
Pesan yang ku baca bisa menjadi petunjuk kecelakaan yang Edgar alami. Dalam pesan dari nomer tak dikenal, dia mengatakan akan membuat hidup Edgar menderita.
Aku yakin ini pasti Julia, tetapi nomernya berbeda dengan yang lain. Aku pun langsung menghubungi seorang Detective yang sangat jeli dalam berbagai hal.
Aku kenal Detective ini, dia pernah bekerja untuk paman Dalton. Lantas aku pun menghubungi pamanku. Tak berapa lama dia membalas pesanku dan memberikan nomer telepon Detective Gangga.
Namanya seperti salah satu sungai di India, katanya sih saat Ibunya akan dibawa ke rumah sakit untuk melahirkan, Detective Gangga keluar dari rahimnya saat melewati sungai Gangga. Maka ia pun diberi nama Gangga.
Kami tidak berbicara apapun lagi setelah itu, sejujurnya aku tidak begitu mengenal pamanku itu. Ceritanya panjang, mungkin kalian bisa membaca biografinya di cerita novel karya Virus yang berjudul Silence. 100persen adalah kisah nyata pamanku sendiri.
Aku menelepon Detective itu dan dia bertanya banyak hal, waktu, jam, hari dan kapan. Padahal aku tidak begitu ingat jam berapa yang pasti.
"Nyonya, begini. Aku tidak bisa langsung mengerjakan penyelidikan ini karena aku sedang di New York. Mungkin 5 hari aku baru bisa tiba di Jepang. Jika tidak keberatan aku akan melimpahkan pekerjaan ini kepada temanku yang ada di Jepang," ucap Detective Gangga
"Oh baiklah tidak masalah, karena aku juga tidak memiliki kenalan seorang Detective, tolong rekomendasikan Detective yang terbaik," ucap Ku sekaligus meminta yang ter ahli di bidangnya
"Baik Nyonya, dia yang akan menghubungimu. Namanya Takada, dia yang terbaik di kotanya," sahut Detective Gangga dan setelah itu kami mengakhiri perbincangan.
Aku juga menghubungi Xiaonian untuk ke rumah sakit dan sekaligus ada yang ingin ku pinta. Aku ingin Xiaonian menyelidiki pemilik nomer atau lokasi saat ia mengirimkan pesan tersebut.
Tak berapa lama Xiaonian datang bersama dengan teman kantor lainnya. Tidak banyak, hanya beberapa sebagai perwakilan.
Aku dan Xiaonian berbicara berbisik di pojok dekat kamar kecil.
"Aku sudah memberikan screenshot foto nomer itu, ku harap kau melacaknya. Ini simcard dan ponsel miliknya yang hancur. Tolong Xiaonian, kalau bisa secepatnya," ucap Ku.
Rencananya, Xiaonian akan melaporkan pesan ancaman itu kepada pihak polisi agar mengeluarkan surat penyelidikan lebih lanjut kepada pihak perusahaan komunikasi.
Aturan di Jepang sangat rumit, jika tidak ada surat dari polisi maka selama itu pula mereka akan menjaga privasi pelanggannya.
Aku sudah menyerahkan semuanya kepada Xiaonian, juga seorang Detective juga aku ingin tahu siapa yang mengambil potret ku dengan Poky.
Setelah itu Xiaonian dan anak buah Edgar yang datang menjenguk pamit pulang.
Aku sendiri tidak ingin meninggalkan Edgar sendirian di rumah sakit. Aku takut, ada seseorang yang mengincar nyawanya. Jadi aku pun menunggui dirinya.
Sambil menunggu Edgar sadar, aku memakan makan siang ku. Saat itu aku benar-benar tidak berselera. Tetapi kalau tidak makan, aku bisa sakit dan tidak bisa menjaga Edgar. Jadi ku tetap makan tanpa menikmati rasanya. Bagaimana bisa nikmat jika di belahan jiwa ku terbaring lemah di hadapan ku.
__ADS_1
Jemari Edgar bergerak. Aku jelas melihatnya tangannya berkedut. Tetapi saat ku lihat lagi, dia tetap diam. Semoga bukan halusinasi ku saja.
Tak berapa lama, jari-jari itu kembali bergerak. Aku menghentikan makanku dan menghampirinya.
"Edgar," panggil ku pelan mendekat ke arahnya seraya membelai rambutnya.
Matanya bergerak namun belum terbuka. Edgar masih menggunakan selang oksigen karena pernapasannya masih kurang lancar.
Ku genggam jemarinya dan dia menggerakkan tangannya, mengeratkan genggamannya. Matanya terbuka perlahan.
Aku takut, jika Edgar tak bisa mengingatku. Aku takut jika dia amnesia seperti di film-film kebanyakan. Aku takut Edgar tak bisa melihatku.
