
Aku mengantarkan Poky di rumahnya. Kali pertama ku kerumah Poky. Sebenarnya rumah Paman Maxim mereka masih tinggal satu atap. Rumahnya besar juga, bangunan modern klasik. Terlihat sejuk karena banyak bunga dan tanaman di depan rumahnya. Sepertinya Tante Delta senang berkebun.
Gerbang listrik yang terbuka otomatis, jika mati listrik tak perlu kuatir karena gerbang akan tetap terbuka menggunakan Dynamo. Dari gerbang menuju rumah lumayan jauh, ada sekitar 150 langkah kaki, sehingga aku menurunkan Poky tepat di depan teras rumahnya.
"Masuklah, mampir sebentar," ucap Poky sebelum turun
"Hmm lain kali ya, aku lelah," sahutku beralasan padahal sebenarnya karena aku tidak akrab dengan Mamanya.
Ku lihat Tante Delta sedang duduk dengan bangku kecil, memakai sarung tangan dan memindahkan tanah ke dalam pot. Benar dugaanku, dia senang berkebun.
Aku turun, mendekati Tante Delta, basa basi menyapanya, "Tante Delta, aku langsung pulang ya?"
Delta yang menggunakan headphone di telinganya tidak mendengarkan suara ku, dia juga tidak tahu kedatangan ku karena mobilku sama sekali tidak berisik.
Poky mencolek bahu Delta dan wanita itu sedikit terkejut, dia berbalik sembari membuka headphone dan menatap ku dengan Poky bergantian.
"Kau... Zoya...," sahut Delta
"Dia berbaik hati mengantarkan aku pulang," sahut Poky
"Kenapa kau di Perancis? Bagaimana dengan Edgar? Hah sudah ku duga, kau bukan wanita baik-baik. Edgar sedang terbaring sakit tetapi kau malah enak-enakkan di Perancis," sahut Delta
"Ma...," Poky mendelik memperingatkan Mamanya untuk tidak asal bicara
"Seharusnya aku tadi langsung pergi dan tidak menyapamu," Desisku pada Delta
"Maaf Poky, aku harus pulang,"
Ku langkahkan kaki ku besar-besar menuju mobil dan mengendarainya tanpa menoleh ataupun tersenyum.
Ku lihat dari spion Poky dan Mamanya seperti mendebatkan sesuatu. Lain kali aku tidak akan berlaku sopan jika dia saja terus mencercaku.
__ADS_1
Mobilku terus saja melaju lurus, aku benar-benar tidak ingin pulang tapi juga tidak tahu kemana tujuan ku. Lantas aku pergi menuju rumah sahabat ku, teman kerjaku sebelum aku pindah ke Jepang. Di tengah perjalanan, aku melihat sebuah spanduk besar dan banyak orang mengantri. Ku baca dengan seksama isi tulisan di spanduk itu.
The Bataragunadi Goup proudly presents the launch of the latest work by Septira Wihartanti, titled "Ladys Gentleman"
Translate Group Bataragunadi dengan bangga mempersembahkan peluncuran karya terbaru oleh Septira Wihartanti, berjudul "Ladys Gentleman"
"Apa-apaan ini, gilak! Ini sih segala banget. Dia wanita terhebat yang ku kenal. Aku menyukai semua novelnya tapi aku sama sekali tidak diberi tahu soal peluncuran novelnya di Perancis. Hmmm aku harus kesana. Kesempatanku, kapan lagi aku bisa bertemu dengannya, dia jauh di Bekasi Indonesia," gumam ku.
Ku urungkan niatku untuk bertemu dengan sahabat ku semasa kerja dahulu, ku masukkan mobilku dan mengantri di depan. Demi apapun aku rela mengantri demi author favorit ku.
Antrian yang panjang, kaki ku mulai lelah menapak. Tinggal dua orang lagi untuk sampai pada giliranku. Sabar Zoya!
Yaps. Aku melihat wanita itu didepan mataku. Aku berkaca-kaca bahkan saking gugupnya aku tak dapat mengeluarkan sepatah kata.
