Cherry Blossom

Cherry Blossom
Wanita Kuat


__ADS_3

"Istri atau orang tua pasien bisa ikut saya," ucap sekarang perawat laki-laki yang sedang mendorong brangkar.


"Oh baik, di ruang berapa?" tanya ku


"Ruang Cherry Blossom, VVIP no 3," ucap perawat dan aku mengartikannya oleh Ayah mertuaku karena perawat itu berbicara dengan bahasa Jepang.


"Ok kami akan lewat lift pengunjung," ucap Arnold


Ayah Edgar menyuruhku untuk mengikuti perawat, naik lift pasien. Sedangkan Ayahku, Ayah mertua dan keluarga yang lain naik lift pengunjung.


Satu perawat mengarahkan brangkar disisi depan. Sedangkan yang satunya mendorong brangkar.


Edgar masih tertidur, lehernya seharusnya memakai penyangga. Tetapi kenapa mereka belum memberikan penyangga itu. Aku lalu bertanya pada perawat.


Dia mengatakan jika itu akan dilakukan beberapa jam setelah operasi. Jadi aku pun tidak bertanya lagi.


Kami masuk di ruangan vvip, kebetulan juga nama ruangannya adalah bunga sakura. Kenapa harus nama itu, seakan jodohku identik dengan bunga sakura.


Beberapa suster datang memeriksa, memberikan obat pertama lewat suntikan selang infus. Lalu mereka mengatakan jika Tuan Edgar kemungkinan tidak bisa bicara.


Untuk kondisi lain yang berhubungan dengan pendengaran, mata dan ingatan, mereka harus menunggu Edgar siuman terlebih dahulu.


Kaki Edgar di di luruskan dengan perban. Kata dokter tidak patah hanya mengalami pergeseran dan sementara untuk beberapa minggu Edgar perlu memakai alat untuk membantunya tetap lurus hingga pergerakan tulang kembali stabil.


Keluarga Edgar dan ayahku datang. Tetapi mereka masuk bergantian karena tidak boleh terlalu ramai. Ayahku dan Ayah mertua yang duluan masuk. Mendoakan kesembuhan Edgar dan menyemangatiku.


Untung saja Ayah belum pulang ke Perancis. Jika tidak, aku tidak akan tahu seperti apa diriku ditengah keluarganya yang dominan tidak menyukaiku.


Setelah itu Ayahku dan Tuan Arnold pamit keluar, dan bergantian masuk Mamanya Edgar dan Tante Silvia, Paman Maxim dan Poky


Aku sudah berpikiran buruk, mereka pasti menyudutkan ku dengan kesalahan yang tidak ku perbuat.


Tante Silvia mencengkeram lenganku dan membawaku ke sudut dekat toilet yang agak jauh dari ranjang brangkar.


"Sini kau," ucap Tante Silvia

__ADS_1


Diikuti Mamanya Edgar, Stefani


(Note author agak lupa saking byknya nopel ongoing, namanya Stefani, kalau aku pernah nyinggung namanya di bab sebelumnya tolong kasih tahu ya ehehe)


Silvia melepaskan ku dengan cara mendorong tubuhku hingga terbentur dinding.


"Zoya, Lihat perbuatanmu. Ini akibatnya mengusir orang tua. Cih, wajahnya sok manis. Rupanya penghasut, dengar ya Zoya. Kalau terjadi apa-apa dengan Edgar, kaulah yang akan ku siksa," ucap Mama mertua ku, Stefani


"Astaga mama, Zoya tidak pernah menghasut Edgar, sumpah! Zoya juga tidak tahu kenapa dia berbuat seperti itu. Mama bisa tanyakan sendiri ke orangnya. Dan lagi, malam itu tidak terjadi hal apapun antara Zoya dan Poky. Ya kan Poky," ucap ku


"Hah Zoya, kau lupa ya, kau sendiri kan yang merayuku," sahut Poky membuat diriku syok.


Tuduhan apalagi ini.


"Jangan sembarangan kamu ya, itu fitnah! Dan Fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan," ucap Ku


"Dan kau hampir saja membunuh Edgar," ucap Poky


"Mana mungkin aku...," aku menepis tuduhan


"Kalau kau tidak merayu Poky, Edgar tidak akan buru-buru dan meninggalkan bisnisnya. Dia juga tidak buru-buru saat melalui jalan tol itu. Semua karena siapa? Karena mu tolol," pekik Silvia dengan mulut pedasnya.


