
Sepanjang perjalanan pikiranku entah kemana, tadinya aku berpikir kehamilan ku ini akan membawa kebahagiaan, tapi aku menjadi sedih karenanya.
Haruskah aku menjadi orang tua yang egois, karena jika aku bercerai nanti, anakku tidak dapat merasakan kasih sayang Ayah kandungnya. Aku juga tidak mungkin menggugurkan benih yang baru saja berkembang ini.
Semua berputar di otakku membuatku salah fokus hingga akhirnya aku hampir menabrak seorang gadis kecil.
Tiiin
Aku mendadak menginjak pedal rem sampai kepalaku terbentur klakson.
Ibunya lekas membawa anaknya ke tepi dan meminta maaf padaku. Ku lihat ada oli di wajah ibunya dan di depannya ada mobil yang ditepikan dengan kap terbuka ada sedikit asap keluar dari kap mobilnya.
Aku melakukan mobilku dan parkir di depan mobil yang terparkir. Ku rasa dia sedang butuh bantuan
"Maaf, aku hampir menabraknya. Dia tiba-tiba mundur dan ada di hadapan ku," ucapku turun dari mobil dan meminta maaf pada ibu dan anak itu.
"Itu salahku karena tidak menjaganya, aku sedang mengecek kap mobilku yang berasap, tapi dia keluar dari pengawasan ku," ucap Ibu itu
"Kau bisa memanggil montir langgananku, kita tinggal meneleponnya dan dia akan datang menghampirimu," ucap Ku
"Oh benarkah, boleh aku meminta nomer teleponnya?"
Aku pun memberikan nomer montir langgananku dahulu. Lalu wanita itu segera meneleponnya.
"Terimakasih, mereka akan segera datang," ucap Ibu itu, Kupikir usianya seumuran denganku
"Apakah dia sekolah di Culbix?" tanyaku karena gadis kecil itu memakai tas bertuliskan Ecole de musique, Culbix (Sekolah musik, Culbix )
__ADS_1
"Oh iya benar, siang ini dia akan pergi les musik,"
"Kalau begitu bagaimana jika ku antar, aku alumni disana," ucap Ku dengan memberinya penawaran. Sekalian aku ingin berkunjung menemui pengajar ku.
Kami pun menunggu sekitar 7 menit, barulah sang montir datang setelah itu aku mengantarkan mereka sembari berbicara tentang sekolah musik .
Sesampainya disana, aku ikut turun dan menemui salah satu pengajar. Rupanya masih banyak yang tetap mengajar disana, wajah mereka sama seperti dulu, kami melepaskan rindu dengan bercerita di depan lobby.
"Aku selalu mengingatmu Zoya, tahu apa yang kuning atau dari mu? Kau selalu berkelahi dengan murid laki-laki haha," ucap salah satu pengajar
"Betul, aku mengingatmu bukan karena kau salah satu yang terbaik tapi tingkahmu lah yang membuat kami mengingatnya," aku pengajar yang lain
"Oh itu buruk kalian mengingat keburukan ku saja haha," kami tertawa dan berbincang sebentar, tak lama satu per satu dari mereka ijin undur diri karena harus mengajar.
"Zoya, kau boleh berkeliling dan lihat-lihat di ruang baca itu ya. Aku permisi mau mengajar," pamit Misty pengajar yang terakhir pamitan undur diri. Aku mengiyakan dan masuk kedalam ruang baca.
Disana ada foto-foto alumni sekolah serta botol-botol kecil berisi harapan kita saat dewasa nanti.
Mereka menyimpannya harapan itu dalam kotak mika transparan dan memasukkannya ke dalam etalase. Disamping kotak itu ada foto kami bersama dalam satu kelas yang dicetak dalam satu frame foto dan dibingkai dengan apik.
"Ini aku...ini Jeanne, dan ini Poky haha, wajahnya masih imut sekali," gumam ku mengambil poto pigura kami
Aku tiba-tiba penasaran dengan isi harapan milik Poky yang saat itu satu angkatan. Aku keluar dan mengamati suasana. Takut jika itu tidak di perbolehkan. Segera aku mengambil botol dengan nama Pierre Ozky. Ku buka dengan lancang dan aku terkejut dengan isinya. Harapan Poky yaitu menikah dengan Zoya yaitu aku sendiri. Dia benar-benar sudah gila. Aku menggulung kertas harapan itu dan memasukkannya kembali.
