
Pria itu menarikku kasar keluar apartemen dan menutup pintunya. Entah kemana dia akan membawaku.
"Edgar, sakit," ucap ku seraya enggan pergi karena aku sedang memakai piyama tipis.
Edgar berhenti beberapa langkah masih di lorong pintu menuju apartemenku
"Pulang ke Mansion," ucapnya dengan marah.
Harusnya aku yang marah dan menanyakan soal video itu.
"Masih ada ayah di apartemenku dan aku tidak mungkin meninggalkan dia tanpa pamit," ucap ku menjelaskan
Tapi yang terjadi dilepaskan tanganku sambil mendorongku.
"Jadi kau lebih memilih tinggal di apartemenmu karena kau bisa bebas bertemu dengan pria lain?" Edgar berucap dengan nada marah. Aku takut suaranya mengganggu penghuni lain dan terutama aku takut jika ayah mendengar keributan itu.
"Apa maksudmu? Aku pergi dengan Oscar, dia adikku. Dan Ayahku masih disini," ucapku
Tak berapa lama dia merogoh jasnya yang tidak terkancing. Di bagian dalam ada saku besar yang bisa menyimpan apapun. Edgar mengeluarkan beberapa foto.
Satu lembaran kertas foto itu tersangkut di dadaku dan yang lainnya berjatuhan di lantai.
Ku lihat foto itu menampakkan diriku dan Poky. Seseorang menangkapnya dan mengambil dari sudut belakang Poky yang saat itu hendak meniup mataku yang terkena debu tetapi dari angle foto itu terlihat seakan-akan aku dan Poky berciuman.
"Dengar, aku sudah... " Edgar marah lantas aku memotong ucapannya.
"Jadi kau mengirim orang untuk memata-mataiku laku kau dengan mudahnya menuduhku selingkuh dengan Poky?" tanya ku
"Hah kau mengakuinya sendiri kan kalau kau selingkuh dengan Poky, apa aku salah jika aku mengirim orang untuk memata-mataimu? Aku marah padamu Zoya!"
"Aku berani bersumpah, aku dah Poky tidak melakukan apapun. Dia hanya membantuku meniup mataku yang terkena debu. Dan akulah yang harusnya marah padamu. Kau bertemu dengan Julia dan kalian berciuman berpelukan. Jadi apa hanya kau yang boleh selingkuh?" Aku menjelaskannya dengan suara pelan tetapi penuh dengan tekanan
Edgar mengerutkan dahinya. Untung saja aku mengantongi ponselku dan ku perlihatkan saja video yang dikirimkan seseorang tanpa identitas.
Tapi yang terjadi setelah Edgar melihatnya dia malah tertawa
"Kenapa kau tertawa? Apa ini lucu? Apa aku sebuah permainan untukmu?...." ucapku dan menahan tangis. Aku harap Edgar tidak memperlakukan ku seperti itu
"Aku bodoh... seharusnya aku mengontrol diriku untuk tidak mencintai pria seperti mu!" ucapku mendorong dada Edgar dan pergi kembali ke apartemen ku
__ADS_1
Edgar menarik lenganku seraya memanggil
"Hey dengar! Itu video lama," ucap Edgar menghentikan tawanya.
Aku berhenti setelah dia mengatakan jika itu hanya video lama.
"Benarkah?" tanyaku seraya menyelidikinya
"Aku telah memilih mu, aku mengakhiri hubunganku dengan Julia . Dia tidak terima dan aku rasa dia ingin membalaskan dendam," jelas Edgar
Kami terdiam mengambil kesimpulan sendiri. Dia juga terlihat memikirkan sesuatu. Lalu mulai berpikir dengan apa yang kita lakukan. Bertengkar karena cemburu.
"Kau... barusan kau mengatakan kalau kau mencintaiku?" tanya Edgar memastikan pendengarannya
"Aku tidak mengatakan itu," tepisku karena tidak ingin mengungkapkan dahulu tetapi aku keceplosan soal perasaanku
Edgar melangkahkan satu kakinya lebih dekat denganku. Menggenggam kedua tanganku dan dia mengecup punggung tanganku sembari melihat kearahku
"Aku mencintaimu Zoya. Aku tidak tahu kapan hal itu terjadi tapi yang jelas kehadiran Poky membuatku cemburu. Aku cemburu hingga aku rela meninggalkan pekerjaanku, kehilangan milyaran dollar hanya untuk menemuimu," ucap Edgar
Terdengar gila, aku bahkan tidak menyangka dengan apa yang dilakukannya.
