
Kepala ku terasa pusing, antara alisku berkerut saat ku akan membuka mata karena silau cahaya yang menerpa wajahku.
"Aah!" teriakku terkejut.
Karena di depanku ada dokter yang sedang memeriksa ku. Dia membawa senter sepertinya akan melihat kondisiku.
"Maafkan kami jika Nyonya terkejut," ucap Dokter
"Tidak seharusnya sayalah yang minta maaf karena kehadiran anda yang tiba-tiba," ucap Ku
"Baiklah terimakasih, saat proses transfusi berjalan. Anda terlihat pucat dan pingsan. Kami ingin menghentikan transfusi itu tetapi kami baru tahu saat pasien sudah selesai di operasi. Maafkan atas keteledoran kami,"
"Hmm saya pikir saya tertidur karena di bius," ucapku
"Tidak Nyonya, sekali lagi kami minta maaf. Untuk itulah sebagai tanda permintaan maaf kami, pemeriksaan nyonya kali ini kami gratiskan. Dan juga saya akan memberikan vitamin untuk janin Anda, maaf sebelumnya apakah Anda merasa mual?" tanya Dokter
"Hah? Janin? Sa-saya hamil? Hmm saya tidak mual, " tanya ku
"Iya benar nyonya, kami mengeceknya dengan alat kami, jika nyonya menggunakan alat tes dari urin itu tidak akan terbaca. Dan kemungkinan juga Anda belum mengalami mual, tetapi untuk pemeriksaan lebih lanjut. Anda bisa datang lagi kemari dua minggu lagi," ucap Dokter
Aku masih tidak percaya, aku hamil secepat ini? Tetapi seperti yang dokter bilang mereka mendeteksi kehamilan ku dengan alat khusus dan canggih. Aku lupa ini Jepang, semua alat modern dan canggih ada disini.
Dalam hati aku terus mengucap syukur yang tiada henti. Jujur saja aku masih gugup mendengarnya. Lalu aku terpikirkan orang lain, Poky. Bagaimana keadaanya.
"Bagaimana keadaan Poky?" tanyaku sementara itu Dokter mengerutkan alisnya.
"Siapa Poky?"
"Ah maaf, pasien yang tadi di operasi, yang bernama Pierre Ozky," ucapku meluruskan. Aku lupa karena Poky adalah nama panggilan.
"Oh dia ditangani dokter lain dan saya rasa Dia baik-baik saja, tetapi kelihatannya masih tidur karena pengaruh bius," ucap Dokter
Aku pun salah bertanya, karena aku bertanya pada dokter kandungan. Setelah Dokter menuliskan resep vitamin dan memberikan salinan resepnya padaku untuk ditebus, aku pun pulang ke rumah.
Hari hampir sore, aku takut Edgar akan marah jika aku pulang terlalu lama. Tetapi apakah dia akan tetap marah jika ku tunjukkan hasil pemeriksaan jika diriku hamil.
__ADS_1
Aku mengelus perutku yang belum terlihat membesar, selama perjalanan pulang banyak hal yang aku pikirkan soal apakah aku bisa mengandungnya selama 9 bulan? Bagaimanakah rasanya mengandung? Apakah aku akan terus menerus merasakan mual, lalu apakah berat badan ku akan membesar dan ahhh sepertinya itu hal yang menyenangkan dalam hidupku.
Ketika aku memasuki gerbang mansion, Satpam mengejar ku dan langsung membukakan pintu mobilku serta berkata dengan aneh, "Nyonya, kenapa nyonya tidak bilang jika mau pulang? Saya bisa menjemputnya,"
"Kenapa aku harus bilang?"
"Ka-karena nyonya habis transfusi darahkan? pasti itu akan sangat membuat Anda kelelahan," ucap Satpam yang tidak masuk akal menurutku
"Haha aku bisa menyetir sendiri, buktinya aku baik -baik saja kan?" tanyaku kemudian tersenyum
Aku langsung melangkahkan kaki memasuki rumah dan terus tersenyum sepanjang jalanku, tidak sabar untuk mengungkapkan rasa bahagia ini pada Edgar.
Pelayan sedang ada di ruang tengah, mereka menonton televisi dengan sesama para pelayan. Aku menyapa mereka semua, mereka langsung membalas sapaanku, tetapi raut wajah mereka sedikit terkejut.
