Cherry Blossom

Cherry Blossom
Part Kedua di Paris


__ADS_3

Hari kedua ku di Perancis, masih sama dengan keadaan hati yang rapuh. Aku membuka mataku. Terlihat merpati cantik berterbangan di kamarku menabrak benda yang ringan, menjatuhkannya. Dia benar-benar tidak bertanggung jawab.


Mentari sudah naik ke atas, aku terbangun di pukul sembilan pagi. Seberat itu kah melupakan rasa cinta. Aku sudah melupakannya tapi rupanya perasaanku, dari hati yang terdalam pria brengsek itu masih menjadi juaranya. Sial.


Ku raih handphone yang ku taruh di atas meja rias. Aku sengaja mematikan kedua handphone ku itu sehingga semalaman aku bisa pulas. Setelah ku nyalakan, banyak notifikasi pesan yang masuk berdenting beriringan seperti sedang memainkan musik.


Aku menaikkan alisku, membulatkan mataku, dan mulutku menganga sembari berkata, "Oh My God,"


Detective yang ku sewa sudah mengajukan laporan tuntutan ke pengadilan.


Aku senang sekali, satu langkah maju ke persidangan dan di terima.


Xiaonian ditangkap atas tuduhan percobaan pembunuhan. Bukti yang kuat membuatnya harus mendekam di balik jeruji sementara. Namun aku yakin, Edgar pasti tidak akan membiarkannya. Dia akan melakukan segalanya demi kekasihnya itu agar tidak dimasukkan kedalam bui.


Aku juga sudah mengurus proses perceraian ku. Ku percayakan semuanya pada Detective Takada, dia punya kenalan seorang pengacara yang terbaik. Ku harap pengacara itu dapat langsung memprosesnya. Semua ku lakukan tanpa sepengetahuan Ayah.


Tapi yang sangat membuatku kesal, gugatan perceraian dan tuntutan kasus percobaan pembunuhan tak bisa langsung di putuskan saat itu juga. Sidang itu akan dilangsungkan dua bulan ke depan, sungguh mengecewakan.


Aku beralih ke pesan selanjutnya, dari Edgar. Dia marah dan berkali-kali menghubungi nomerku. Dia mengatakan jika ingin menemui ku secepatnya. Ku biarkan saja tidak ku balas dan langsung beralih ke kamar mandi


Usai ku mandi dan tampil cantik, ku melangkah kaki pergi ke bawah. Sialnya adikku sedang ada disana bercinta dengan kekasihnya.


Oscar duduk bersandar pada sofa ruang tengah dan kekasihnya duduk di pangkuannya menghadap dirinya. Dengan pakaian setengah terbuka. Mau apa dia sudah pasti mau ngasih susu kayaknya. Ahh skip aja lah


"Hmm Uhuk uhuk," aku sengaja terbatuk, agar Oscar dan kekasihnya menghentikan aksinya.


Ku lihat dari kejauhan, kekasihnya turun dari pangkuan dengan tergesa-gesa sambil membenahi pakaiannya


"Haii... ada calon adik ipar rumahnya," ucapku. Sungguh aku lupa namanya.


"Kak Teresa sudah bukan calon lagi, tapi sudah pasti ya kan sayang," ucap Oscar


Ah iya Teresa namanya


aku sungguh iri melihat kebahagiaan adikku dan kekasihnya itu, semoga Tuhan segera menyatukan kalian ke jenjang pernikahan. Satu tahun lagi rencana pernikahannya, tapi bagiku itu waktu yang lama.


.


"Ah kalian sungguh pasangan yang manis, lanjutkan lagi ya. Aku mau pergi," ucapku


"Kau tidak sarapan? Teresa sudah masak dan masakannya sangat enak," sahut Oscar

__ADS_1


"Hmm mungkin lain kali ya, maafkan aku....Aku sudah terlambat, temanku sudah menunggu," ucapku.


"Tidak apa, lain kali aku akan memasak khusus untukmu," sahut Teresa


Dia baik sekali, senyumnya ramah, ku harap cintanya juga tulus


Akhirnya aku pergi meninggalkan mereka berdua. Beberapa langkah ku setelah keluar, Oscar mengunci pintunya, astaga kelakuan Anak itu Aku hanya bisa menggelengkan kepala.


