
Aku menemui Ayah di rumah sakit setelah mengantar Edgar. Sebenarnya Adikku harus pulang, karena ada beberapa dokumen penting yang harus ia tanda tangani, sedangkan tanda tangan digital tidak akan dianggap sah.
Kondisi Ayah juga sudah membaik, mereka akan pulang ke Perancis besok pagi. Ku ajak saja mereka pagi itu ke taman melihat sakura, Hanami sebutannya.
Aku akan mengajaknya ke Shinjuku Gyoen National Park. Lokasinya di 11 Naito Machi, Shinjuku City, Tokyo 160-0014, Japan.
Untuk masuk kesana harus membayar tiket namun harganya bervariasi antara orang dewasa, siswa dan lansia. Sedangkan anak-anak yang berusia 15 tahun kebawah gratis. Sebenarnya ada tempat yang gratis untuk hanya sekedar menikmati hanami. Tapi tempatnya sangat ramai, sementara Aku ingin membawa keluarga ku menikmatinya dengan suasana yang lebih tenang.
Sesampainya disana, rupanya pengunjung sangat ramai, namun tidak seperti taman satunya hingga berdesak-desakan.
Setidaknya disini kami bisa menggelar tikar di bawah pohon sakura yang sedang berbunga. Aku juga membawa beberapa makanan khas Jepang, untuk mereka nikmati. Meski lidah mereka belum terbiasa namun Adikku mulai menyukainya.
"Bagaimana hubunganmu dengan Edgar? Apa kalian sudah saling mencintai?" ucap Ayahku membuatku berdebar ketika ditanyai hal itu.
Aku sendiri tidak tahu dengan perasaan Edgar padaku karena dia tidak pernah mengatakan cinta padaku.
Ku jawab saja jujur pasti ayah lebih mengerti karena perjodohan kami sangat singkat dan perlu waktu untuk membangun istana cinta itu sendiri
"Sejauh ini, kami hanya saling tertarik. Aku rasa Edgar belum mencintaiku Yah, dia belum mengatakan jika mencintaiku," jawabku dengan lembut takut membuat Ayahku terkena serangan jantung lagi.
"Lalu kau sendiri, apa kau mencintainya hah?" tanya adikku yang sedang asik memakan sushi.
"Rahasia," jawabku seraya menjulurkan lidah, " Setelah ini kau harus menikah dan mencari wanita yang baik," ucapku lagi
"Itu sih gampang, Aku sudah memiliki calonnya tinggal melamar saja," jawab Oscar Adikku
Ayah ikut tertawa saat aku berkata seperti itu pada adikku dan Adikku terlalu menggampangkan sebuah pernikahan.
"Oscar masih muda Zoya, dia harus bekerja keras mengembangkan bisnis Ayah barulah dia harus fokus dengan pernikahan," ucap Ayahku
"Rahasia itu artinya, kau mencintainya, ditambah lagi kau mengatakannya dengan sangat merona. Wajahmu tidak dapat menipu haha... Sabarlah Zoya, Edgar pasti akan membalas cinta mu," timpal Ayahku lagi
"Hehe Ayah selalu tahu perasaanku,"
__ADS_1
Kami berbincang banyak hal menghabiskan waktu disana hingga siang menjelang.
Setelah itu, aku membawa Ayah ke tempat tinggal ku yang lama. Mereka akan menginap satu malam dan berangkat besok paginya. Aku tidak membawanya ke mansion Edgar, karena tempat itu bukan milikku. Akan lebih nyaman jika tinggal di apartemen milikku sendiri, meski kecil tetapi sudah menjadi hal milik.
Aku berbelanja bahan-bahan makanan yang sudah habis ke minimarket dekat apartemen. Sementara adik dan Ayahku menunggu di Apartemen.
Aku mengambil satu buah yubari melon dan tinggal satu buah, tetapi ada satu tangan yang ikut mengambilnya.
"Poky...," ucap ku saat melihat siapa yang ikut mengambil buah Melon Yubari Jepang.
