Cherry Blossom

Cherry Blossom
Candy


__ADS_3

Nicole mengunjungi apartemenku, dia membawa hasil masakannya yang sudah dingin. Jadi tadi dia sedang memanasinya agar tetap hangat. Tujuan sebenarnya adalah ingin bertemu denganku dan memberi informasi. Dia berhasil memikat Edgar, serta bukti rekaman video yang di ambil diam-diam. Rekaman itu memperlihatkan dirinya dan Edgar sedang berciuman.


Aku mengelus tengkuk ku yang terasa panas. Hanya dengan melihat mereka saja sudah membuatku teringat akan cara berciuman dengan Edgar, sedikit lembut terkadang rakus namun penuh gairah didalamnya.


Cukup! Aku tidak boleh cemburu ataupun panas.


Dia memang masih suamiku, tetapi dia bukan milikku. Dia membaginya dengan semua wanita yang menarik di matanya.


"Malam nanti akan ada penjualan apartemen dengan cara lelang. Semua pengusaha, pejabat penting akan datang ke tempat itu. Aku punya dua tiket masuk, ku minta pada Edgar dan dia memberikannya. Ini untukmu dan Poky jika kalian ingin datang," ucap Nicole


"Lalu siapa yang Edgar ajak untuk menemaninya ke tempat itu jika kau datang bersama Jacob?" tanyaku


"Dia bilang akan datang dengan Sekretarisnya. Oh ya apa kau tahu.... Edgar mengaku telah bercerai dengan mu secara sah," ucap Nicole


"Hemm dia sedang memikat mu, mana mungkin dia mengatakan hal yang sebenarnya. Proses sidang perceraian ku satu bulan lagi," jelas ku


Setelah itu, aku menyajikan makanan yang dibawa oleh Nicole. Kami memakannya bersama, tetapi Poky tidak makan. Dia bilang sudah makan dan kenyang. Sementara aku membatin, kapan dia makan? Apakah tadi, dia turun ke bawah untuk membeli makanan?.


Nicole pulang usai sarapan bersama denganku.


.


.


Siang itu orang bengkel mengantarkan mobilku ke apartemen. Poky mencoba untuk test drive apakah masih ada kekurangan pada servisnya.


"Semua sudah oke," ucap Poky setelah memutari apartemen.


"Ok kalau begitu kami pamit, jika terjadi masalah pada mobilnya dalam waktu dua hari, Nyonya bisa menelepon kembali. Kami akan memperbaikinya gratis," ucap Orang Bengkel


"Oh Terimkasih sekali,"


Poky mengajakku untuk berkeliling Jepang. Aku juga tidak ada rencana apapun setelah ini. Malam nanti pun, aku ragu untuk datang ke tempat yang dimaksud. Belum ada rencana dalam otakku. Maka ku terima saja ajakannya. Aku jadi pemandunya dan dia yang menyetir mobilku.


Di tengah jalan, aku melihat mobil wanita masuk ke sebuah gang. Aku kenal mobil itu, milik Xiaonian. Juga kaca mobilnya yang tidak gelap jelas menunjukkan jika benar Xiaonian


Aku menyuruh Poky mengikuti Xiaonian. Wanita itu menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah. Poky juga menghentikan mobilnya dengan jarak agak jauh darinya.


Sorang gadis kecil sekitar 7 tahun mungkin, turun dari mobil dengan mengenakan seragam sekolah. Setelah itu Xiaonian melajukan mobil melanjutkan perjalanannya.


Apakah itu anak Xiaonian dan Edgar? Kebetulan sekali seakan Tuhan menjawab semua pertanyaanku.


Poky menjalankan mobil dan berhenti di depan rumah tempat gadis kecil itu turun. Segera aku turun dan berlari kecil, memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumahnya. Ku ketuk pintu rumah itu. Poky menyusul ku di belakang setelah memarkirkan mobil.


Pintu terbuka sedikit dan seorang gadis kecil mengintip di sela pintu itu.


"Siapa kalian?" tanya gadis itu berbicara bahasa Jepang. Warna rambutnya seperti Edgar, matanya pun sama, biru muda namun kelopak matanya sedikit sipit. Bibirnya kecil seperti Xiaonian. Kulitnya putih bersih tanpa bintik.

__ADS_1


"Hai," sapa ku dan Poky.


Tak berapa lama seorang pengasuh datang dan menyuruh gadis itu untuk masuk.


"Anda mencari siapa?" tanya pengasuh yang juga orang Jepang dan berbicara bahasa Jepang


"Saya Zoya, teman Xiaonian. Apakah ini betul rumahnya?" tanya ku


"Nyonya Xiao baru saja pergi lagi. Dia hanya mampir menjemput anaknya sekolah," tanya pengasuh yang bernama Lilyana, tertera di seragam pengasuh itu


"Dia berkata apa?" bisik Poky yang tidak tahu bahasa Jepang


"Dia bilang Xiaonian baru saja pergi," sahutku


Sepertinya Xiaonian menempatkan pengasuh dari biro yang terpercaya jadi aku tidak bisa berbohong karena mereka pasti akan mengatakan apapun pada Xiaonian nantinya. Tapi biarlah, biar dia merasa terancam


Ku lihat di dinding ada foto yang tidak berukuran besar juga tidak berukuran kecil. Foto Xiaonian dan Edgar memakai pakaian pernikahan. Itu pasti foto palsu yang hanya di edit.