"Aku tidak ingin kehilanganmu, kau milikku dan akan selamanya milikku," ucap Edgar , ada nada egois dalam ucapannya
"Apa kau serius dengan ucapanmu? Bagaimana kau bisa mencintaiku dalam waktu sesingkat ini?" ucapku masih tidak percaya
"Love is Magic," ucapnya semakin mendekatiku.
Aku bisa merasakan aroma tembakau dari napasnya, aroma wiskey juga tertinggal di mulutnya dan wangi feromon yang ku sukai darinya.
Mengecup ku sangat dalam, menekan tengkukku, agar tak melepaskan cumbuannya dan satu tangannya membawa pinggang ku untuk dekat dengan tubuhnya.
Setelah melepaskan rindu lewat kecupan Edgar membungkukkan badan, aku tidak tahu apa yang ingin di lakukannya, rupanya pria itu menggengdongku di bagian depan.
"Silangkan kakimu di pinggangku," bisiknya memintaku untuk melakukannya
Aku pun menyilangkan kakiku dan kedua tanganku berpegangan di lehernya. Edgar mengecup bibirku lagi sembari berjalan menuju apartemenku.
"Apa sandinya," tanya Edgar
__ADS_1
Pintu ku terkunci jika di buka dari luar, dan aku terkejut saat dia menanyakan apa sandinya. Karena sandinya baru saja ku ubah menjadi tanggal pernikahan kita.
"300322," ucapku sedikit malu
"Wow, so sweet," puji Edgar.
Dia menekan sandi dengan satu tangannya dan satu tangannya lagi masih membawaku. Seenteng itukah aku?
Kami masuk kedalam, Edgar tidak menurunkan ku dan saat aku ingin turun, dia tidak mengijinkan.
"Dimana kamarmu?" tanya Edgar sambil berbisik
"Di sebelah kanan," ucapku seraya menunjuk, "Turunkan aku," pintaku lagi
"Tidak akan," jawab Edgar cepat lalu berjalan menuju kamarku
Jantungku berdegup sangat kencang, semakin kencang saat pria yang telah menjadi suamiku ini menutup pintu kamarku dan menguncinya.
Tiba-tiba aku teringat dengan apa yang di bisikkan Edgar saat di kamar mandi. Yang tidak sempat ku dengar dengan jelas. Dengan polosnya aku bertanya lagi.
"Kau yakin ingin mengetahuinya?" tanya Edgar tersenyum
"Iya, kau membuatku penasaran," pintaku
Edgar merebahkan ku di ranjang dengan pelan mengecupi seluruh wajahku dan berakhir di telinga kemudian dia berbisik
"Kau sangat seksi ketika sedang di puncak," ucapnya membuatku berpikir dua kali.
"Puncak?" ucapku mengulang
Astaga Edgar gila. Dan aku semakin malu dibuatnya.
Aku tertawa kecil tapi tak bersuara. Ketika kami akan memulai, lampu kamar di atas nakas kami tiba-tiba hidup. Kami terkejut, Edgar langsung menghentikan aksinya dan menoleh ke arah lampu yang menyala. Aku pun beranjak duduk dengan sikut bertumpu di ranjang
"Hey, kalian salah kamar," ucap Ayah
Oh my God. Aku lupa jika kamarku dipakai Ayah dan aku memakai kamar tamu yang lebih kecil.
Untung saja Edgar belum membuka pakaianku. Kami berdua pun tersenyum salah tingkah dan cepat-cepat keluar dari kamar.
__ADS_1
Kami tertawa, baru saja aku menyadari betapa bahagianya malam ini. Tertawa dengan hati yang tidak bertanya-tanya lagi. Tertawa saat tahu jika pasangan kita memiliki perasaan yang sama.
Setelah itu, Edgar melanjutkan aksinya meneruskan yang tadi sempat terjeda