Cherry Blossom

Cherry Blossom
Bad Day


__ADS_3

Sayup-sayup ku dengar suara merpati sangat dekat di telingaku. Desiran angin dingin menyelinap masuk melewati telingaku.


Ketika ku buka mataku, ada Edgar tepat di hadapanku, ia duduk di sisi ranjangku. Ku lekas beranjak duduk dan memundurkan bokongku.


Tapi, dia menghilang


Rupanya semua hanya halusinasi ku, begitu takutnya aku akan kehadiran Edgar. Seakan ada rasa trauma jika mengingat dirinya. Terakhir kali dia memperlakukanku seperti seorang pembunuh yang siap membantai korbannya. Edgar mencekik ku hingga aku tak dapat menghirup oksigen dengan sempurna.


Ke sentuh leherku yang masih terasa sakit, rasa tercekat itu merekam di memory dan akan terus membekas dalam benakku


Ahh aku tak ingin mengingatnya lagi.


Merpati putih inilah yang membangunkan ku, dia masuk kedalam kamarku yang terbuka. Pasti Ayah yang membuka jendela ku agar mempersilahkan udara pagi itu singgah kedalam kamarku bersama mentari yang semakin menghangat.


Ku lihat jam di dinding, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, aku kesiangan. Aku tak pernah bangun sesiang ini tapi entah kenapa semalam tidurku sangat nyenyak. Mungkin karena memang ini kamarku. Aku menemukan kamar lamaku yang sangat ku rindukan.


Beberapa Merpati bertengger di jendela kamarku, memanggil satu kawannya yang masuk kedalam kamarku. Kemudian Merpati putih itu keluar dari kamarku menyusul temannya dan mereka terbang bersama. Indahnya persahabatan Merpati, dia juga setia akan pasangannya. Tidak seperti ku.... cih kenapa aku harus mengingat penjahat kelamien itu!


Ku langkahkan kakiku menuju kamar mandi dan membersihkan diriku. Hari ini aku ingin berkenalan dengan pengacara Keluarga Edgar.


Usai mandi ku dengar suara di lantai bawah sangat ramai, tidak seperti biasanya rumahku selalu sepi. Aku pun penasaran dan bergegas turun kebawah setelah memakai pakaian dan berhias diri.


Tawa khas wanita paruh baya itu, mengingatkan ku akan seseorang yang sangat ku benci. Ketika ku lihat dari kejauhan, rupanya tebakanku benar. Dia adalah Ibuku. Wanita itu duduk bersama suami barunya juga anak kecil yang sedang berlarian.


Ada Ayah juga Oscar dan seorang wanita muda, apakah itu kekasihnya adikku?


Pemandangan apa ini, kenapa mereka bisa tersenyum, kenapa Ayahku bisa mengumbar tawa dengan mantan istrinya. Aku tahu betul bagaimana di khianati bahkan jika tersenyum pada orang yang mengkhianati cintaku saja aku tak sudi. Tapi.... Ayah bisa tertawa seakan diantara mereka sedang tidak terjadi apa-apa.


"Ibu... Om," sapaku tanpa senyum, tanpa bersalaman. tetapi dia. Wanita yang melahirkanku bergegas berdiri dan menghampiriku. Dia memelukku.


Ah pelukan yang selalu ku rindukan, pelukan yang lama yak pernah ku rasakan. Kenapa kau baru datang sekian lama?


"Zoya, ibu rindu sekali padamu nak," dia menciumi wajahku.


Kubiarkan saja tetapi aku tak bisa tersenyum, pandanganku dingin entah kenapa aku tak bisa tersenyum, melihatnya saja aku tak ingin. Tapi dia ibuku dan akan selamanya menjadi ibuku.

__ADS_1


"Aku juga rindu bu," balas ku datar... aku jujur dari hatiku yang terdalam aku merindukannya tetapi sedikit hanya sedikit. Karena luka lamaku tak pernah dapat terobati, luka yang menangis membutuhkan dirinya ketika aku masih kecil.


Jelas saat itu dan masih terekam di pikiranku. Ibu tak ingin membawaku dan Oscar bersamanya, dia jelas berkata, "Aku tak bisa membawa anak-anak mu, kau urus saja mereka!" itulah yang membuatku benci akan kehadirannya kini.


Datang tersenyum seolah tak pernah membuat kami menderita. Apakah dia tidak tahu? Berbulan-bulan Ayah tidak bisa berpikir karenanya, Ayah bagaikan orang gila yang selalu menanti cintanya kembali.


"Hmm maaf aku ada janji dengan temanku. Aku permisi," ucapku


"Ayah... aku mungkin akan pulang malam," timpalku lagi


"Kak, kau mau kemana? Kau belum berkenalan dengan calon istriku," ucap Oscar


Aku menyapa kekasihnya, calon istri katanya. Dia cantik semoga dia selalu menjaga perasaan cintanya pada adikku.


