Cherry Blossom

Cherry Blossom
Derita


__ADS_3

"Haha wanita cerdas...Tapi..kau tak pantas menyandang nama Aldrich karena kau tidak bisa mencintainya seperti aku mencintai dirinya. Aku rela berbagi dengan wanita yang dia sukai. Ternyata mengusir Julia adalah kesalahan, Kau lebih buruk dari Julia," ucap Xiaonian mendorong ku keras hingga bokongku terjatuh ke lantai beton.


"Ahh...," rintih ku. Ku harap kandunganku yang sedang tumbuh, baik-baik saja


Penutup wajah itu diambilnya dan aku kini dapat melihat jelas, wanita ular di depanku.


"Dari mana kau tahu aku disini, dan seharusnya kau berada dalam tahanan," sahut ku


"Kau ingin, memenjarakan ku! Hah? Edgar tersayang sudah menebusnya tentu saja dia rela melakukan apapun demi aku. Dan seharusnya kau tidak meninggalkan Edgar disaat dia membutuhkanmu,"


"Hah untuk apa aku bersama dengan orang yang hanya memanfaatkan diriku. Dia tidak tulus mencintaiku, semua ucapannya omong kosong, protektif, tapi dia sendiri bermain dengan wanita lain di belakang ku,"


"Lepaskan dia," ucap Xiaonian menyuruh bodyguard nya melepaskan ikatan tali yang mengikat di tubuh ku lalu dia duduk sambil merokok


"Kau benar, dia tidak pernah mencintaimu. Semua di lakukan karena kau adalah asetnya. Gara-gara wasiat terbodoh dia harus menikahi mu, dan... aku tidak ingin kau menghancurkan rencanaku dan Edgar,"

__ADS_1


Aku berdiri dan langsung menghampirinya sambil berkata, "Aku tahu kau tujuanmu, smua karena harta kan? Kau tidak bisa melepaskan Edgar karena kau hanya membutuhkan uangnya. Aku juga bisa lihat ekspresimu saat Edgar bersetubuh dengan Julia di ruangan kantor saat itu. Kau tercengang dan terpaku sepertiku. Kau terlihat memendam luka....,"


"Cukup!!" teriak Xiaonian memutuskan ucapanku. Aku senang dia kesal. Dia membuang putung rokok yang belum habis lalu menginjaknya melampiaskan kekesalannya


Aku diam


"Kau tidak tahu apapun tentang aku. Aku bertahan demi anakku. 9 tahun hidup bersama Edgar, terus bercinta tanpa pengaman, tetapi hanya berstatus kekasih. Siapa yang lebih kasihan, kau atau aku? Aku bertahan karena anakku! Anakku dan Edgar...,"


Xiaonian berbicara denganku dengan amat sangat dekat


Xiaonian mengambil napas dalam dan pergi di tepi bangunan melihat kota Paris dari atap.


"Kenapa kalian tidak menikah? Kenapa harus mengharapkan wasiat tetapi kau mengorbankan perasaanmu dan keluarga kecilmu," sahutku mendekatinya


"Memangnya mudah hidup tanpa harta hah? Kekayaan Elisabeth bisa mencukupi tujuh turunan ku tanpa harus bekerja. Aku mendampingi Edgar dari nol dan sampai usahanya maju sebesar ini, lalu apakah salah aku mengharapkan harta yang lebih untuk statusku yang tak pernah diakui dikeluarganya?" Xiaonian mencurahkan isi hatinya

__ADS_1


"Aku tidak ada urusannya dengan masalahmu, lalu kenapa kau ingin melenyapkan aku? Ku tegaskan skali lagi, Aku akan meninggalkan Edgar secepatnya. Aku bukan wanita yang hanya dinikahi dinikmati dimanfaatkan lalu dibuang begitu saja. Aku juga ingin sebuah keluarga yang bahagia tanpa orang ketiga keempat atau kelima sekali pun,"


Aku ingin pergi meninggalkan Xiaonian, tetapi wanita itu menarik lenganku mencegah ku pergi lalu mencengkeram kerah bajuku yang tak berkerah


"Dengar Zoya, cara tercepat mendapatkan wasiat itu adalah dengan membunuhmu," ucap Xiaonian


"Apa?" Aku diam sedikit mencerna ucapan Xiaonian.


Tanpa ku sadari Xiaonian mendorong ku ke tepi lalu menendang ku. Aku tak bisa menjaga keseimbangan tubuhku hingga aku melayang di udara kemudian terjatuh tanpa bisa berpegangan dengan apapun.


"Tolooooong," teriakku tetapi terlambat karena aku sudah melayang dan hendak jatuh.


Dengan kesadaran tinggi aku memeluk rahimku, ada benih yang sedang berkembang disana. Berharap Ku tidak mati saat itu juga.


Punggung ku terjatuh lebih dulu menghantam keras mobil yang terparkir disana. Kepalaku memecahkan kaca mobil lalu aku jatuh ber gelinding dengan tubuh yang terlungkup dan seketika ku rasakan ada darah yang mengalir dari kepalaku hingga mengalir ke wajahku. Tendangan Xiaonian yang amat keras, mengenai organ dalam ku, membuatku mengeluarkan darah yang mengalir dari dalam mulutku, secara bersamaan bunyi alarm mobil terdengar seakan memanggil para penghuni, pengunjung ataupun penjaga disana.

__ADS_1


Pandanganku mulai gelap, dan setelah itu aku tidak bisa melihat apapun. Mataku tertutup namun aku masih dapat mendengar hiruk pikuk orang, bunyi sirine dan suara petugas yang mengamankan. Kepalaku tak kuasa menahan sakitnya hantaman keras, terasa amat pusing hingga akhirnya aku tak sadarkan diri.


__ADS_2