Cherry Blossom

Cherry Blossom
Pengakuan Poky


__ADS_3

Ketika Ayah mertuaku dan Delta meninggalkan mansion dengan terpaksa, aku segera menyusul dan ingin menemui Edgar ke rumah sakit. Mungkin dia sudah terbangun dari istirahatnya.


Tetapi langkahku terhenti di ruang tamu, ketika ku lihat mobil Paman Maxim masuk di halaman Mansion. Dia turun dan diikuti Poky di belakang. Aku baru ingat saat perbincangan yang ku dengar tadi jika suami Delta dan Poky akan menjemput Delta. Mereka memakai mobil sewaan karena saat kemari mereka tidak membawa mobil.


"Hai Zoya, hmm aku mau menjemput Delta," ujar Maxim


"Hai paman, dia baru saja keluar," jawabku.


Poky tidak menyapaku, dia hanya diam dan memandangiku tanpa berkedip sedikitpun, hingga tubuhku mendadak beku serta bulu-buku romaku berdiri tanpa perintah.


"Keluar? Dengan siapa?" tanya Paman Maxim


"Ku rasa mereka sedang mencari oleh-oleh dengan yang lain, aku tidak tanya alasan mereka keluar," ucapku dan Paman Maxim kemudian duduk sambil mengeluarkan ponselnya. Dia ingin menghubungi istrinya.


Kalau saja ku beritahukan video itu, habis sudah hubungannya dengan Paman Maxim. Tetapi aku tidak ingin menjadi perusak rumah tangga orang lain, biarlah mereka tahu dengan sendirinya. Aku akan menjadikan video tersebut sebagai ancaman agar Tante Delta dan Ayah mertuaku tidak mencelakai ku ataupun merusak rumah tangga ku.


Aku tidak ingin pernikahan ku seumur Cherry Blossom, yang ketika bermekaran akan gugur kemudian


"Paman maaf, aku harus ke rumah sakit sekarang,"


"Ya, pergilah, hati-hati," ucap Paman Maxim kemudian aku pergi tanpa berpamitan dengan Poky.


Ku ayunkan langkah kakiku menuju keluar, namun Poky meraih lenganku tiba-tiba. Secara spontan aku langsung menepisnya dengan kasar.


"Zoya ada yang ingin ku bicarakan dengan mu," ucap Poky


"Aku tidak ada waktu," jawabku dengan tatapan sinis.


"Aku tidak ingin hubungan kita berakhir permusuhan," sahut Poky


"Apa kau lupa? Sedari dulu kita memang tidak pernah menjadi teman yang benar, saat kecil pun kita selalu bermusuhan bukan?" jawabku


Poky tidak mengiyakan juga tidak menjawab, dia lalu keluar sembari berkata, "Ku tunggu di halaman depan,"


"Ck aku sama sekali tidak ingin berbicara denganmu," ucapku lalu aku pergi mendahului Poky dengan langkah kaki besarku.


Aku sudah keluar menuju garasi, mengambil satu mobil milik Edgar yang terparkir di dalam garasi. Saat ku buka pintu mobil, sebuah tangan menahannya dan menutup pintu itu.


Tangan Poky yang besar menahannya sangat kuat, dia menoleh ke arahku dengan tatapannya yang lembut. Sepertinya dia benar-benar ingin berbicara denganku


"Aku perlu meluruskan yang kemarin," ucap Poky


"Baiklah, sebentar saja karena waktu ku tidak banyak," jawab ku


"Aku minta maaf saat itu dan menuduh mu jika kaulah yang merayu ku. Aku mabuk dan saat itu juga Mamaku yang menyuruhku berbicara seperti itu. Dia tahu jika aku menyukaimu dan..."


"Hah jadi kau juga bersekongkol dengan Mamamu dan ingin menyingkirkan Edgar? Kau juga ingin mencelakai Edgar?" tanyaku dengan nada lebih tinggi


"Aku tidak mencelakai Edgar, aku tidak tahu apa kau katakan, sungguh. Saat itu Mama ku hanya menyuruhku mengatakan itu. Dia bilang itu satu-satunya alasan agar Edgar melepaskan mu. Aku tahu itu licik dan tidak baik, tetapi kenyataannya aku mencintai istri saudaraku sendiri. Kau ingat saat kita tak sengaja bertemu di mini market itu? Aku sedikit mabuk, sehingga aku menuduh mu yang bukan-bukan. Aku juga tidak tahu siapa yang memotret kita. Tapi yang pasti Aku ingin kau tahu, kalau aku mencintaimu itu benar adanya, itu saja. Dan... Edgar tidak benar-benar mencintaimu," ucap Poky masih dengan nada lembut.


