
Beberapa jam kemudian, alat terapi datang bersama dengan Dokter baru. Edgar langsung diberikan terapi pada kakinya juga beberapa suntikan untuk memberi rangsangan pada ototnya.
Tahukah kalian, berapa satu kali pertemuan terapi? Sekitar seratus ribu Dolar Amerika Serikat, itu sudah termasuk biaya dokter dan serum suntikan. Aku berharap hasilnya akan bagus.
Setelah terapi dan makan siang, Edgar kembali istirahat. Aku membereskan makanannya dan membawanya ke dapur lalu aku kembali lagi untuk menyapu dan membersihkan ruangan Edgar, meskipun ada pembantu tetapi aku tidak ingin manja.
Meja di dekat sofa sedikit kotor, karena ada remahan roti disana. Lalu aku membersihkannya, aku membungkukkan badan. Tak berapa lama ada tangan yang memelukku dari belakang. Aku pikir itu Edgar tapi tidak mungkin Edgar sedang tertidur.
Aku langsung membalikkan badan dan ternyata Poky lah yang sedang memelukku.
Ku buka paksa tangannya yang memeluk ku tetapi pelukannya sangat erat. Dia bahkan mendekati leherku dan berusaha mencium ku ku tepis wajahnya dengan tanganku dan aku berusaha ke luar dari pelukannya.
"Aku mencintaimu Zoya," ucap Poky suaranya terdengar lemah, matanya dan aroma mulutnya bau alkohol.
Poky mabuk
"Lepaskan!" teriak ku
Aku tak peduli jika saat itu Edgar terbangun karena aku sungguh takut jika Poky macam-macam denganku.
Edgar pun terbangun setelah mendengar suaraku tetapi dia tidak dapat bergerak turun dari ranjangnya
"Hey! Lepaskan Zoya!" teriak Edgar
"Haha lihat dia, dia tidak bisa berjalan kemari menyelamatkanmu haha," tawa Poky kemudian memaksa mencium ku.
Aku menghentakkan badanku agar dia melepaskan pelukannya. Terpaksa aku membungkukkan badanku dan ku gigit lengannya.
Dia berteriak kesakitan dan melepaskan aku, Aku berlari dn mengambil gagang sapu, ku ayunkan ke arahnya tetapi Poky dapat menangkap gagang sapu itu dan melemparkan ke arah lain.
Poky menatapku dengan mesum dan terus melangkah mendekati ku. Aku berlari menghindarinya, tetapi dia terlalu sigap dan bisa menangkapku kedalam pelukannya. Aku terjatuh kebawah sementara Edgar terus berteriak memanggil pelayan dan satpam.
__ADS_1
Anehnya mereka tidak ada satupun yang datang.
Poky mengurung ku dalam lingkungannya dia mencengkeram kedua tanganku keatas dan menjepit tubuhku dengan tubuhnya. Dia menguasai ku sementara aku terus meronta agar bisa bebas darinya.
Wajah Poky terlu dekat dan ingin mencium bibirku, aku memalingkan wajahnya dan menutup mataku.
Debaak
Aku terkejut hingga membuka mataku, sebuah darah mengalir di atas kepala Poky, dan pria itu terhitung jatuh diatasku.
Aku langsung menggeser tubuhnya dan keluar dari kungkungannya. Poky pingsan, entah pingsan atau mati aku ketakutan.
Ku lihat Edgar berdiri disana dengan menggenggam tongkat golf.
Aku masih berdebar dan langsung beranjak mendekati suamiku...
"Aku berusaha menggerakkan tubuhku untuk berjalan demi mu Zoya!" ucap Edgar
Seketika hatiku bergetar dan sedikit terharu, karena ku, dia berjuang, berusaha menggerakkan kakinya yang lumpuh untuk menyelamatkan diriku.
"Dia... apakah dia mati?" tanyaku
"Tidak, dia masih hidup, tapi jika kau tidak segera membawanya ke rumah sakit kemungkinan dia akan mati perlahan. Darah itu terus keluar dari kepalanya," ucap Edgar
"Aku akan memanggil ambulans," ucap ku
"Arghh sakit sekali," keluh Edgar
"Kau duduklah,"
"Aku heran kemana semua pegawai! Percuma aku mempekerjakan mereka tetapi tak ada satupun yang datang,"
__ADS_1
"Kau lupa ya, rumahmu ini sebesar apa? Jika mereka tidak benar-benar ada didepan pintu, maka mereka tidak akan dengan percakapan atau teriakan di dalam," ucap ku sambil menunggu sambungan telepon ke rumah sakit terangkat.
Tak berapa lama petugas ambulans datang, aku berharap Poky tidak terluka parah, dia memang bajingan tetapi biar bagaimanapun dia adalah sepupu Edgar
"Aku akan mendampinginya, tante delta dan paman Maxim sudah sampai Perancis jadi tidak ada yang mengurus administrasinya nanti," ucap ku
"Kau terlalu peduli padanya, apa kau mencintainya hah? Biarkan asisten ku yang mengurusnya kau disini bersama ku!" ucap Edgar sedikit marah
"Tapi aku merasakan bersalah karena kau melukainya,"
"Hoh sekarang kau membelanya dan ingin menyalahkan aku?"
"Bukan begitu Edgar,"
"Hmm pergilah, setelah kau tahu keadaanya baik-baik saja, cepatlah pulang," ucap Edgar
"Pasti,kalau begitu aku pergi," pamit ku.
Sesampai ku di rumah sakit
Lagi-lagi aku kembali lagi ke rumah sakit. Setelah memeriksa keadaan Poky dokter keluar dari ruangan.
"Keluarga dari pasien Pierre Ozky," ucap Dokter
"Ya saya dok,"
"Pasien kehilangan banyak darah, kami butuh darah O secepatnya, dan rumah sakit ini tidak ada stok darah O,"
"Golongan darah saya O dok, anda bisa memberikan transfusi darah saya untuknya,"
"Baiklah kalau begitu, segera lebih baik. Tetapi kami akan melakukan transfusi saat pasien di operasi. Kami tidak punya waktu jika harus menunggu transfusi dahulu,"
__ADS_1
Akupun menyetujui yang terbaik untuk Poky. Tak berapa lama aku masuk ke ruangan operasi tepat di samping Poky. Aku yakin sebenarnya Poky tidak berniat menyentuh ku kan. Itu karena pengaruh alkohol di tubuhnya. Dia baik sebelumnya, sebelum saat masalah itu terjadi dia baik dan selalu menjadi pendengarku.
Tak berapa lama kepalaku pening, lalu aku memejamkan mataku setelah itu aku tak ingat apapun.