"Hai... aku Zoya, selamat atas hubungan kalian. Ku harap kau selalu setia mencintai adikku," ucapku dengan tersenyum pada kekasih adikku


"Terimakasih kak, dia terlalu baik untukku jadi mana mungkin aku menduakannya," jawab Teresa, kekasih adikku


"Baguslah, karena yang sudah mengucap janji sucipun bisa mendua dan Aku sangat membenci perselingkuhan," timpalku sambil melihat ke arah Ibuku, menyindirnya dengan terang.


"Non Zoya mau pergi? Ini kuncinya mobilnya Non, sudah saya panaskan mesinnya, jadi tinggal pergi saja," ucap penjaga rumahku.


Dia penjaga yang serba bisa, terkadang dia membersihkan halaman rumah tanpa disuruh, jarang ada pekerja yang seperti itu.


"Terimakasih Lucky," ucapku dan kemudian masuk kedalam mobilku yang lama ku tinggal.


Oscar, adikku itu merawat mobilku dengan baik selama aku tak ada di rumah. Ku lakukan mobil dengan kecepatan sedang melenggang kedalam padatnya jalanan kota menuju kantor pengacara Edgar.


Setibanya aku disana, pengacara Simon menyambutku dengan ramah.


"Nyonya Edgar, masuklah. Ayo silahkan duduk,"


"Terimakasih pengacara Simon, maksud kedatangan ku kesini ingin mengatakan jika Edgar sudah mempermainkan pernikahannya demi mendapatkan Keuntungan. Aku dengar dia akan mendapatkan semua warisan jika menikah dengan seorang wanita yang berketurunan darah bangsawan," ucapku kemudian aku berhenti untuk mengambil napas lagi, sejujurnya ini membuatku gugup


Ku perlihatkan rekaman dari kamera mini yang ku ambil, ada rekaman Edgar sedang bercumbu mesra dengan Xiaonian, dan Wanita itu juga melakukan ******* di kamar.

__ADS_1


Ku lihat pengacara itu malah menikmati pemandangan tubuh Xiaonian yang berkulit putih dan mulus tanpa bintik merah dan hitam, kulit yang sempurna kenyal dan sehat.


"Pak Simon, aku bukan ingin mempertontonkan adegan hot pada anda, tapi... suamiku selingkuh," ucapku


Tapi apa yang dia katakan sama sekali membuatku terkejut


"Hmm begini Nyonya, dalam peraturan itu tidak tertulis soal apakah Edgar boleh selingkuh atau tidak, selama kalian terikat pernikahan maka harta warisan itu akan jatuh ke tangannya jika pernikahan itu sudah menginjak setahun lamanya," ucap Simon


"Tapi aku kemari juga ingin menunjuk mungkin sebagai pengacara ku untuk mengajukan gugatan cerai, ini sudah membuktikannya," ucapku


"Maaf saya tidak bisa mengambil kasus Anda Nyonya karena pekerjaan saya sudah sangat padat," Simon menolaknya, maka aku pun pamit pergi dan mencari pengacara lain.


Aku belum benar-benar keluar dari ruangannya, aku masih disana dan tinggal beberapa langkah lagi aku baru keluar dari pintu ruangannya. Sehingga aku bisa mendengar dengan jelas ketika Simon menelepon seseorang.


"Dia datang kemari, dan menunjukkan adeganmu Tuan haha apa jadinya jika adeganmu itu di tonton orang banyak, ku harap kau membayar ku lebih untuk ini," ucap Simon


Aku membelalakan mataku, ku urungkan niatku untuk pergi dan kembali ke mejanya. Dia sedang menelepon dan membelakangiku. Ku rebut saja ponselnya dan lihat siapa yang dia telepon.


Dasar bedebah, Simon rupanya bekerja sama dengan Edgar untuk mendapatkan keuntungan tersendiri.


Apa yang kulakukan? Ku matikan ponselnya itu lalu Ku tonjok saja mukanya.


Debaaag


Simon terhuyung karena tinjuanku tetapi dia tidak terjatuh, sepertinya aku kurang mengeluarkan tenagaku.


"Aku akan menuntutmu!" ucap Simon


"Silahkan tak ada bukti jika aku meninjumu," ucapku sambil memastikan memang tak ada kamera CCTV yang merekam aksiku


"Ada jejak tanganmu, aku pastikan hasil fisum ini benar," ucap Simon lagi


"Oh ya...," aku merentangkan tanganku dan ku perlihatkan jariku. Aku memakainya sarung tangan, "Tak akan ada jejak disana tuan Simon," ucap ku lalu melenggang pergi dengan anggun sambil tersenyum miring.


Ku masuk kedalam mobil dengan emosi,

__ADS_1


"Aku benci hari ini arghh!" pekikku sembari memukul stir mobil


__ADS_2