Cherry Blossom

Cherry Blossom
Selepas Koma


__ADS_3

Aku bermimpi panjang, dalam mimpiku banyak yang mengatakan kisahku tragis, ada juga yang mengatakan kapan cerainya. Tapi sejak kejadian ini, akan ku pastikan aku tidak akan cerai lewat pengadilan melainkan kematiannya lah yang membuatku terbebas dari status Istri seorang pria gila, Edgar.


Tubuhku rasanya remuk, entah apa yang terjadi karena aku tak bisa membuka mata. Aku sempat pingsan beberapa jam lamanya dan kini aku bisa merasakan ada udara yang mengalir lewat hidungku, rasanya sedikit agak perih namun sedikit segar, lama kelamaan oksigen memenuhi isi kepala ku hingga aku tersadar. Tapi tetap saja aku tak bisa membuka mata, juga tak bisa menggerakkan tubuh dan anggota badanku.


Aku dengar suara seseorang berbicara di sampingku. Suara tangisan Ayahku, juga adikku dan ada suara perempuan. Mungkin itu pacar adikku.


Kenapa aku tidak dapat menggerakkan tubuhku, membuka mata saja aku tak bisa. Ada apa denganku? Jangan bilang aku mengalami kelumpuhan.


Aku ikut menangis kala Ayah mengecup keningku.


"Ada air yang jatuh di pipimu? Apakah kau menangis? Zoya...," tanya Ayahku


Aku tahu dengan baik itu suara ayahku,


"Sepertinya dia bisa mendengar kita, tapi dia tidak bisa bergerak," sahut Oscar


"Kalau begitu sering-seringlah kalian berbicara, itu seperti terapi untuk orang yang koma," Aku tidak tahu siapa yang berbicara ini, dia wanita. Sepertinya bukan ibuku. Tetapi tidak juga suara kekasih adikku.


Aku tidak tahu pasti ada berapa orang disana. Yang jelas saat ini aku tersiksa. Aku berusaha bangun tapi tetap sia-sia.


"Dia sudah 5 hari di rumah sakit namun juga belum ada perubahan dari kondisinya. Edgar sialan! Dia terus saja beralasan tidak bisa ke Paris karena kondisinya. Tetapi kabar yang ku ketahui, dia sudah kembali ke kantor sejak 4 hari yang lalu!" perkataan Ayahku tidak membuatku terkejut.

__ADS_1


Sikap manisnya hanya ditujukan saat ingin merebut hatiku. Dia tidak ingin aku berpaling pada Poky, karena tidak ingin rencananya gagal. Tapi pada akhirnya Xiaonian tidak sabaran dan ingin melenyapkan aku agar mereka cepat menguasai hartanya.


"Bagaimana keadaan Zoya?" suara Poky, itu artinya dia baru saja datang karena aku juga mendengar suara pintu yang terbuka bersamaan saat dia berbicara.


"Belum ada perubahan, dia masih terbaring lemah," sahut Ayahku, padahal dia bisa saja bilang jika aku baru saja menangis. Mungkin dia lupa


"Poky.... mau kah kau menemani Zoya sampai besok? Aku dan Oscar ada urusan diluar negri. Hari terakhirku menjabat perusahan dan penyerahan perusahaan, akan ada pertemuan dengan para dewan tertinggi dan tidak bisa diwakilkan. Sebenarnya bisa saja ditunda hanya saja aku tidak enak dengan para pemegang saham yang lain karena sudah dua kali di undur,"


"Tidak masalah, seperti biasa tanpa disuruh pun aku selalu kemari menemani Zoya," ucap Poky


Seperti biasa? Apakah maksudnya hal ini sering dia lakukan sejak aku terbaring disini? Astaga... Kenapa malah Poky yang begitu peduli padaku.


Kemudian Ayah dan Oscar serta seorang wanita. Hmm sepertinya bukan seorang melainkan dua orang wanita, pergi meninggalkan ruanganku setelah berpamitan dengan Poky.


"Zoya... Aku menunggumu untuk bangun dari ranjang ini. Untuk membalaskan apa yang telah mereka perbuat. Aku yakin ini pasti perbuatan Edgar sendirikan?"


Tidak Poky...., ini perbuatan Xiaonian. Aku tidak tahu apakah Edgar juga berada dalam rencananya.


"Kau tahu, Taeda yang tadinya dituduh karena menjadi kaki tangan Xiaonian, kini berakhir di penjara dan Taeda juga mengakui kalau semuanya murni kesalahannya karena memiliki dendam batin pada mu. Dia juga menuduhmu kejam, suka marah, terkadang kau juga memukul dan cerewat. Itu menurut keterangan Taeda, tapi aku tidak percaya semua perkataannya. Aku yakin dia hanya pesuruh,"


Jadi mereka mengkambinghitamkan orang lain, pantas saja Xiaonian bisa bebas dari jerat hukum. Selain uang yang mengeluarkan dirinya juga ada pengakuan valid dari Taeda.

__ADS_1


Aku tidak bisa tinggal diam. Aku harus bangun dan membalas perbuatan Xiaonian. Ku kerahkan sekuat tenaga agar tubuh ku bergerak.


"Zoya... Jarimu bergerak, apakah kau sudah sadar? Zoya... Kau bisa mendengarku?"


Poky semakin menggenggam erat dan menepuk pelan pipiku. Ku dengar langkah kakinya semakin menjauh, mungkin Poky sedang memanggil dokter.


Ada beberapa orang masuk ke ruanganku, terdengar dari langkah sepatu yang masuk dengan berisik bagaikan pasukan militer. Salah satunya memeriksa mataku, tekanan darah dan semuanya.


"Kabar baik. Dia merespon, tetapi gerakannya masih sedikit lambat. Terus lakukan koneksi pada pasien itu akan merangsang syaraf di kepalanya," ucap sorang pria, ku rasa dia adalah Dokter yang memeriksa diriku tadi


Aku ingin menggerakkan seluruh tubuhku tetapi tidak bisa. Perlahan Zoya, kau pasti bisa, jangan mudah menyerah! Aku terus men doktrin diriku dengan semangat


Sudah beberapa jam sampai akhirnya mataku terbuka.


Ada Poky yang berbicara dengan suster di depan pintu ruanganku. Tidak ada siapapun didalam. Pandanganku sedikit pusing, tidak jelas bagaikan melihat gamma.


Poky menutup pintu dan berbalik, dia begitu terkejut saat tahu aku telah membuka mataku, dan melewati masa koma ku. Pria itu kembali memanggil Dokter.


Tekadku, Aku harus pulih dengan cepat, lalu bersiap untuk melawan seseorang yang telah membuatku koma.


Ada satu yang ingin ku ketahui. Bagaimana kondisi benih yang ada dalam rahimku. Lantas ku buka suaraku dan bertanya pada Dokter dengan suara serak dan lirih. Raut wajahnya tertunduk sayu dan terlihat sedih lalu berucap, "Maaf Nyonya, janin ibu tidak berkembang dan kami harus mengangkatnya,"

__ADS_1


"A-apa!" bulu halus di tanganku berdiri mendengar perkataannya.


Benih yang belum bernyawa itu bahkan tak sempat tumbuh dalam bentuk yang sempurna. Ini semua gara-gara Xiaonian. Dia harus bertanggung jawab, tapi penjara terlalu bagus untuknya. Dia sepantasnya berada di neraka.


__ADS_2