Cherry Blossom

Cherry Blossom
Tragedi


__ADS_3

Tapi.....


Entah kenapa rasanya dia tersenyum untuk terakhir kalinya. Hemm tidak aku tidak boleh berpikir negatif.


Aku masuk kembali ke dalam, melanjutkan aktivitas ku, mencuci piring. Setelah ini aku berencana membersihkan seluruh ruangan lainnya.


Sebenarnya rutinitas ini sama saat aku masih single. Aku senang bersih-bersih dan memasak lalu membawanya sebagai bekal untuk teman-teman di kantor.


Karena bekal itulah aku dipertemukan oleh Sandra. Investor terbesar di perusahaan ku. Pertemuan pertama kami di Miami.


Saat itu dia sedang duduk termenung di pasir pantai, menikmati lautan. Sementara aku, makan bekal Onigiri buatan ku sendiri, sambil menunggu teman yang lain berenang.


Sandra melirik ku, dan wajahnya seperti menginginkan makanan yang ku makan. Jadi ku tawari saja dia. Ternyata dia sangat menyukainya.


Setelah itu kami berbincang banyak hal, soal pekerjaanku. Saat itu hari terakhir kami mengadakan promo fashion show di Miami dan kami akan terbang ke Los Angeles untuk promo berikutnya.


Tak disangka, dia menelepon ku dan menginginkan gaun rancangan dari perusahaan ku. Sebenarnya itu bukan gaun pengantin tetapi dalam sekejap tangan-tangan temanku pada desainer berhasil mengubahnya menjadi gaun pengantin.


Dan keberuntungan lainnya datang saat Sandra dan suaminya memilih untuk menanamkan modalnya di perusahaan ku.


Tapi sayang... kini aku tak lagi bekerja di perusahaan itu.


Aku membersihkan diriku lagi, mandi untuk ke sekian kalinya, kemudian bergegas ke tempat laundry yang ada di sebelah apartemen ku. Proses laundry bisa dikerjakan sendiri.


"Aku ke laundryan dulu ya Ayah," pamit ku pada Ayah yang sedang mengobrol dengan tetanggaku di luar pintu apartemen. Tetanggaku yang seumuran dengan Ayah.


Sesampai ku di tempat Laundry, mereka menimbang berat pakaian yang akan ku cuci. Lalu mempersilahkan aku untuk mencucinya sendiri.

__ADS_1


Ku mulai memilah pakaian berwarna dan pakaian putih lalu memeriksa isi kantongnya dan memasukkan pakaian satu dengan yang lainnya. a


Edgar menelepon ku.


Aku tersenyum senang sebelum mengangkat. Sedikit ku atur suaraku agar terlihat lembut.


"Hallo sayang," ucap ku


"Haii sayang, ku alihkan ke video call ya?" pinta Edgar


Aku mengiyakan keinginannya dan menerima pengalihan video call.


Edgar terlihat sedang mengenakan kemeja, dia berada di kamar. Setelah mengaitkan kancingnya ia melihat ke arah ponselnya, melihatku, memperhatikan pemandangan dibelakangku. Terlihat pria itu sedang mengernyitkan dahinya.


"Kau dimana sayang?" tanya Edgar dengan lembut


Aku tertawa kecil dalam hati. Lucu juga jika dia bersikap lembut. Karena pertama kali mengenalnya, dia sangat dingin, arogan dan cuek.


"Sayang, entah kenapa aku ingin melihatmu tersenyum. Ayo berikan aku senyuman ter manismu dan.... kiss me hehe," ucap Edgar kali ini dia memakai dasinya


Aku pun tersenyum, dan memberikannya ciuman dari jauh dengan memajukan bibirku me depan.


"Ohh so seksi hehe," goda Edgar


Kami tertawa kecil setelah itu. Lalu ia memakai jasnya dan berjalan keluar.


"Aku sudah selesai," ucap Edgar

__ADS_1


"Aku pamit ya.... Jaga dirimu, love you forever," ucap Edgar


Jantungku berdebar ketika Edgar mengatakan itu. Tapi bukan sepertinya ada perasaan lain. Entahlah, aku tidak bisa menjelaskan.


Ku balas ucapan cintanya, "Love you too. Hati-hati sayang ku," ucapku dan mengecupnya dari sambungan video call


Dia pun mematikan sambungan video call kami. Namun perasaan itu masih berdebar. Ada rasa gelisah juga.


Dan aku menyadari sebuah firasat. Seharusnya Edgar mengatakan, 'aku berangkat ke kantor', tetapi dia malah mengatakan pamit.... ah semoga yang ku takutkan tidak akan terjadi.


Aku memberikan deterjen pada pakaianku lewat mesin cuci itu dan mulai menyalakannya. Mesin pun bergerak, berputar, suara berisik mesin membuat telingaku sedikit sakit. Tak hanya satu melainkan beberapa mesin.


Jadi aku pun menyalakan musik dan mendengarkan lewat earphone. Aku nangis musik yang tenang dan damai membuatku sedikit relaks.


Ku duduk di dekat mesin cuci sambil membaca majalah. Beberapa menit kemudian beberapa orang yang juga sedang menunggu cucian, beranjak mendekati televisi sambil berbisik. Ada juga yang menutupi mulutnya yang ternganga.


Aku penasaran apa yang dilihatnya. Mata ku beralih ke televisi yang menempel di dinding, agar tinggi.


Berita kecelakaan mobil di sebuah tol. Mobil berwarna pink sakura itu terbalik, bagian depannya hancur. Kap juga jendela dan pintu mobilnya terbuka.


Terlihat seseorang berlumuran darah, aku tak jelas karena rekaman itu menampilkan dari jauh.reporter masih berbicara mengenai berita tersebut.


Aku meraih botol mineral dan menegaknya sekali. Dan aku seperti mengenali mobil itu. Rekaman itu memperlihatkan liat nomer yang terbalik. Plat nomer mobilku.


Ku lepas earphone dan mulai beranjak mendekati televisi. Begitu reporter menayangkan wajah korban kecelakaan. Jantungku seperti tertusuk. Bulu kudukku meremang, hatiku berdesir Tanganku yang masih memegang botol seketika bergetar dan aku menjatuhkannya. Pikiranku melayang entah kemana.


"Tidak... itu tidak mungkin Edgar kan?" batinku selalu menepis sampai akhirnya reporter menyebutkan sebuah nama, identitas korban kecelakaan.

__ADS_1


Aku menangis dan meninggalkan Laundry. Aku berlari mencari taksi atau tumpangan untuk menyusul Edgar ke rumah sakit.


Inikah jawaban dari firasatku tadi? Aku terus berdoa sepanjang perjalanan. Semoga keadaan Edgar baik-baik saja dan dia masih berada dalam lindungan Tuhan.


__ADS_2