"Hai Zoya... kau kenapa bisa sampai di sini?" sapa Pokus kemudian bertanya soal ku
"Haha harusnya aku yang bertanya. Di sini dekat dengan apartemen lama ku. Semalam kau dimana? Lalu kalian tinggal dimana?" Tanya ku
"Wow kebetulan ya, Aku dan keluargaku menginap di hotel dekat sini. Semalam kau tahu sendiri kan Edgar mengusir kami. Dia mengusir Mamanya dan tante Silvia jadi kami pun merasa tidak enak dan memilih untuk pergi, "
"Owh hotel yang ada di belakang apartemen ku. Hemm aku juga kaget soal itu, tidak menyangka kalau Edgar akan bertindak seperti itu," ucap ku
"Mereka menyalahkanmu, apa yang kau katakan pada Edgar. Apa kau menjadi pengadu domba di antara kami dan Edgar?" tuduh Poky
"Entahlah yang jelas aku harus waspada denganmu," ucap Poky seakan menjauhi ku
"Terserah kau sajalah bagimana menganggapku, kau yang mengenal aku sejak kecil bukan," ucapku kemudian pergi dan membayar semua barang belanjaan ku
Tetapi saat aku keluar, angin kencang menerpa bersamaan dengan debu yang berterbangan.
"Ah mataku..., " pekik ku karena ada debu yang masuk ke mataku.
Aku mengeceknya agar debu itu keluar dari mataku tetapi Poky mendekatiku dan membantu meniupnya.
Sedikit lama hingga mataku memerah, Poky terus membantu meniup debu ke arah mataku.
"Bagaimana? Apakah kau sudah bisa melihat?" tanya Poky
"Iya sudah, terimakasih ya," ucap ku dengan senyum dipaksakan.
__ADS_1
"Zoya, aku tidak bermaksud menyinggung mu hanya saja Edgar tisak pernah bersikap kasar dengan keluarganya dan itu membuat aku dan keluargaku sedikit menilai mu buruk. Maaf ya," ucap Poky
"Hmm ya wajar saja kalau kalian berpikiran negatif karena mereka tidak mengenalku. Maaf aku tidak bisa lama-lama. Aku harus membuatkan makanan untuk Ayah dan adikku. Aku permisi," pamit ku terburu-buru.
Sebaiknya aku tidak usah terlalu dekat dengan Poky entahlah perasaanku tidak enak.
Setibanya di Apartemen aku langsung membuatkan makan siang, menu seadanya karena aku tidak sempat berbelanja sayuran dan di minimarket itu tidak menjual sayuran.
Oscar membantuku memotong buah Melon khas Jepang yang berbeda dengan Melon yang ada di negara kami. Yubari Melon dikenal dengan dagingnya yang berwarna oranye terang.
"Daging buang ini mirip buah mangga ya?" ucap Oscar
"Iya, alangkah nikmatnya jika kita menaruhnya di kulkas terlebih dahulu, karena akan lebih terasa segar dan nikmat," ucap Ku karena aku telah membandingkan lebih enak dimakan saat dingin
Setelah dipotong-potong, Oscar lalu menyimpan potongan buah itu kedalam lemari es.
Siang berganti malam, seharusnya pukul sembilan malam Edgar sudah tiba di New York tetapi tidak ada kabar darinya, hingga ku tertidur di apartemen ku sendiri. Ada dua tempat tidur di apartemen ku, dan satu bed yang dapat dilipat jika ada tambahan orang yang menginap.
Aku dan Ayah tidur dikamar terpisah. Karena tidak ada Edgar jadi aku tidak pulang ke Mansion nya.
beberapa jam kemudian, ada sebuah pesan masuk. Hatiku sudah bergetar, berharap yang menghubungiku adalah Edgar tetapi rupanya bukan.
Nomer itu mengirimkan sebuah video yang memperlihatkan kemesraan Edgar dengan perempuan lain, kekasihnya.
Astaga hatiku sakit melihatnya.
Aku langsung menelepon nomer telepon tersebut tetapi tak di angkat.
Aku pun beralih ke nomer kontak Edgar, tidak tersambung. Aku lupa dia sedang berada di New York pastinya sudah berganti nomer. Lalu ku hubungi Line, whatsapp dan media lainnya. Tidak ada jawaban
Ku putar lagi video itu, terlihat Edgar mengunjungi apartemen Julia. Wanita itu menyambutnya dengan pelukan hangat dan ciuman.
Kenapa rasanya perih. Kapan video ini diambil? Benarkan ini video terbaru atau video lama yang sengaja dikirim untuk memanasi ku. Apapun itu tetap menyakitkan.
__ADS_1
Aku menutupi wajahku dan menahan tangisanku agar Ayah tidak melihat keadaaan ku yang sekarang. Setelah itu pandanganku gelap, aku tertidur dan berusaha untuk melupakan kejadian ini.