Cherry Blossom

Cherry Blossom
Jalan Damai


__ADS_3

Ku biarkan uang ku habis menyewa detektif mahal, berharap satu demi satu jawaban terkuak. Hingga aku rela mengintai mertuaku sendiri. Tetapi semua sia-sia dan berakhir dengan jalan damai.


Semudah itu kah dia memaafkan perbuatan Ayahnya?


Kini Edgar dan Arnold, Ayah mertuaku sedang berbicara berdua di dalam kamarnya. Sementara aku tidak diperkenankan berada di dekatnya. Alasannya karena urusan keluarga.


Bukankah aku istrinya, lagi-lagi aku tidak tahu jalan pikiran Edgar. Dia masih tertutup dan belum ingin terbuka sepenuhnya dengan ku


Aku dan keluarga besar Edgar yang lain juga duduk di ruang tunggu di depan kamar. Mereka juga tidak diijinkan masuk. Didalam hanya ada Edgar dan Ayahnya.


Tiba-tiba mataku tak sengaja menangkap manik mata biru milik Poky. Pria itu juga sedang melihatku, tatapan yang tadinya datar kemudian tersenyum kecil.


Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain. Tetapi rasa jenuh menghampiri karena Aku sendirian, duduk berjauhan dengan keluarga Edgar yang juga duduk disana, tak ada yang berbicara denganku atau mendekatiku, kehadiranku ditengah keluarganya tidak seutuhnya di terima.


Beberapa menit kemudian, Arnold keluar dengan wajah yang membeku. Aku bisa merasakan ada aura kebencian yang sedang di pendam.


Aktor terbaik hari ini adalah Arnold. Dia pandai menyimpan rahasia yang dikemas dengan senyuman serta keramahannya. Bahkan aku hampir tertipu dengan sikapnya itu. Tapi saat ini Aku harus menurunkan egoku dan meminta maaf padanya.


Segera ku beranjak dari duduk dan mengayunkan langkahkan kaki ku menuju dirinya yang sedang berdiri di depan pintu berbicara dengan Stefani.


Istrinya juga sama dengan ku, penasaran dengan apa yang mereka bicarakan, tapi aku datang mendekat bukan untuk menanyakan hal yang sama dengan Stefani.


"Ayah.... Aku minta maaf soal kemarin...," ucapku yang langsung dibalas oleh tatapan mata yang sangat tajam.


"Minta maaf soal apa?" tanya Stefani


"Oh Zoya, jangan dipikirkan. Akulah yang harus meminta maaf padamu. Kemarilah ada yang ingin ku bicarakan," ucap Arnold menunjukkan senyum manisnya terhadapku, keramahannya yang selalu diperlihatkan bisa membuat semua orang menyegani dirinya


Sementara Stefani bingung dengan permintaan maafku, haruskah aku memberitahukannya sekarang?


Arnold merangkul dan menggiring ku ke tempat lain sedikit menjauh dari Stefani dan keluarganya.


"Jangan bahas itu lagi, Edgar sudah mengecam ku. Dan aku juga sudah mendapatkan bagianku," ucap Arnold berbisik


Bagiannya, maksudnya dia meminta warisan itu pada Edgar?

__ADS_1


"Jadi ini hanya soal warisan?" Tanya ku


"Tidak juga, tetapi ini soal balas budi," Arnold tersenyum padaku. Jujur saja aku semakin penasaran


"Balas budi? Apakah Edgar bukan anakmu?"


"Pertanyaan apa itu? Ck seketika aku menyesal menikahkan Edgar denganmu,"


"Lalu kenapa Ayah menyebutnya balas budi dan jika Edgar anak kandung, kenapa kau ingin mencelakainya?" tukas ku tanpa basa-basi


"Dia harus balas budi terhadap ku. Saat Edgar berusia 12 tahun Elisabeth menggila dan dia ingin menusuk Edgar dengan pisau dapur. Aku melindunginya hingga aku rela terkena tusukan pisau. Dia berhutang nyawa padaku. Aku memang menginginkan Edgar meninggal, tetapi Aku tidak pernah mencelakainya atau mencoba membunuhnya. Aku tidak tahu siapa yang menginginkan kematian Edgar," ucap Arnold


Fix keluarga Edgar semuanya gila. Aku bahkan ikut menggila karena baru kali ini aku mendengar ada seorang Ayah kandung yang menginginkan kematian putranya sendiri. Aku tidak bertanya lagi karena percuma saja aku tidak menemukan jawaban yang benar-benar pasti.