"Hemm Nyonya, tuan berpesan tadi jika Nyonya datang dia meminta Anda memilihkan pakaian untuknya malam nanti. Karena ada salah satu klien ingin bertemu dengannya," ucap salah satu pelayan
"Oh oke, nanti akan ku ambilkan sekarang aku ingin masuk ke kamar Tuan. Apakah dia sedang tidur?" ucapku dan berakhir dengan sebuah pertanyaan
"Hmm kalau itu saya tidak tahu Nyonya," pelayan itu tersenyum, lalu duduk kembali setelah aku meninggalkannya.
Ceklek.
"Ah sayang kau mengagetkanku," ucap Edgar
Aku membelalakkan mataku, Edgar sedang bermain sendiri dengan barang miliknya.
"Kau sedang apa sayang?" tanya ku.
Saat aku melangkah masuk, aku merasakan ada hal yang aneh. Aroma lain yang berbeda di ruangan itu. Seperti aroma parfum wanita, aku mengedarkan pandangan ke segala arah dan mencari sumber parfum yang lebih melekat. Tetapi Edgar memanggilku dan menyuruhku untuk melayani dirinya.
"Sayang kemarilah, aku tiba-tiba saja ingin tetapi kau sangat lama jadi aku bermain sendiri," ucap Edgar
"Kau tidak menutup pintu saat ingin melakukan itu?" tanyaku
"Bagaimana caraku menutup, aku masih sedikit susah bergerak. Ya memang tadi siang aku bisa langsung menggerakkan kakiku, tetapi rasanya masih sakit terutama bagian lututku kanan ku. Sudahlah jangan banyak bicara ayo kemari," pinta Edgar
__ADS_1
Aku ingin mengunci pintu, tetapi Edgar melarangnya dan bilang jika dia sedang ingin bercinta saat itu juga.
Aku menurutinya dan juga memberikan kabar jika diriku hamil. Edgar terkejut, tetapi reaksinya tampak tidak senang.
"Secepat itu? Kita baru melakukannya beberapa kali," ucap Edgar
"Hah kau pikir aku hamil dengan siapa? Tentu saja denganmu. Seorang wanita bisa langsung hamil saat sekali melakukan hubungan itu bisa saja terjadi ketika sang wanita dalam keadaan subur sayang," ucap Ku
"Sayang kita bicarakan nanti, kau fokuslah melayaniku,"
Edgar memegang kepala ku dan menyuruhku untuk melakukan perintahnya bermain dengan barang miliknya. Mungkin dia tidak bisa menahan jadi aku pun tidak lagi membicarakan kabar baik itu.
Saat aku terlalu fokus, seperti ada bayangan yang lewat dibelakangku dan tiba-tiba bunyi gerendel pintu yang diputar.
Aku melengos secepat ku. Tetapi Edgar marah karena aku melepaskan disaat dia menikmatinya.
"Aku sudah bilang fokuslah, astaga kau ini kenapa?" ucap Edgar
Jika ku perhatikan tingkahnya berbeda saat dia di apartemen ku, ketika dia merayu ku dan memperlakukanku lembut. Berbanding terbalik dengan Edgar yang kini di depanku
Lagi-lagi aku hanya diam saja.
Setelah menyelesaikan pekerjaan ku, aku pun membersihkannya dan pergi ke toilet. Aroma parfum wanita itu juga melekat di toilet. Apakah ini aroma parfum pelayan? Ku rasa tidak, ini jelas aroma parfum yang kualitasnya mahal.
Ku coba mengeluarkan ponselku dan melihat apa yang terjadi. Kamera mini ini mempunyai kelemahan. Dia hanya menyimpan rekaman satu jam sebelumnya. Jadi aku memundurkan rekaman yang tersimpan satu jam sebelumnya.
Dan sesuatu mengejutkan ku, Xiaonian datang lalu mencium bibir Edgar. Suamiku itu bahkan memegang kedua gunung Fuji milik Xiaonian.
Tanganku gemetar, merasa dikhianati untuk kedua kalinya. Atau memang sebenarnya aku lah pengganggu dalam hubungan mereka? Kapan mereka melakukannya? Kenapa semua orang jahat padaku
Ku rasa semua ingin menghentikan ku masuk, sari satpam yang bertingkah aneh, pelayan yang menyuruhku mengambil pakaian Edgar yang masih berada di kamar atas, mungkin untuk memberikan waktu Xiaonian keluar dari kamar tamu. Tetapi aku tidak langsung ke atas, aku tetap masuk dan mengejutkan Edgar.
Aku menangis menyaksikan permainan Edgar, terutama saat Xiaonian bersembunyi di balik sofa ketika aku datang, semua terekam jelas di kamera itu.
"Aku membencimu Edgar!" teriakku dalam hati dan mengusap air mataku
__ADS_1