"Ka-ka-kau... SEPTIRA.. Wihar... tanti?" ucapku tergagap
Wanita berusia 40 tahun itu tak seperti usianya, wajahnya terlihat lebih muda mungkin sekitar 20 tahun. Dia benar-benar cantik dengan balutan hijab yang menutupi tubuhnya dengan anggun.
Kakiku bergetar, tak kuasa menahan rasa gugup. Ku peluk dirinya dengan sangat erat.
"I love you so much. Kau menulis dari hati sampai aku ikut terjun ke dalamnya. So exicited! Berikan nomermu bolehkah?" pinta ku
"Terimakasih, saya ikut terharu. Semoga karya saja bisa menghibur dan menginspirasi hari-hari Anda,"
Dia memberikan nomernya serta tanda tangannya di novel yang baru saja ku beli saat masuk didepan.
Sebenarnya aku ingin lebih lama bertemu dengannya, tetapi ada banyak orang yang menungguku di belakang jadi mau tak mau aku harus mengalah. Ku pulang dengan hati bahagia saking bahagianya aku melewati rumah temanku. Sehingga aku benar-benar mengurungkan niatku untuk kesana.
Malam harinya, aku meluangkan waktu ku untuk membaca semua novel-novel karya SEPTIRA Wihartanti hingga beberapa pesan masukpun aku tak peduli.
Mataku mulai lelah, hingga akhirnya ku akhiri bacaanku. Ku lihat beberapa pesan yang masuk. Dari sahabat ku Elsa, dia memintaku untuk bertemu dengannya karena dia tahu aku sudah pulang ke Perancis.
__ADS_1
"Aku lelah dan sudah mengantuk , bagaimana jika besok," jawabku dari pesan
Dia membalas agak lama, lalu akhirnya dia membalas dengan pesan yang sedih.
"Aku butuh teman, please. Kau bisa menginap di apartemenku," pintanya mengharap
Aku berpikir dia jarang sekali meminta bantuan saat kami bersama, akhirnya kuputuskan untuk ke apartemennya malam itu meski waktu menunjukkan pukul 10 malam. Lagi pula jarak apartemennya dengan rumah Ayahku tidak jauh.
Setibanya disana, aku menaiki lift apartemen sembari meneruskan bacaanku. Apartemen Elsa ada di lantai 7. Ada beberapa orang yang juga masuk denganku, tetapi aku tidak memperhatikan siapa saja yang masuk. Aku fokus dengan bacaanku karena sangat seru
Ting
Bunyi lift pertanda pintu akan terbuka. Tetapi begitu aku melangkah kakiku keluar lift, seseorang menutup kepalaku dengan kain hitam. Kau berontak, tetapi Kedua lenganku di pegang oleh seseorang bertangan besar.
Ku rasakan lift mulai berjalan keatas, Aku yakin orang-orang yang berada di lift itulah pelakunya. Aku ingin membuka penutup kepala itu tetapi mereka mencengkeram tanganku dengan amat erat.
"Tolongg!!!" teriakku dari lift. Aku tak yakin ada yang mendengar lalu sebuah tangan menutup bibirku dan menyandarkan ku di tubuhnya yang besar.
Salah seorang mengikat badanku, karena aku banyak bergerak tak lama setelah itu ku dengar bunyi ting tanda lift terbuka.
Orang itu memangguk tubuh ku di bahunya. Perutku terasa sakit tertekan tulang bahunya. Tetap ku gerakan saja kakiku agar ku terjatuh dan bisa lolos darinya.
Aku diturunkan dan di dorong ke depan.
"Hey... siapa kalian!" teriakku
"Lepaskan aku!" teriakku lagi meski aku yakin tidak ada yang mendengar.
Ku rasakan udara kencang menerpaku, aku menerka mungkin aku berada di atap apartemen. Tapi siapa yang melakukan ini terhadapku.
"Zoya Deana Aldrich," ucap seorang wanita dengan logat Jepang, aku mengenal suaranya
__ADS_1
"Xiaonian?" terka ku