Arnold kembali lagi bergabung dengan keluarganya dan mereka pergi setelah berpamitan denganku. Kami tidak bersalaman, tidak juga berpelukan. Semua sikap ramah mereka hanya terlihat di depan. Hanya Poky yang menepuk pundakku seraya berkata, " Jaga dirimu,"


Sore ini mereka semua pulang kembali ke Perancis. Berharap setelah ini rumah tangga ku kembali membaik.


Aku masuk dan bertanya pada Edgar apa yang terjadi di dalam. Dia tidak mengatakan apapun hanya berkata, "Hanya obrolan kecil aku dan Ayah,"


Waktunya mandi sore, aku melayani suamiku. Memandikannya dengan handuk hangat karena ia sendiri belum dapat bergerak ke kamar mandi.


Saat ku gosok area sensitif miliknya, ku perhatikan dirinya yang terus memandangiku. Sesekali aku melihatnya dan melemparkan senyumanku. Kemudian ia menggapai lenganku dan menuntun tanganku untuk terus mengelus miliknya.


"Edgar, aku sedang membersihkan tubuhmu,"


"Sayang, aku ingin kau memakan milik ku," ucap Edgar.


Dia tidak berbicara dengan berbisik lagi, meski masih pelan, sepertinya pita suaranya sudah lumayan membaik.


"Astaga kau sedang sakit bisa-bisa kau menginginkannya?" tanyaku dengan kekehan kecil


"Ayolah, setidaknya formula ku harus dikeluarkan jika tidak itu akan sakit," celetuk Edgar.


Akhirnya aku pun menuruti dirinya, namun sebelum itu aku harus mengunci pintu dahulu. Meskipun Dia suamiku tetap saja aku masih memiliki rasa malu jika seseorang melihatnya.

__ADS_1


Ku mulai mengerjakan perintah suamiku, melayaninya dengan baik meski kakinya belum bisa bergerak karena lumpuh, setidaknya jalan ini lah yang bisa ku lakukan.


Aku menghisapnya sedalam mungkin, Ku dengar lenguhan dari bibir Edgar pertanda dia menikmatinya. Edgar yang terbaring sedikit terduduk, menyentuh bokongku lalu menarik pinggangku.


Dengan mudahnya tangan nakalnya mulai menyusup di balik dress ku yang panjang hingga seatas lutut. Lalu tangannya mulai masuk kedalam kain segitiga milikku mengerjai ku hingga aku ikut terbuai.


Hal gila yang dia inginkan agar aku naik ke atas ranjang sempitnya dan duduk di atasnya.


"Kau sedang sakit sayang," ucapku


"Aku tidak merasakan kaki ku, itu tidak akan terasa sakit," ujarnya tetapi tetap membuatku ragu


"Tapi...," aku terus menolak, bukan tak ingin tetapi karena aku khawatir soal kondisinya.


Tangan Edgar berkelana membuka kancing dressku dan dengan cepat ia berhasil mengeluarkan gunung Fuji, memainkannya dengan jari liarnya.


Sepertinya dia terlalu terlatih, ahh aku tidak ingin mengingat masa lalunya, sekarang aku adalah masa depannya. Sore menjelang malam pun kami melakukan hubungan itu dengan berhati-hati. Edgar mengeluarkannya dengan cepat, biasanya dialah yang paling lama keluar. Mungkin karena tubuhnya sedikit sakit, meski dia tidak mengatakannya tetapi aku bisa memahaminya.


"Sabar ya Edgar sayang... kita lakukan yang ekstrem selepas kau pulih," ucap ku turun dari atasnya dan membenahi pakaianku.


"Besok kita pulang, aku sudah meminta dokter untuk rawat jalan. Aku juga sudah menghubungi dokter terbaik, lebih baik dari dokter disini," ucap Edgar mengejutkan ku


"Semoga dokter yang kau hubungi bisa membuatmu cepat pulih" ucap ku seraya melanjutkan lagi memandikan tubuh Edgar dengan handuk hangat.


"Aku berpikiran optimis, dia pasti bisa! Butuh tiga atau lima hari terapi. Dia dokter yang bergelar professor, juga memiliki tekhnologi canggih. Tolong pindahkan tempat tidur di kamar tamu juga sofa, laci dan perabotan lain di kamar itu. Agar peralatan terapinya juga bisa masuk," ucap Edgar


"Keren sekali dokter itu. Baiklah, aku akan menyuruh pelayan untuk menyiapkan tempatnya," ucapku


"Terimakasih Sayang," ucap Edgar


Tak berapa lama ada yang membuka daun pintu, namun karena dikunci dari dalam ia pun mengetuknya.


Aku berlari kecil dan membukakan pintunya.


Detective Gangga yang datang. Aku lupa belum menghubunginya kembali karena Edgar enggan memperpanjang masalahnya.

__ADS_1


__ADS_2