Aku sampai tak habis pikir dengan harapan Poky, seingatku saat kecil dia selalu saja mencari masalah. Mengejek ku gendut dan bintik, wajahku penuh bintik hitam yang sulit ku hapus. Tak kusangka impiannya senaif itu.
Karena ejekan Poky aku ingat bagaimana aku menangis dan berubah menjadi kurus. Memory yang hampir ku lupakan. Aku bahkan lupa wajahnya saat kecil, tapi kenapa dia bisa mengenaliku saat bertemu lagi.
__ADS_1
"Zoya, kau masih disini?" sapa salah satu pengajar
"Iya, aku sedang melihat fotoku dan anak-anak yang lain," ucapku. Mana mungkin aku berkata aku akan membuka botol harapan itu.
Sebenarnya aku tidak percaya impian itu akan terjadi hanya dengan menulis di kertas lalu memasukkan kedalam botol tetapi pengajar di sana membuat sebuah motivasi diri, jika kita harus meraih impian tersebut.
Tak berapa lama ponselku bergetar ada perantara yang mengirimkan notifikasi. Detective Takada menghubungi ku. Dia baru saja menerima paketku, alat dashcam yang ada di mobilku saat itu. Aku mengirimkannya melalui kurir saat akan terbang ke Perancis.
Aku tidak bisa membuka dashcam tersebut, aku juga tidak bisa mengeluarkan SD cardnya. Tidak ada tombol apapun. Jadi ku kirimkan saja pada Detective dan membiarkan dia bekerja dan menyelidiki lebih lanjut.
Tak kusangka mereka telah memperbaiki dashcam yang hampir rusak. Terlihat jelas disana mulai dari Taeda yang mengerjai mobilku. Lalu Edgar yang memakai mobilku dan menjemput Julia ditengah jalan sebuah mobil menghentikan Edgar. Rupanya yang menghentikan mobil itu adalah Xiaonian, mereka sempat bertengkar.
Aku memilih untuk melihat video itu nanti, dan mulai membaca analisa penyelidikan Detective. Mereka tidak hanya melihat rekaman yang ada pada dashcam, tetapi juga menyambungkan cerita satu dengan lainnya.
Dalam pesannya Detektif itu mengatakan jika Xiaonian menyuruh Taeda untuk merusak mobilku. Tetapi Taeda yang saat itu tidak tahu jika yang memakai mobilku adalah Edgar.
Xiaonian cepat-cepat mengejar Edgar dan menyusulnya hingga memberhentikan mobilnya. Tetapi melihat Julia ada di sebelah Edgar membuat Xiaonian marah. Kedua perempuan itu terlibat aksi perkelahian, Julia menarik rambut Xiaonian hingga rontok dan Xiaonian mencekik Julia.
Edgar mulai kewalahan dan menyuruh Julia keluar dari mobilnya. Xiaonian yang berniat memberitahukan bahwa Edgar harus meninggalkan mobilku malah lupa akibat pertengkarannya dengan Julia.
Akhirnya beberapa kilometer dari tempat kejadian, Edgar kecelakan, awalnya karena rem tidak berfungsi dan berlanjut pada kebocoran oli membuat mesin rusak dan panas.
Xiaonian menceritakan semuanya pada Edgar sebelum Ayahnya dan keluarganya pulang ke Perancis. Edgar yang begitu mencintai Xiaonian tidak ingin wanitanya terlibat masalah, jadi bagaimanapun kesalahannya, Edgar akan menghentikan penyelidikan.
Aku membacanya dengan seksama, bahkan aku membacanya sambil keluar cari ruangan dan menuju lobby. Tak ku sangka, Xiaonian sejahat itu. Dia ingin menyingkirkan Julia dengan memasukkanku ke kehidupan Edgar. Setelah Edgar memutuskannya, kini Xiaonian ingin mencelakaiku?
Aku harus menyerahkan bukti ini dan semua penyelidikan ini ke kantor polisi, kembali ke Jepang untuk menangkap Xiaonian. Detektif sudah menyusun semua laporan dan bukti-bukti dari hasil penyelidikannya, bahkan riwayat telepon pun, rekaman telepon juga disertakan.
__ADS_1
"Terimakasih Detektif, aku akan ke Jepang dalam waktu dekat, tapi tidak sekarang," balas ku dalam pesan itu.
Xiaonian, aku akan memasukkan mulai kedalam penjara. Kau menargetkan ku sebagai korban dan sengaja mencelakai diriku tapi takdir berkata lain, Edgarlah yang mengalami musibah, batin ku