"Astaga.... Aku tidak akan meninggalkan Edgar, kami saling mencintai. Atau itu hanya alasanmu agar kau ingin mendapatkan perusahaan dan kekayaan Edgar hah?" tanyaku sedikit meninggikan suara. Aku tidak bisa berbicara dengan lembut apalagi dengan orang seperti Poky

__ADS_1


"Apa? Perusahaan haha aku tidak menginginkan perusahaan Edgar atau kekayaannya. Meski dia yang terkaya di keluarga besar kami tapi aku sama sekali tidak menginginkannya. Tapi yang ku katakan soal Edgar itu benar, aku mengenal Edgar! Dia terlalu mencintai kekasihnya. Aku tidak ingin kau terluka lebih dalam, percayalah," ucap Poky


Aku tidak ingin dengar apapun yang keluar dari mulut Poky, mana mungkin penjahat mengakui kejahatannya. Penjara akan penuh jika semua orang seperti itu.


Ku buka kembali pintu mobil Edgar dan mengakhiri pembicaraan yang belum selesai.


"Maaf aku harus kembali ke rumah sakit," ucapku.


Terlihat Poky ingin menghentikan ku tetapi aku telah masuk ke dalam mobil dan mulai menyalakan mesin. Ku lakukan perlahan dan melihat Poky dari kaca spion. Dia terlihat kesal. Tentu saja dia kesal karena dia ingin mencuci otakku.


Sebelum ku kerumah sakit, aku pulang ke apartemen ku. Untuk membersihkan diriku dan membawa beberapa pakaianku. Lalu aku pamit pada Ayah


"Ayah, Aku ke rumah sakit lagi ya?" ucapku seraya menghampiri Ayah yang sedang memasak ramen. Dia membuat mie ramen dari kemasan instan.


"Zoya, tunggu sebentar," ucap Ayahku, lalu ia mematikan kompor dan menghampiriku merangkul ku dan mengajakku untuk duduk sebentar


"Ada apa?" tanya ku pelan


Ayah membuka kacamatanya, menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan lalu menatapku dengan sendu


"Zoya, Arnold cerita semuanya padaku. Dia bilang kau mengusirnya dari rumah Edgar? Kenapa sayang... Kenapa kau berlaku kasar seperti itu? Apa salahnya dia bertamu di rumah Edgar?"


Oh My God apa yang harus ku katakan pada Ayah, apakah jika ku beritahu kebenarannya Ayah akan baik-baik saja? Aku hanya takut jantungnya akan kumat jika mendengar apa yang ku katakan batin ku


"Ayah..., aku memiliki alasan sendiri kenapa aku mengusirnya. Sebelum Aku cerita, aku mohon Ayah jangan terkejut. Aku hanya takut kalau penyakit Ayah kambuh," jawabku


Lalu Ayahku menganggukkan kepalanya tanda sepakat. Aku pun berdoa sebelum ku katakan yang sebenarnya. Ku ceritakan semua yang ku ketahui kecuali perlakuan Ayah Edgar yang menampar diriku. Tetapi reaksi Ayahku biasa saja, dia tetap diam.


"Ayah itulah alasan ku, dia ingin mencelakai Edgar jadi aku ingin melindungi keluarga ku,"


"Hmmm aku berusaha untuk tidak terkejut dengan ceritamu. Dan.... perselingkuhan itu membuatku teringat dengan Ibumu dulu," ucap Ayahku


"Tapi... tetap saja Zoya, statusnya dia adalah mertuamu. Kau harus menghormatinya tidak perduli seperti apa kelakuannya. Dia tetap orang tua, sama sepertiku. Ku mohon, minta maaflah atas perlakuanmu. Dan biarkan urusan pribadinya itu biar dia sendiri yang menanggung," ucap Ayahku


Aku sadar, aku salah dan kasar, oke jadi baiklah aku akan menemui mereka nanti. Setelah itu aku pergi meninggalkan apartemen, menuju rumah sakit.


Tak berapa lama aku tiba di rumah sakit dan satu polisi dan seseorang berpakaian jas, keluar dari ruangan Edgar. Mereka menyapaku dan Aku tersenyum dan membalas sambutan mereka dengan ramah.


"Maaf nyonya, kami datang tidak mengabari anda sebelumnya. Tetapi kami telah berbicara dengan Tuan Edgar," ucap seorang polisi.


