
Siang berganti malam, cepat sekali waktu berputar seakan roda kehidupan tak pernah berhenti.
Aku masih disini, di bangsal VVIP dengan nama Cherry Blossom. Ku sebut namanya lembah hitam. Kenapa aku memberinya sebutan lembah hitam?
Karena didalamnya terdapat keadaan yang penuh penderitaan. Secara kiasan, "lembah" menggambarkan tempat rendah atau terendah dalam suatu perjalanan, sedangkan "hitam" melambangkan kegelapan, kesedihan, atau keputusasaan
Jika kedua makna itu ku gabungkan maka terdapat konteks yang lebih luas, mengacu pada periode kehidupan seseorang di mana dalam kasus ini adalah Aku dan Edgar.
Aku harus kuat dan sepenuhnya membantu Edgar dalam melewati masa pemulihannya. Terutama pada kelumpuhannya yang tidak bisa diprediksi, apakah akan sementara atau permanen. Berharap
akan ada harapan dan cahaya di masa depan.
Perutku lapar dan aku juga belum membeli makanan ringan, minuman dalam kemasan botol untuk ditaruh di mini bar berjaga-jaga jika ada tamu Edgar yang datang.
Ku tinggal suamiku yang sedang terlelap karena pengaruh obat. Ku susuri jalan lorong yang mulai sepi pengunjung. Ada mini market di dalam rumah sakit sehingga kami tidak perlu jauh dari area rumah sakit.
Tidak banyak yang ku beli, hanya beberapa satu kantong plastik besar. Selesai berbelanja, aku berjalan ke kafetaria yang berada di tengah.
Kenyang sudah perutku. Lantas aku pulang, kembali ke ruangan.
Sesampainya di depan ruangan, aku mendengar seseorang menangis, juga suara Edgar. Hatiku berdegup kencang, takut jika Edgar masih memiliki hubungan dengan mantan kekasihnya.
Jadi ku putuskan untuk menaruh barang belanjaan ku di kursi tunggu dan menguping pembicaraan mereka.
Tapi, tidak jelas. Lebih banyak isak tangis yang terdengar.
"Edgar.... aku sedih melihatmu keadaanmu seperti ini. Apakah Zoya memperlakukanmu dengan baik?" tanya Julia
Edgar tak menjawab, aku lupa dia tidak bisa bersuara. Pita suaranya masih sakit. Jadi aku hanya bisa menerka apa yang Edgar katakan dengan mencari tahu apa yang di jawab Julia
"Aku kesal denganmu, kau tidak tahu kan bagaimana rasanya diputuskan begitu saja. Ini tidak adil bagiku," Julia terus berkata sambil sesegukan.
__ADS_1
Aku rasa dia tulus dengan Edgar. Tapi kenapa tidak ada pembicaraan lagi. Apa yang mereka lakukan.... Aku pun penasaran dan segera membuka pintu
Aku Shock melihat pemandangan yang tidak asing. Memory itu kembali terekam. Aku melihat Edgar dan berciuman untuk ke sekian kalinya.
Tapi Edgar langsung mengangkat tangannya dan berkata dengan suara paling rendah.
"Sayang jangan salah paham, dia yang menciumku," ucap Edgar membela diri.
Aku pun percaya, karena Edgar tidak bisa mengelak. Lehernya telah terpasang penyangga dan dia tidak bisa bergerak leluasa. Lalu pandanganku tertuju pada Julia.
"Zoya, aku minta maaf. Aku janji itu adalah ciuman terakhir kalinya," ucap Julia seakan-akan memohon untuk memaafkan perbuatannya.
"Ini tidak mudah untukku Zoya, tiba-tiba diputuskan oleh keadaan padahal kami masih saling mencintai.... Iya kan sayang?" ucap Julia
dan aku langsung melihat ke arah Edgar, apa benar dia masih memiliki perasan untuk Julia. Ahh bodohnya aku tidak berpikir ke arah sana jadi untuk apa aku bertanya. Mungkin saja Edgar masih mencintai Julia walau sedikit.
Aku yakin ini juga tidak mudah untuknya, tetap yang terpenting, dia telah memilih aku.
"Aku mengerti perasaanmu. Tetapi masalahnya kini ada aku diantara kalian. Ku harap kau tidak lagi menemui Edgar," ucapku
"Hmm. Aku permisi," Julia merasa kecewa, dia oun pergi tetapi aku mencegat kepergiannya.
"Julia... " panggil ku
"Ya,..ada apa?" tanya Julia menghentikan langkahnya
"Apa kau yang sudah memotret ku dengan Poky dan menyebarkan isu kepada Edgar?" tanya ku penasaran
"Tidak, aku tidak tahu Poky itu siapa. Aku hanya mengunggah video lama ku dengan Edgar," aku Julia bersikap tenang.
"Apa kau juga yang membuat mobilku rusak?" tanya ku
__ADS_1
"Astaga, mobilmu yang mana saja aku tidak tahu. Dan lagi aku menyayangi Edgar, aku tidak mungkin menyakitinya meskipun dia sudah mengecewakan aku,"
"Hmm terimakasih atas pengakuan mu, jika kau berbohong maka lihat sendiri akibatnya," ancam ku dan dia tidak takut. Kelihatannya memang buka dirinya.
Setelah Julia pergi, Edgar memanggilku. Aku kesal dan berpura-pura tidak dengar. Jujur aku marah melihat Julia menciumnya, meskipun Julia lah yang memulai.
Aku memasukkan barang belanjaan yang tadi ku beli ke dalam mini bar.
Ku lihat Edgar kesusahan memanggilku
Praaaanng
Aku terkejut dan menoleh.
Sebuah piring berisi potongan buah jatuh dan buahnya berserakan, untung saja piring itu terbuat dari melamin.
Cara itu langsung yang diambil Edgar agar aku mendekatinya. Dia tahu aku pura-pura tak mendengar, dan aku rasa dia tahu kalau aku cemburu
Edgar menyuruhku mendekat.
Yah kini aku telah berada tepat di dekatnya.
"Kau cemburu? Bukan aku yang memulai... Yang paling ku cinta sekarang adalah dirimu. Perasaanku dengan Julia sekecil ini," Edgar membuat perbandingan kecil seukuran 5 cm antara jempol dan telunjuknya
"Dan cintaku padamu seperti ini," Edgar melebarkan kedua tangannya, aku tersenyum sedikit
"Tidak, tidak sebesar itu, aku rasa lebih dari itu," ucap Edgar meraih tanganku dan mencium punggung tanganku.
Terasa geli terkena kumisnya. Tapi aku senang dengan pengakuannya, semoga sebanding dengan perlakuannya.
Tak berapa lama, dua polisi datang dan menemui ku dan Edgar. Inilah yang ku nantikan, polisi itu akan membicarakan hal penting terkait dengan penyelidikan yang mereka temukan di lokasi kejadian.
__ADS_1