
Aku selalu berharap Edgar cepat mati dan Aku seharusnya senang melihatnya di pukuli seperti itu
Tetapi.......Hatiku teriris, Aku ikut terluka melihatnya kesakitan. Manusia yang tak pantas mendapatkan iba. Tapi itulah kenyataannya. Aku pun terkejut dengan perasaanku sendiri
Aku bersembunyi di balik pot besar yang menjadi penghias lorong antara kamar apartemen yang satu dengan yang lainnya. Jarak pintu apartemen yang satu dengan yang lainnya berjauhan. Aku baru tahu, dia mendarat di lantai apartemen yang entah milik siapa, mungkinkah ada miliknya disini?
Xiaonian melemparkan APAR begitu saja ke lantai dan menangis frustasi. Sementara Edgar fokus dengan dirinya dan menyentuh kepalanya seraya meringis kesakitan, selain sakit pasti kepalanya mengalami pening luar biasa.
Kulihat pula ada darah di tangan Edgar yang tadi habis menyentuh kepala belakangnya. Lalu ia berdiri dengan emosi yang tercetak di wajahnya. Ku rasa dia akan berbuat hal yang kasar pada Xiaonian, mungkin seperti menamparnya, atau mencekiknya seperti yang sering dia lakukan padaku, tapi tebakanku salah. Edgar mendekapnya ke dalam pelukan.
Sakitt hatiku melihat mereka berdua. Aku baru sadar apa yang dikatakan Xiaonian benar. Edgar mencintainya bukan hanya adanya kehadiran anak, tetapi dia juga mencintai Xiaonian. Lantas kenapa Edgar masih mencari wanita lain untuk pemuasnya sementara ada wanita lain yang masih sangat mencintainya? Sakitkah dia?
Perjodohan ini memang berawal dari kesalahan orang tua ku dan orang tuanya. Tetapi dia bisa saja mengatakan sebenarnya soal dirinya dan Xiaonian tanpa menyakiti aku dan perasaanku.
Terlambat, Aku mencintai orang yang salah. Aku tak sengaja mengeluarkan air mata. Sesekali ku intip mereka disana, Xiaonian menangis dalam pelukan Edgar dan setelah itu Edgar mengecup keningnya, menangkup wajah wanitanya dan mengecup bibirnya.
Aku tidak mau lagi melihat apa yang terjadi. Aku juga tidak bisa langsung bangkit dari tempatku bersembunyi. Jadi ku tunggu mereka pergi.
Tak berapa lama ada bunyi alarm pintu terbuka. Kepalaku langsung menoleh ke arah sumber suara. Keduanya masuk kedalam kamar apartemen. Ini bukan lagi apartemen namun penthouse. Apartemen mewah yang berada di lantai paling atas.
Ku kira ini adalah gedung biasa. Rupanya ini adalah gedung terlengkap. Aula pertemuan yang luas dan di lantai atas ada beberapa apartemen juga penthouse. Cukup sampai sini pembahasan soal gedung. Setelah itu aku baru beranjak berdiri.
"Zoya!" pekik Poky
Dia mendatangiku dengan berlari kecil lalu menangkup wajahku dan menanyakan soal diriku. Dia melihat air bekas air mataku lalu menyentuh kedua pundakku dan bertanya lagi soal keadaanku yang tak kunjung ku jawab.
Baru saja ku melangkah ke depan berniat meninggalkan tempat itu, dan mulai berbicara seseorang membuka pintu penthousenya dan berteriak minta tolong.
"Tolong...! Hey kalian tolong panggilkan keamanan!" ucap seorang pria yang baru saja keluar. Dia orang Jepang dan berbicara bahasa Jepang
"Ada apa?" tanyaku membalas dengan bahasa Jepang.
"Orang di kamar sebelah ku bertengkar, dan kebetulan saat aku berada di luar balkon, Aku melihat dari jendela kaca miliknya. Seorang pria memukuli seorang wanita," jelasnya dengan tergesa-gesa
Hanya aku yang paham sementara Poky terlihat kebingungan.
"Panggil keamanan Poky, kurasa ada masalah di kamar sebelah orang ini," ucapku. Aku tidak yakin kalau orang itu adalah Edgar jadi ku minta ijin pada orang itu untuk melihatnya sendiri.
Poky berlari memanggil keamanan yang ada dilantai bawahnya. Seharusnya disetiap lantai di taruh penjagaan, tetapi mereka menjaga privasi para sultan ini.
Aku melihat ke penthouse yang di katakan pria tadi, dari luar balkon terlihat jelas mereka sedang bertengkar. Dinding kaca yang terbuka tanpa kain yang menutup. Semua barang hancur berantakan, Xiaonian tampak berlari menghindar.
__ADS_1
Balkon itu ada di lantai atas Penthouse sedangkan Edgar dan Xiaonian berada di lantai bawahnya yang tidak memiliki ruang balkon.
Tak berapa lama petugas keamanan datang. Jujur saja mereka tidak berani karena masalah apapun itu mereka tidak ingin bertanggung jawab. Tetapi Aku dan tetangganya itu melihat dengan jelas kalau ada penyiksaan di dalam.
Tanpa berlama-lama, pintu terbuka secara paksa. Banyak pecahan kaca dibawah lalu dimana mereka?