"Oh tidak apa-apa Inspektur, maaf saya tidak bisa menemani,"


"Ini pengacara yang saat itu anda minta," ucap Polisi, aku lalu berkenalan dengan pengacara yang berdiri di sampingnya.


Tak banyak obrolan karena mereka bilang telah berbicara dengan Tuan Edgar. Setelah itu mereka pamit


Kasus kecelakaan Edgar yang diduga adalah kasus pembunuhan yang di rencanakan belum didaftarkan ke badan hukum.


Siang ini pengacara yang ku pinta itu, akan mendaftarkannya dan segera mengurus semuanya. Mulai dari saksi hingga mencari bukti.


Aku masuk ke dalam ruangan setelah keduanya pergi. Edgar sedang menonton televisi dengan posisi duduk.

__ADS_1


"Hai sayang," sapa ku kemudian menutup kembali pintu kamar


"Sayang, kau dari mana saja? Kemarilah dan cium aku," pintanya dengan sangat manja. Dengan suaranya yang pelan


Aku tersenyum lalu mendekatinya dan memberikan apa yang dia pinta.


Edgar cerita soal maksud kedatangan pengacara dan satu polisi kemari. Sebaliknya aku juga menceritakan apa yang terjadi pagi ini.


"Jadi dugaan ku benar, Ayah selingkuh dengan tante Delta," ucap Edgar


"Kau tahu?"


"Hmm hanya saja aku tidak yakin karena aku tidak melihatnya sendiri. Tetapi bukti rekamanmu itu jelas mereka selingkuh dan yang sangat ku sayangkan adalah Ayahku sendiri ingin mencelakai diriku," ucap Edgar


"Sayang tolong ambilkan ponselku," pinta Edar tiba-tiba.


"Ponselmu bukannya telah hancur?" tanya ku


"Ada di laci, ponselku yang lain yang tertinggal di kantor. Tadi Xiao nian kemari dan berinisiatif mengantarkannya padaku. Untung saja dia tahu tempat penyimpanan ku, karena perusahaan membutuhkan instruksi dariku," ucap Edgar


Xiao nian serba tahu apa yang terjadi dengan Edgar, hmm kelihatannya mereka sangat dekat batin Ku


Ku berikan ponsel Edgar yang berada di laci nakas di samping ranjang. Dia membukanya dengan sensor sidik jari, lalu mulai mengetik sesuatu


"Kau ingin menghubungi siapa? Mau ku bantu?" tanya ku karena yang ku lihat Edgar sedikit susah mengetik


"Hemm tidak sayang, aku bisa," ucap Edgar memasang wajah serius


Aku pun beranjak dari duduk, membawa tasku yang berisi beberapa pakaian lalu menyimpannya di dalam lemari.


"Kau sudah makan?" tanya ku


"Sudah," jawab Edgar singkat


"Oh ya? Pasti suster itu yang membantumu," tanya ku


"Tidak... Xiao nian yang membantuku," ucap Edgar


Aku sudah berpikir macam-macam hingga dahiku berkerut


"Ah jangan salah paham, dia tidak menyuapi ku, Aku makan sendiri hanya saja dia membantu dengan mendekatkan meja makan di dekatku," jelas Edgar setelah selesai memainkan ponselnya


"Oh aku pikir," aku tersenyum kecil lalu Aku bertanya lagi, "Jadi kapan kira-kira proses sidang akan dimulai?"


"Tidak akan pernah," ucap Edgar membuatku membelalakkan mata dan langsung segera mendekat


"Apa maksudnya Edgar? Ada orang yang ingin mencelakai mu dan jelas orangnya adalah Ayahmu sendiri," ucap ku


"Aku baru saja mengirimkan pesan pada pengacara itu untuk tidak membawanya ke jalur hukum. Aku akan menyelesaikannya dengan cara kekeluargaan. Akan ada dampak negatif untuk perusahaan ku jika keluargaku terlibat masalah denganku," ucap Edgar


"Tapi aku jelas mendengarnya sendiri, dia ingin melenyapkan mu," sahutku

__ADS_1


"Ck tolong mengertilah, ini menyangkut aku kan jadi terima saja keputusan ku!" ucap Edgar meninggikan volume suaranya padahal pita suaranya sendiri masih sakit dan itu terdengar parau.


Aku langsung terdiam dan menerima keputusannya, setelah semua yang kulakukan sepertinya tidak ada artinya.


__ADS_2