Pandangannya lambat bergerak dan menatapku dan dia berkata, "Zoya....," ucapnya lirih sangat pelan bahkan hampir tidak bersuara.
Aku menangis, rupanya Edgar masih mengingatku. Masih bisa melihatku. Terimakasih Author kau tidak sekejam itu.
Aku pun menekan bel untuk memanggil suster. Kemudian ada suara dari interkom yang bertanya. Aku mengatakan jika pasien sudah sadar. Mereka pun menjawab akan segera datang bersama dengan dokter.
"Jangan banyak bergerak dulu sayang, tunggu ya dokter akan kemari untuk memeriksa," ucap Ku dan Edgar menjawab dengan isyarat mata yang ditutup lalu membukanya lagi.
Aku mundur, menjauh untuk memberi ruang kepada dokter dan tiga suster. Ku lihat, satu suster membawa alat penyangga leher. Yang satunya membawa obat-obatan dalam bentuk suntikan dan yang satu clip board yang berisi beberapa lembar kertas untuk laporan riwayat pasien.
Ku lihat, suster melepaskan oksigen. Berarti pernapasannya sudah membaik dan setelah itu, dokter menyuruh Edgar berbicara. Aku lihat dari jauh jika suamiku itu kesusahan bicara. Apakah pita suaranya rusak? Semoga tidak.
Lalu Dokter memeriksa pendengaran Edgar dan menyuruhnya untuk menggerakkan tangan, Edgar melakukannya dengan baik, ia dapat mendengar, dapat mengatakan gambar visual , dapat menggerakkan tangan meski lemah.
Dan yang terakhir. Dokter mengetuk lutut Edgar di kaki yang tidak sakit. Serta kedua telapak kaki yang hanya disentuh. Apa jawabannya aku tidak dapat mendengar.
Tak berapa lama dokter menemui ku dan berbicara mengenai kondisi Edgar.
"Suami nyonya mengalami kelumpuhan pada kakinya. Tetapi, semuanya normal dan baik-baik saja. Pita suaranya juga membaik hanya saja mungkin efek saat operasi. Tunggu beberapa hari agar kondisi normal kembali," ucap Dokter tetap membuatku panik.
"Lumpuh? Apakah bersifat permanen?" tanyaku
"Aku tidak bisa mengatakan dia kan lumpuh selamanya. Karena semua orang memiliki keajaiban sendiri. Yang terpenting kita berusaha apa yang harus dilakukan agar pasie dapat berjalan kembali. Salah satunya Terapi," jelas dokter.
"Lalu kapan dia bisa mulai terapi?" tanyaku
__ADS_1
"Seminggu lagi, karena pasien baru saja beradaptasi pemulihan lututnya yang bergeser,"
Setelah mendapatkan penjelasan Dokter, Dokter pun pamit bersama dengan para suster.
Aku melangkah mendekati Edgar kembali dan tersenyum kepadanya.
"Semangat untuk sembuh sayang," ucapku tetapi dia membelai pipiku dan tersenyum kecil.
"Kiss me," ucapnya mengagetkan diriku
Aku semakin terkejut dengan permintaannya, tapi ku turuti saja meski sedikit susah baginya karena lehernya terpasang penyangga.
Ku lepaskan cumbuanku dan menatapnya, "I love you," ucapku
"Love you so much," jawab Edgar dengan suara berbisik
Aku menciumnya lagi, memberikan rasa yang teramat sayang. Tangan Edgar mulai jahil, menyentuh dadaku dan merematnya. Ku biarkan saja tangan jahilnya bergerak bebas. Karena aku mengijinkannya.
Dia melepaskan ciumannya dan mengatakan padaku, "Jangan percaya pada Poky, dia ingin merebut perusahaanku,"
Aku mengernyitkan dahi dan menatap Edgar
"Kau tahu dari mana? Apa dia yang mencelakaimu?" tanyaku mulai serius
"Aku tidak tahu....dan tidak punya bukti, tetapi....dia tahu segalanya tentang perusahaan ku," Edgar berbicara dengan jeda sedikit lama mungkin akibat operasi pada lehernya. Dia juga tak bersuara lebih banyak berbicara dengan berbisik
"Oke aku akan menjauhinya," jawabku
"Aku tak suka caranya memandangmu. Kau milikku, istriku, " ucap Edgar menegaskan kepemilikannya.
Terdengar bucin tetapi aku menyukainya.
"Ya Tuan Edgar yang sangat ku cinta, Aku hanya milik mu," jawab ku tersenyum, dia ikut tersenyum
Sebenarnya aku ingin bertanya lebih banyak mengenai kenapa Edgar bisa kecelakaan. Tetapi ku urungkan karena dia baru saja sadar.
Tak berapa lama, seorang polisi menelepon ku terkait kecelakaan. Dia ingin menemui ku segera karena kecelakaan Edgar tidak murni kecelakaan melainkan di sengaja.
__ADS_1