"Bukankah itu Edgar?" tanyaku serta menunjuk foto di dinding ruang tamu. "Jadi Xiaonian sudah menikah dengannya ahh kenapa aku tidak di undang ke pernikahannya," sahut ku


"Hmm soal itu saya tidak tahu. Begini nyonya tidak dirumah, kalian bisa datang lagi nanti sore. Maaf saya banyak pekerjaan," sahut Lilyana.


"Kau kenal Ayahku?" tanya gadis kecil yang tiba-tiba datang. Rupanya dia mendengarkan aku dari belakang


"Iya, aku kenal. Dan laki-laki ini adiknya, lebih tepatnya sepupu," ujarku


Kami masuk dan duduk. Pengasuh itu tidak bisa menghentikan kelakuan gadis kecil itu. Aku menterjemahkan apa yang dikatakan gadis itu agar Poky mengerti, Kami masuk dan duduk


Perbincangan pun terjadi, pengasuh itu pamit kedalam untuk membuatkan minuman untukku dan Poky. Tetapi aku yakin dia pasti akan memberitahu Xiaonian soal masalah ini.


Aku sengaja berlama-lama di sana. Poky juga menunjukkan foto dirinya dan Edgar sewaktu kecil.


"Kau menyimpan foto kecilmu?" tanya ku pada Poky


"Aku tidak menyimpannya di galeri foto ponselku, tetapi foto itu tersimpan di postingan Instagram ku," sahut Poky


Aku terus melihat waktu, satu jam berlalu, selama itu pula aku, Poky dan gadis kecil yang bernama Candy, bermain apapun. Aku berharap Xiaonian datang dengan marah ketika melihat keakraban kami. Mungkin sepuluh menit lagi, tetapi perkiraanku salah. Xiaonian sudah datang di menit itu juga.


"Mau apa kalian kemari hah?" ucap Xiaonian berbicara bahasa Perancis agar anaknya tidak tahu


"Keluar dari rumahku?" ucap Xiaonian


"Sayangnya, gadis kecil ini menyukai kami," ucapku


Xiaonian menarik lengan ku


"Hey lepaskan dia," Poky marah, dan langsung beranjak.

__ADS_1


"Ku bilang keluar!" pekik Xiaonian seraya mengangkat tangannya dan menunjuk pintu keluar dengan jari telunjuknya


Aku dan Poky keluar, sementara Candy bertanya pada Xiaonian kenapa dia mengusir kami.


"Mereka orang jahat, masuklah," jawab Xiaonian pada anaknya, lalu menutup pintu dari luar dan berbicara padaku


"Beraninya kalian mendekati dia," sahut Xiaonian


"Apa benar dia anaknya Edgar? Kau menikah dengannya sebelum Edgar menikahi Zoya?" tanya Poky


"Kurasa yang aku butuhkan saat ini adalah akta pernikahan kalian, itu akan menjadi kegagalan mu sendiri untuk menguasai warisan," ucapku tersenyum


Ya, di bab sebelumnya jika kalian ingat. Warisan itu tidak akan berlaku jika Edgar menikahi gadis biasa


"Itu foto palsu, untuk meyakinkan Candy. Kau bisa membuktikannya sendiri di catatan sipil. Tapi ku peringatkan kau dan kau! Jangan pernah mendekati anakku lagi!" sahut Xiaonian seraya menuding Zoya dan Poky


"Kau membunuh calon anakku, maka aku akan berlaku hal yang sama," ancam ku membuat Poky langsung menoleh padaku.


Ayolah Poky aku hanya menggertak dirinya. Aku tidak akan membunuh gadis kecil yang tidak bersalah.


"Aku serius," tambah ku lagi dengan sedikit mendekatkan wajahku pada Xiaonian agar dia ketakutan


Xiaonian ingin menampar ku, tetapi ada Poky yang dengan gesit menangkap tangannya.


"Dengar, seharusnya kau tidak kasar pada Zoya setelah apa yang kau lakukan padanya," sahut Poky


"Biarkan saja, semakin dia marah maka raut wajahnya akan semakin cepat tua. Dan Edgar akan meninggalkan dirinya. Haha...," aku tertawa


"Apa kau tahu? Edgar mendekati wanita lain, dia tidak benar-benar mencintaimu, ayo Poky kita pulang," ucapku menjadi penyebar gosip


Aku melangkah pulang dengan anggun, Poky berjalan setelah ku.


Poky menyalakan mobil dan mulai menjalankannya. Aku melihat Xiaonian dari jendela mobil. wanita itu masih berdiri di teras, dengan raut wajahnya yang dipenuhi amarah.


Ditengah perjalanan Poky penasaran dengan ucapanku.


"Haha aku tidak akan membunuh orang yang tidak berdosa Poky. Aku hanya menggertak," ucap ku.


"Huft ku pikir itu di luar dari rencana kita," sahut Poky


Aku tertawa kecil bersama dengan Poky, mata kami tak sengaja bertemu. Dan dia memandang ku dengan arti lain


"Ehmm Poky kau sedang menyetir jadi harus lihat ke depan," ucapku mengalihkan perhatiannya.


"Oh maaf," Bisa kulihat dia salah tingkah.


Hmmmhh... Poky, andai saat itu aku bertemu denganmu sebelum dengan Edgar. Mungkin aku tidak akan menderita seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2