
Ku parkirkan mobil Edgar di tepi jalan, dan keluar dengan segera. Meski masih ada beberapa waktu untuk penerbangan tetapi Aku takut jika orang suruhan Edgar menghalangi kepergianku.
Tak butuh waktu lama, aku dan Ayah keluar dari apartemen dengan sukses dan perjalanan ku sampai bandara tidak ada yang mengusik.
Sepertinya Edgar tidak berusaha menghentikan ku karena aku sempat memintanya untuk menceraikan ku. Jadi ku pikir mungkin di sedikit takut.
Ku harap kamera mini yang ku letakkan di beberapa tempat tidak ketahuan sebelum aku bisa menangkap basah mereka.
Sambil menunggu jadwal penerbangan, ku ajak Ayah untuk makan di sebuah restoran Jepang. Dua jam lagi jadwal keberangkatan kami terasa sangat lama.
"Kau bersikeras ingin ke Perancis. Kau baik-baik saja kan?" tanya Ayah seakan memahami diriku
"Aku baik-baik saja," ucapku
"Edgar baru saja mengirim ku pesan jika kalian bertengkar karena masalah Poky, apa itu benar?" tanya Ayahku
Apalagi ini, dia mengadu seakan-akan dialah korbannya. Pecundang!
"Aku menemui Poky hanya melihat keadaannya di rumah sakit Ayah, bukan soal aku bermesraan dengannya Poky, Edgar salah paham dan menuduhku yang bukan-bukan," ucap ku membela diri
"Kalau begitu bicarakan dengannya baik-baik," ucap Ayahku
"Sudah ayah, aku sudah bicara dengannya, tapi dia tetap berpendapat dugaannya itu benar. Aku ke Perancis ingin menemui temanku, dia ingin mengajakku untuk berbisnis," ucapku beralasan lain.
__ADS_1
Padahal yang sebenarnya Aku ingin bertemu dengan pengacaranya Edgar dan berbicara soal warisan. Aku ingin pengacaranya tahu soal pernikahanku yang sebenarnya.
Untung saja Ayahku percaya dan kemudian dia diam menikmati makanannya. Ku buka handphone ku dan menyalakan aktivitas rekaman yang ditangkap kamera mini ku.
Edgar terlihat menelepon seseorang, Aku memakai earphone agar apa yang dia bicarakan jelas terdengar.
"Bagaimana dia tahu jika kita berhubungan?" Edgar terlihat kesal
Pasti dia sedang menelepon Xiaonian
"Pasti Poky yang membongkarnya, apa? Hemm mungkin kau juga ada benarnya.. ada seseorang yang di jadikan mata-mata dalam rumah ini, mungkin orang itu Sovia....,"
"Ya, dia yang membela Zoya saat aku tak bisa mengendalikan emosiku,"
Edgar terus meracau hal lain sampai akhirnya dia memutuskan sambungan teleponnya. Tak berapa lama dia keluar dan memanggil Sovia, juga para pelayan lainnya.
Semua terekam jelas dari kamera pengintai yang sangat canggih. Ku lihat disana setelah semuanya berkumpul, Edgar menarik Sovia dan menarik rambutnya sekan mengancam sesuatu.
Lalu ada seorang pelayan yang maju dan menghentikan tingkah Edgar yang seperti kerasukan.
Aku tidak jelas apa yang mereka bicarakan. Aku pun keluar dari jendela salah satu rekaman kamera dan mencari kamera lain yang jaraknya lebih dekat dengan Edgar dan semua pelayan. Tetapi betapa terkejutnya aku saat Edgar melihat kamera miniku. Dia memandangnya lekat sambil membolak balikkan kamera dan kemudian berkata.
"Hah Zoya! Kau menggunakan kamera mini ini untuk memata-matai ku hahaa... Selamat tinggal!" Edgar menjatuhkan salah satu kamera miniku yang ditemukan sang pelayan dan menginjaknya hingga remuk.
__ADS_1
Habis sudah, aku tidak dapat menunjukkan bukti yang valid. Harapanku masih tersisa yaitu kamera mini yang sempat ku taruh di kantornya. Semoga saja tidak ditemukan pelayan kantor.
Ku amati dari kamera lainnya, Edgar menyuruh semua pelayan mencari kamera-kamera mini yang mereka temukan. Satu persatu kamera itu di temukan dan dihancurkan. Ada dua yang belum mereka temukan, yaitu dari atas ventilasi tetapi jaraknya sangat jauh yaitu di depan ruang tamu.
Ku tutup handphone ku dan hanya pasrah dengan keadaan berharap keberuntungan masih memihakku
Tepat pukul 12 siang, pesawat kami lepas landas dan mulai terbang menuju Perancis. Aku memiliki perjalanan non stop tanpa transit. Sudah pasti hal itu akan melelahkan duduk dan rebahan hampir setengah hari karena perjalanan akan memakan waktu sekitar 14 jam, 35 menit.
Pukul 7 malam lebih 35 menit. Kami tiba di Perancis. Jepang dan Perancis berbeda waktu 7 jam, lebih cepat waktu wilayah di Jepang.
Ku hirup udara malam saat keluar dari pintu pesawat. Aku merindukan Perancis. Ku ingat terakhir kali aku pulang adalah saat dimana Edgar membicarakan pernikahannya di rumahku.
Ahh untuk apa aku mengingat itu, sangat menyakitkan.
Saat ku nyalakan ponselku, media chatingku terus memberikan notifikasi pesan. Edgar terus berceloteh lewat whatsapp.
Isinya awalnya dia marah-marah dan semakin lama dia seperti mengemis memintaku untuk pulang. Tak ku balas, karena malas.
Lalu ku buka pesan dari Poky, dia menuliskan pesan jika sudah sampai untuk mengabari dirinya.
Hah Poky tidak pernah memintaku untuk menghubunginya, pasti Edgar yang datang padanya mungkin untuk memperingatkan saudara sepupunya itu, lalu ku tebak Edgar pasti meminjam handphonenya dan mengirim pesan padaku seolah-olah itu adalah Poky.
Aku tidak akan percaya dengan mudahnya Edgar dan lagi cara penulisan Poky tidak pernah di singkat-singkat seperti ini.
__ADS_1
Oscar menjemput Aku dan Ayah di bandara, dan mampir di kedai makanan sebelum pulang kerumah. Kehadiran Oscar membuatku lupa akan kesedihanku. Dia memang adik yang bisa menghiburku walau sebentar.