.


.


Restaurant De Hauten (Nama Disamarkan)


Ivone temanku, ingin merayakan kedatangan ku sekaligus pesta kecil Dia tidak bilang pesta untuk apa, dia hanya bilang jika aku harus datang.


Suasana restoran tersebut sangat mewah. Ada panggung kecil untuk hiburan di restoran tersebut. Siapapun bisa mengisinya, jika mau.


Aku sebenarnya kurang suka makan ditempat mewah. Bukan karena mahal, tetapi porsi makannya yang terlalu sedikit, haha ada yang sama denganku?


Disana sudah berkumpul teman-teman SMA ku, Ivone berkata akan mengajak tiga teman yang lain untuk menyambut kedatangan ku tetapi satu orang belum datang.


Mereka semua memberiku selamat, oh sungguh membuat ekspresiku menjadi sangat kacau. Selamat untuk apa? Aku sama sekali tidak bahagia, mungkin sedikit karena ada benih yang sedang berkembang dalam tubuhku


Tak berapa lama seseorang memainkan piano, aku pernah mendengar irama itu, sudah lama sekali. Tapi dimana? Ku ingat-ingat mungkin saat aku kecil.


Ku berbalik dan melihat siapa yang bermain piano, tetapi wajahnya tidak terlihat. Aku memposisikan duduk ku kembali dan bercerita tentang hal lain yang kami rindukan.


Sampai kami selesai dan akan mengakhiri acara, temanku yang satu itu tidak juga datang. Lalu, aku bertanya pada Ivone


"Iv, Dia yang kamu undang yang tidak datang, siapa namanya?" tanya ku


"Dia Ed...," ucap Ivone


Entah kenapa jantungku mendadak berpacu dengan cepat, lutut ku langsung melemas


"Edward, haha kau pikir dia suamimu Edgar?" ucap Ivone


"Kau membuat jantungku berdetak," ucapku


"Haha jantungku memang berdetak, kalau tidak mungkin kau bukan manusia," ucap Frans penuh tawa juga temanku lainnya.

__ADS_1


Mereka tertawa lepas, tetapi aku sama sekali tidak bisa tertawa saat mendengar nama Edgar, meskipun itu lelucon.


Aku dan lainnya mengakhiri pertemuan, kami berpisah selepas keluar dari restoran.


Seseorang seperti sedang membuntuti ku di Dibelakang, sungguh aku takut sendiri. Takut jika yang membuntuti ku adalah Edgar.


Lekas ku tolehkan kepalaku bersamaan dengan badanku.


"Poky," aku terkejut.


"Ya, aku disini,"


"Hmm ini suatu kebetulan atau kau sengaja membuntuti ku?" tanyaku


"Tidak, ku rasa ini kebetulan. Lihat...Aku masih membawa koper,"


Q"Oh Wow...," aku tidak bisa berkomentar


"Aku pulang cepat karena ada pertemuan dengan klien di restoran ini," ucap Poky


"Hmm bisakah aku numpang pulang?" tanya Poky sedikit ragu


Tak berapa lama pria lain melewati Poky dan menyapanya


"Tuan Pierre, saya pikir Anda sudah pulang sedari tadi," ucap seorang pria lalu mendekati Poky.


Penampilannya rapi, berjas dan membawa tas kerja.


"Oh, Saya menemui teman dahulu,"


"Teman atau kekasih haha, maaf hanya bercanda. Kalau begitu saya duluan ya. Dan jangan lupa besok di waktu dan tempat yang sama kita bahas kerjasama kita lagi," ucap pria itu sepertinya terburu-buru.


Poky hanya tertawa kecil dan mengiyakan ucapannya bersamaan dengan melambaikan tangannya.


Jadi benar dia memang sedang bertemu kliennya. Ku pikir dia sedang berbohong. Gara-gara Edgar aku jadi tidak mudah percaya pada semua pria.


"Hmm masuk lah Tuan Pierre, saya akan mengantarkan Anda pulang," kekeh ku seraya meledek dirinya


"Zoya...haha kau membuatku seperti seorang sultan,"


Aku dan Poky pun tertawa bersama.

__ADS_1


__ADS_2