"Dia dia lantai atas," ucap Poky yang melihat Xiaonian berlari
Rupanya Edgar menggunakan pistol kecil tanpa suara. Sangat kecil hingga seukuran genggamannya, ia menembakkan ke arah Xiaonian.
"Edgar! Kau jangan gila!" teriak ku.
Aku dan petugas keamanan itu menyusul keatas. Kini mereka berada di atas balkon dan saling adu mulut
Begitu kami sudah berada di atas, di santai yang sama. Edgar mencengkeram leher Xiaonian, merapatkannya ke dinding kaca dan tangan satunya mengarahkan tembakan
"Edgar! Apa yang kau lakukan?" Ucap Poky
"Diam saja kau brengsek! Bukan urusanmu!"
"Kau mau membunuh ibu dari anakmu hah?" ucapku
"Jadi kau sudah tahu tentang Candy? Apa Kau tahu Zoya? Kalau bukan karena Candy, aku tidak akan mempertahankan manusia seperti dia. Aku terpaksa melakukan apa yang dia katakan karena dia selalu mengancam akan memisahkan aku dengan anakku!"
"Ku akui, aku kasar padamu, aku punya kepribadian ganda. Tapi yang harus kau tahu....Aku mencintaimu itu hal yang benar," ucap Edgar sambil menatap ku. Tangannya masih mencengkeram leher dan membuat rahang Xiaonian ke atas.
"Cinta? Kau bahkan bercinta dengan wanita lain saat status kita masih suami istri," ucapku yang hampir saja terkecoh dengan ucapannya
"Dia pria yang hanya mengambil kenikmatannya saja Zoya. Dia pria brengsek!" ucap Xiaonian padaku
"Kau hanya menyayangi Candy lalu aku apa! Kau biarkan bertahun-tahun tanpa status! Kau renggut semua kebahagiaan ku dan jangan harap kalau kau akan bahagia bersama dengan wanita-wanita mu," ucap Xiaonian mendorong Edgar ke pagar balkon
Penjaga keamanan disana bukannya membantu malah terus mendengarkan cerita yang ia dengar, terlambat Edgar terjungkal ke luar balkon tetapi tangannya segera mencengkeram kerah Xiaonian dan menariknya ikut bersamanya.
Xiaonian terjatuh, Aku reflek mengejar untuk menangkap dirinya tetapi terlambat.
"Xaionian," teriak ku
Aku menutup mataku tak berani melihat, lalu ku arahkan pandanganku pada Edgar rupanya dia mampu bertahan pada tali spanduk yang menyatakan "Selamat atas hunian penthouse penthouse
"Edgar?" gumam ku
__ADS_1
"Zoya, tarik aku," teriaknya
Petugas keamanan mengulurkan tangan-tangan mereka, begitu juga dengan Poky. Tetapi posisi Edgar terlampau jauh ke bawah.
"Aku akan menariknya, aku ringan. Kalian hanya perlu menarik kakiku," ucapku menawarkan diri
"Ini gila, itu tidak akan berhasil. Zoya, kita harus cari cara lain," sahut Poky
Lalu dia menyuruh petugas keamanan mencari tali, Edgar memanggil dengan berteriak
"Tidak ada waktu, aku tidak kuat menahannya lagi. Ikuti saja kata Xoya,"
Akhirnya kami pakai dua cara, salah satu mengambil tali dan aku mencoba meraih Edgar kemudian kedua orang itu menarik kakiku dan menjaganya agar tidak terjatuh.
"Zoya kurasa ini tidak akan berhasil. bagaimana jika Aku dan petugas itu tidak bisa menarik kakimu. Maka kau akan terjatuh," sahut Poky Panjang lebar.
Tak ku hiraukan, meski Edgar telah menyakiti aku tetapi aku tidak bisa berbuat jahat. Jadi Ku condong kan tubuhku untuk meraih tangannya. Aku baru menyandarkan perutku.
Masih belum berhasil. Ku naikkan lagi posisinya kini pahaku lah yang bertumpu.
Poky dan petugas keamanan terlihat kesusahan memeggangi kakiku, terlihat caranya menahan sedikit goyah
"Sedikit lagi," ucapku
Edgar sudah meraih jemariku. Hanya sebentar dalam hitungan detik, genggaman itu menjadi licin dan perlahan menjatuhkan Edgar ke dasar gedung.
"Edgar!" Teriakku dan Poky bersama dengan yang lainnya
Aku tak kuasa melihatnya, dari atas ku lihat kepalanya terjatuh duluan. Setelah menarikku kembali, Poky dan lainnya masih tercengang.
Lutut ku lemas tak kuasa berpijak. Aku menangis menyalahkan diriku sendiri dengan meringkuk memeluk lututku
Rencanaku membuat Xiaonian menaruh dendam pada Edgar dan melukai dirinya berhasil tetapi aku mendapatkan pelajaran paling penting.
No one heals himself by wounding another.
(Tidak ada yang bisa menyembuhkan diri dengan jalan melukai orang lain)
*Quote madam Angspoer ( Septira Wihartanti)
Dan juga aku ingat percakapan ku dengan seorang teman yang bernama Kimtan. Dia pernah mengatakan, "Tidak ada kebahagiaan dengan cara melukai orang lain,"
__ADS_1
Poky merangkulku dalam delapannya berusaha menenangkan aku, sementara dua petugas itu disibukkan dengan dua orang yang baru saja terjatuh.