansinya sendiri mereka tidak memakai print kertas, namun memberikannya dalam bentuk file. Saya rasa mereka juga telah memberikannya pada Tuan. Saya hanya memasukkan mobil itu ke bengkel, menunggu beberapa jam lalu membawanya pulang," ucap Taeda dalam bahasa Inggris lancar.


"Oh.. kalau begitu caranya aku tak yakin file itu masih ada di ponsel Edgar. Aku belum mengecek apakah dia memiliki sdcard atau tidak," gumam ku

__ADS_1


"Kalau begitu, apakah kau punya nomer telepon pengacara Edgar atau keluarga besarnya?" tanya ku


Taeda menggeleng, dia tidak tahu tetapi dia langsung menjawab, "Tetapi saya tahu kantor pengacaranya Nyonya, tidak di Jepang melainkan di Perancis,"


Aku tidak mungkin ke Perancis saat ini, Edgar membutuhkan ku, batin Zoya


Kemudian ia meminta alamatnya kepada Taeda. Taeda pun memberikan alamatnya meski sedikit.


"Nomer alamatnya juga kau tidak tahu?" tanya ku


Taeda menggeleng, dia hanya ingat nama alamat dan nama pengacara. Tetapi jika di suruh kesana, dia bisa. Aku pun mencari lokasi yang disebut taeda serta nama pengacaranya.


"Ah ketemu!" girangku lalu aku menghubunginya saat itu juga.


Telepon tersambung dan kami hanya berbicara lewat ponsel.


"Senang berbicara dengan Anda Nyonya Edgar, saya dengar dia kecelakaan bagaimana keadaanya," ucap Pengacara Simon


Kami berbincang sebentar sekedar basa basi menanyakan kabar lalu aku langsung berbicara pada intinya. Sebelum itu aku berterima kasih pada Taeda dan pergi menjauh, namun mataku s sedikit awas dengan Taeda yang tidak kunjung pergi malah terus menatapku dari jauh


"Begini Pengacara Simon, maaf jika sebelumnya saya menanyakan ini lewat ponsel,"


"Oh tidak mengapa, saya tahu jarak Perancis dan Jepang membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Juga keadaan Tuan Edgar sendiri, saya maklumi dan saya akan tetap melayani Nyonya sebagai menantu dari klien kami, "


"Terimakasih atas pengertiannya, Pengacara Simon sudah berapa lama menjadi pengacara Tuan Arnold?"


"Saya sebenarnya pengacara Nyonya Elisabeth,"


"Oh maaf saya pikir Anda ditunjuk oleh Tuan Arnold untuk pembagian warisan. Tapi Siapa Nyonya Elisabeth?" tanya ku apa boleh buat.


"Tidak apa-apa Nyonya. Nyonya Elisabeth adalah Ibu kandung Tuan Edgar, seluruh kekayaan keluarga milik Nyonya Elisabeth, dan saya memiliki amanat akan menyerahkan pembagian warisan setelah Edgar menikah dengan syarat harus garis keturunan bangsawan," jelas Pengacara tersebut


"Oh begitu. Maaf jika saya bertanya karena saya tidak tahu. Saya hanya berpikir, kecelakaan ini disebabkan oleh pembagian Warisan maka dari itu saya ingin bertanya satu hal," ucap ku tak basa-basi


"Semoga itu hanya firasat saja ya Nyonya. Silahkan ingin bertanya apa?"


"Apa yang terjadi jika saat itu Edgar menolak menikah dengan saya. Atau apa yang terjadi jika sebelum menikah, Edgar meninggal?" tanyaku karena aku ingin menggabungkan suatu puzzle teka-teki


"Dalam surat Nyonya Elisabeth tertera disana, jika Tuan Edgar menikah maka warisan akan dilimpahkan padanya, tetapi jika Tuan Edgar meninggal sebelum menikah atau...menikah dengan yang bukan bangsawan maka penerima harta adalah yayasan sosial yang telah ditunjuk tertera di surat pernyataan beliau,"


"Lalu Apakah Ayah Edgar tidak memiliki bagian, maksud saya mungkin satu persen pun?"

__ADS_1


"Haha yah itulah mengapa saya juga tidak tahu Nyonya untuk urusan pribadi saya tidak ingin mencari tahu tetapi sebelumnya memang pelimpahan warisan itu terbagi dua, untuk Edgar dan suaminya namun seminggu sebelum Nyonya Elisabeth meninggal dia mengganti surat wasiat tersebut tanpa diketahui siapapun dan secara rahasia," ujar pengacara Simon


Jelas sudah jika warisan adalah penyebabnya. Yang membuatku tak habis pikir kenapa Ayah mertuaku tega ingin menyingkirkan Edgar, apakah Edgar bukan anak kandungnya?


__ADS_2