Cherry Blossom

Cherry Blossom
Pertengkaran


__ADS_3

Ku benamkan wajahku dibawah guyuran air shower, air hangat terus mengalir membasahi seluruh tubuhku. Semua rasa sedihku seketika luntur dan menghilang sedikit rileks, melepaskan kesedihanku dalam tangisan. Cukup saat ini aku menumpahkan segala tangisanku untuk laki-laki brengsek yang mempermainkan hidupku.


Di Apartemenku yang kecil, ku pandangi jalanan dengan masih memakai bathrobe, kepalaku masih terbungkus handuk kecil sambil memegangi segelas kopi.


Persis seperti yang pernah ku lakukan dengan Edgar, bedanya saat itu aku tidak memakai bathrobe.


"Kau diluar seperti itu, dingin Zoya," ucap Ayahku yang terbangun mungkin mendengar aku saat membuat kopi


"Hmm Ayah... hanya sebentar itu tidak akan membuatku sakit," jawabku padahal sakit yang sebenarnya adalah dalam hatiku


"Besok Ayah pulang ke Perancis, tidak usah diantar. Aku bisa sendiri," ucap Ayahku


"Akan ku antar. Kau satu-satunya orang tuaku maka aku akan mengantarkanmu hingga Perancis. Sekaligus ada yang ingin ku temui,"


"Lalu bagaimana dengan Edgar? Dia sedang sakit kan?" tanya Ayah


"Dia bukan anak kecil Ayah, dan lagi banyak pengasuh yang bisa menjaganya,"


"Pengasuh?" tanya Ayahku tak mengerti


"Perawat dan pelayan maksudku Ayah," buru-buru ku perbaiki ucapanku hah padahal yang ku maksud adalah pengasuhnya yang terus memberikan susu pada suamiku itu siapa lagi kalau bukan Xiaonian dan Julia


Aku belum mendapatkan rekaman yang jelas saat mereka melakukan hubungan. Karena jika ingin bercerai dalam agamaku, aku tidak bisa menggugatnya dengan asal. Harus jelas alasannya dan harus ada perkataan yang pasti dari Edgar jika dia tidak mencintaiku


"Baiklah kalau begitu, Ayah kembali tidur dulu ya, kau jangan terlalu lama diluar," ucap Ayah


Lalu kubalas dengan senyuman


Hari berganti dengan cepatnya, ku lihat handphone ku yang sedang di charge. 100kali panggilan, apakah dia tidak bosan menelepon ku hingga batrei handphone ku lowbat. Edgar pasti kalang kabut mencariku dan tanpa kabar.


Saat ku mulai berkemas, aku melupakan sesuatu. Pasporku ketinggalan di Mansion Edgar. Ooh Shiit bagaimana aku bisa meninggalkan benda sepenting itu disana.

__ADS_1


Masih ada waktu, karena Ayah akan pulang siang nanti jadi secepatnya aku kembali ke Mansion Edgar dan mengambil paspor ku. Itu mudah pasti tidak akan memakan waktu.


Jadi sesampainya disana, ku parkir mobil Edgar tepat di depan pintu masuk dan berlari kecil ke kamarnya, mengambil paspor ku yang ku tinggalkan dalam koper.


Tetapi suara Edgar bergema memanggil namaku dengan kerasnya.


"Zoya!"


"Aku buru-buru," ucapku dan melanjutkan langkahku menaiki anak tangga menuju kamar ku diatas.


Praaaang


Sebuah vas bunga melayang tepat beberapa anak tangga diatasku


"Aku memanggilmu kemari," teriak Edgar lagi


Tinggal beberapa langkah lagi aku sampai dan ku teruskan saja pergi keatas. Ku ambil secepat mungkin paspor yang ku taruh di koper. Lalu ku sembunyikan di balik pakaianku.


Aku turun,m dengan cepat, tetapi dibawah sudah banyak satpam yang berjaga serta 7 pelayan sudah bersiaga mungkin untuk mencegah diriku pergi.


"Sebelum itu kau darimana hah?" tanya Edgar yang masih berdiri memakai jemuran kecil untuk menyangga dirinya.


"Aku dari bengkel lalu ke apartemen," jawabku


"Hah kau sudah mulai berbohong ya? Kau menemui Poky malam itu sebelum pulang ke apartemen,"


"Dari mana kau tahu? Kau mengirimkan orang untuk menguntit diriku?" ucapku


"Ya, aku terpaksa karena kau tidak bisa dipercaya,"


"Oh haha jadi hanya kau disini yang boleh berkata bohong?" aku mendekati Edgar dengan menaikkan alisku dan berkacak pinggang.

__ADS_1


"Kau tidak tahu kesalahanmu? Kau bercinta dengan Xiaonian!!" teriakku.


Edgar nampak kaget


"Kau pikir aku bodoh? Kenapa? Lalu kau mau apa jika aku dekat dengan Poky? Haha," aku tertawa lalu aku berbisik di telinganya.


"Kalau kau ingin menceraikan aku silahkan, aku terima dengan senang hati," ucap ku berbisik di telinganya.


Tetapi yang terjadi aku bagaikan mangsa yang menyerahkan diri, dia mencekik ku dengan satu tangannya.


Para pelayan dan penjaga disana tak ada yang menolong ku padahal aku sudah di ambang batas, wajahku memerah karena dia menekan leherku dengan amat kuat


Tetapi ada satu pelayan yang akhirnya berani maju dan berbicara


"Tuan, maaf tuan, Nyonya bisa kehabisan oksigen Kau bisa membunuhnya," ucap Pelayan itu


Ku perhatikan namanya dari label seragam yang dikenakannya, Sovia.


Tak berapa lama Edgar melepaskan cengkeramannya dan mendorong ku dengan amat kuat.


Sovia menangkap ku agar aku tidak terjungkal ke belakang.


"Dengar Zoya, aku tidak suka istri pembangkang sepertimu. Aku akan lembut jika kau menurut, mengerti?" tukas Edgar kemudian meninggalkan ku dengan berjalan membawa alat penyanggah miliknya.


Aku segera berdiri dan merebut alat yang dia pakai. Aku jahat karena aku bisa membalas perlakuannya. Aku juga manusia bukan malaikat.


Ku rebut alat penyangga miliknya dan ku lemparkan ke arah lain. Beberapa gucci pecah terkena alat penyangga yang ku lempar.


Sedangan Edgar terhuyung dan ingin terjatuh jika tidak segera di tangkap seorang satpam.


"Dengar, aku bukan wanita yang bisa dikekang. Aku tahu batasan ku. Aku tidak akan selingkuh dan mendekati pria lain seperti yang kau lakukan padaku. Aku akan pergi menemani Ayahku ke Perancis. Ku harap kau menjadi anak yang baik ketika aku tidak ada di rumah. Apa kau mengerti Edgar Leonard Aldrich," ucapku.

__ADS_1


Ku lihat tatapan kemarahan di matanya. Dia ingin mengintimidasi ku tetapi kelumpuhannya membuat sang Edgar tidak bebas bergerak.


Ku tinggalkan Dia dalam kemarahan, dan kembali ke apartemen lamaku.


__ADS_2