"Dengar Zoya, dengarkan aku baik-baik kecuali jika kau tuli. Aku ingin kau ceraikan Edgar sebelum ada benih di dalam kandungan mu," ucap Stefani menjambak rambutku hingga kepalaku mengikuti kemana tangannya menariknya. Dan setelah ucapannya selesai, Stefani mendorong kepalaku untung tidak mengenai tembok


"Kak...., Edgar tidak mencintainya kan? Jadi mana mungkin mereka melakukan hubungan itu. Jadi tidak akan ada benih di perutnya, tenang saja....kecuali dia hamil dengan pria lain ahaha," sahut Silvia pada Stefani, kakaknya.


Silvia senang sekali mengatai ku


"Ya kau benar, ciumannya saat di pesta itu pasti untuk meyakinkan Arnold kalau hubungan kalian bahagia, jadi kau jangan terlalu bangga Zoya," ucap Stefani


"Kalau kau menceraikan Edgar, aku bersedia menerima mu Zoya," ucap Poky dan langsung ku jawab


"Tidak akan,"


Apa-apaan Poky, awalnya dia terlihat bersahabat lalu terus menyalahkan ku dan bahkan menuduhku tapi baru saja dia mengatakan ingin menerimaku? Kau lebih parah dari Edgar, Poky.

__ADS_1


"Kalau kalian terus memojokkan ku seperti ini, aku pastikan akan meminta rekaman CCTV di ruangan ini dan ku serahkan pada Ayah," ucapku sengaja menakuti mereka padahal aku tidak tahu apakah benar di ruangan itu ada cctv-nya atau tidak.


Terlihat semuanya ketakutan dan mencari letak CCTV.


"Itu disana ada CCTV," ucapku menunjuk dengan random


Aku sengaja mencari tulisan China yang tertulis di dinding. Ku artikan jika tulisan itu mengatakan ruangan ini dilengkapi dengan CCTV. Jadi jangan membuka pakaian di ruangan ini. Yah begitulah yang aku katakan dan mereka percaya.


Padahal artinya adalah televisi di ruangan ini menggunakan proyektor Tekan tombol yang menempel pada dinding, Tinggal sentuh pada sensor merah yang berkedip.


Dan dibawahnya ada meja kecil dan space besar dinding kosong. Padahal dinding kosong itu adalah untuk tempat layar televisi proyektor.


Mereka percaya saja, mengira jika lampu kedip di bawah tulisan China itu adalah sensor kamera cctv. Mereka mulai meninggalkanku dan keluar ruangan.


Terkadang menjadi kuat harus memiliki banyak akal. Aku tidak ingin di tindas, aku tidak ingin menjadi wanita lemah. Setelah ini akan ku cari tahu penyebab kecelakaan Edgar. Apakah keluarganya yang memiliki dendam atau Julia yang ingin mencelakai ku namun salah sasaran.


Ku pandangi Edgar, membenarkan selimutnya hingga atas dada. Aku duduk di sampingnya, membelai rambutnya dan menatapnya dengan sendu.


Baru saja aku merasakan bahagia di cintai, tetapi kini aku harus mengalami cobaan. Sedih rasanya melihatmu seperti ini Edgar.


Tak berapa lama Ayah mertuaku dan Ayahku masuk. Sementara yang lain tidak ada yang mau masuk lagi.


"Zoya...Ayah pulang ya. Ayah menginap di hotel dekat apartemen mu. Besok Ayah akan kesini lagi," ucap Arnold dan aku mengiyakan seraya memberikan pesan untuk berhati-hati.


Ayahku juga pamit pulang, dia harus mengembalikan mobil milik tetanggaku itu.


"Aku akan bawakan pakaian untukmu. Nanti malam aku kemari lagi," ucap Ayah


"Tidak usah Ayah, sudah malam. Besok pagi saja ya... Ayah juga harus jaga kesehatan Ayah," ucap ku. Berharap Ayahku selalu sehat.


"Ya sudah kalau begitu, jangan lupa makan ya," sahut Ayah menepuk pundakku menguatkan diriku untuk sabar, kemudian ia pergi.


Keluarga lainnya tidak ada yang berpamitan lagi karena ayah mertuaku sudah mewakili mereka.


Ku raih plastik berisi barang pribadi Edgar. Beberapa hancur dan ikut tergores aspal. Seperti Ponselnya yang pecah karena benturan keras.

__ADS_1


Aku mengeluarkan sim card miliknya, dan memasangkannya pada ponselku. Aku ingin menghubungi kantornya, juga sekretarisnya


Begitu terpasang, sebuah pesan masuk. Pesan yang mengagetkan diriku.


__ADS_2