Cherry Blossom

Cherry Blossom
Cemburunya Edgar


__ADS_3

Beberapa makanan telah terhidang tetapi Ku tinggalkan pesta menuju toilet yang ada di dalam, melewati Edgar yang sedang membolak balikkan daging.


Saat aku hampir mendekati toilet yang ada di samping dapur, ku dengar suara sepatu pria. Mungkinkah itu Edgar. Ku berbalik untuk membenarkan.


"Kenapa kau mengikuti ku kemari? Aku mau ke toilet," ucapku dan ya memang itu Edgar


Dia menarik ku masuk kedalam toilet, mencumbu ku dengan rakus. Aku bisa merasakan detak jantung ku yang sedang bertabuh kencang. Entah kenapa aku melingkarkan tangan ku ke lehernya. Seakan otakku dan hatiku sudah tak sejalan. Apakah aku merindukan kecupannya yang kasar?


Ku akui Edgar memiliki pesona yang memikatku, tapi untuk mencintainya terlalu sulit apalagi dengan perlakuan kasarnya padaku.


Dia menekan ku ke dinding dan menyesap lengkung leherku sangat dalam. Aku kesakitan dia seperti seorang vampir yang menghisap darahku


Ku dorong tubuhnya, tetapi tenaganya sangat kuat, menjepit ku dalam tekanan.


Edgar melepaskan ku dan menatapku dengan tajam


"Aku tidak mengijinkan mu mendekati pria lain. Kau hanya milikku jadi jangan pernah berpikir untuk mendekati pria manapun,"


Dia cemburu....


Aku menyentuh leherku yang kini terluka, ada sedikit darah yang keluar disana.


"Kau mengatakan seolah-olah aku adalah barang. Aku bukan barang Edgar," ucapku seraya meringis karena menyentuh luka di leherku


"Apa kau cemburu?" tanya ku saat dia mulai mendekatkan wajahnya lagi. Sepertinya dia ingin mencumbu diriku lagi. Setelah aku mengatakan itu dia terdiam.


"Poky sangat menarik, dia jauh lebih baik dari mu. Dia lembut dan aku menyukainya," ucapku sengaja memuji Poky.


"Berani-beraninya kau memujinya didepanku,"


"Aku akan terus memujinya karena itu kenyataan," ucapku mendorong Edgar dan pergi ke toilet lain.


Apa yang dia lakukan setelah ini, sengaja ku pancing emosinya antara cinta dan terpikat beda tipis. Aku bahkan tidak tahu apakah diriku mencintainya dengan segala perlakuan kasarnya padaku.

__ADS_1


Aku memakai toilet kamar, di atas dan kembali bergabung dengan keluarga besarnya. Mataku mencari keberadaan Edgar yang tak ku jumpai disana.


Samar-samar ku dengar tante Silvia dan Mamanya Edgar membicarakan soal Ibu kandung kuku sembari menikmati daging panggang nya


"Kau tahu, sebenarnya aku tidak terlalu menyukai Zoya. Aku takut dia akan selingkuh seperti Ibunya," ucap Mamanya Edgar


Aku mencoba semakin mendekatinya dengan berpura-pura membakar sesuatu. Padahal daging telah habis di bakar. Aku lalu mengambil daging yang telah masak dan memanggangnya lagi. Tak ada yang melihatnya. Ku lakukan untuk mengorek informasi


"Aku juga tidak suka padanya, lalu kenapa kau menerimanya? Ku rasa Edgar juga tidak mencintainya, mereka terlihat tidak harmonis, nyatanya aku tidak pernah melihat mereka bergandengan tangan atau bahkan berciuman," ucapan Silvia ada benarnya.


"Arnold berteman dengan Ayahnya, dan dia juga suka dengan Zoya yang pendiam. Entah apa yang dilihat oleh suamiku itu, aku hanya bisa menurutinya. Kau benar Edgar menolak keras saat perjodohan itu, karena dia sudah memiliki kekasih di luar sana," ucap Mamanya Edgar


"Kau ingin membuat daging itu menjadi gosong hah? Haha.... Sini ikut aku berdansa," ucap Poky menghampiriku dan langsung menarik ku, mengajak untuk berdansa.


"Tidak, aku tidak bisa berdansa," tolak ku dengan tersenyum.


Sebenarnya aku bisa. Bahkan sangat mahir, tetapi aku takut jika aku bertindak lebih jauh dan membuat Edgar cemburu. Bisa-bisa Poky menjadi sasaran pelampiasan kemarahannya.


Karena semua keluarga menyuruhku berdansa dengan Poky, akhirnya ku turuti saja.


Aku berputar-putar dan jatuh di pelukan Edgar. Aku terdiam, antara ingin meneruskan tarian atau berhenti semua keputusan ada pada Edgar, aku menunggunya tanpa bertanya.


Ku pikir Edgar memilih tidak melanjutkan tariannya denganku, nyatanya dia menggenggam kedua tanganku dan menyatukan jemarinya dengan jemariku.


Jujur saja aku gugup, wajahnya mendekat ke arahku, mengecupi pipi ku dan berbisik.


"Apa mereka menyakiti hatimu?" tanya Edgar, aku tak menjawab hanya menundukkan kepala dan mengikuti gerakannya


"Hanya aku yang boleh menyakitimu," ucapnya lagi dengan segala keegoisan yang ia miliki.


Dia meraih dagu ku dan mengecup bibirku di depan keluarganya. Kecupannya sangat lembut, berbeda dari yang sebelumnya. Lalu tarian kami berhenti dengan sendirinya


Kemudian Edgar menyuruh paman Maxime

__ADS_1


menghentikan permainan pianonya.


"Tolong berhenti, please paman Maxim," ucap Edgar


"Dengan tidak mengurangi rasa hormat ku pada kalian, sebaiknya kalian pulang saja!" ucap Edgar mengusir semua keluarganya


"Edgar, apa maksudmu?" tanya Arnold Ayah Edgar


"Sayang ada apa denganmu? Mereka dari jauh hanya untuk berbahagia dengan kita semua," ucap Mamanya Edgar


Aku pun terkejut dengan apa yang di lontarkan Edgar


"Tidak, ku lihat yang bahagia hanyalah tante Silvia. Ku rasa cukup sampai disini pesta sampah ini. Istriku lelah dan kami butuh istirahat. Permisi," ucap Edgar menarik ku dari tempat itu, tetapi baru beberapa langkah dia berhenti dan berbalik


"Oh ya aku lupa, Khusus untuk Mamaku dan Tante Silvia. Aku ingin kau meninggalkan Mansion ku sekarang juga. Aku tidak suka kalian membicarakan tentang istriku dibelakang," ucap Edgar mengusir Mamanya sendiri serta adik Mamanya Silvia secara terang-terangan.


Edgar berbalik dan menggandeng tanganku lagi. Tidak tahu apa yang terjadi padanya. Apa barusan dia sedang membela ku? Sengaja mengecupku di depan keluarganya agar statusku tidak diragukan di hadapan mereka. Atau dia ingin menekan Poky bahwa aku miliknya. Mana yang benar, yang jelas aku tidak bisa membaca karakter Edgar.


Seketika aku menyukai pria ini. Aku terus memandang wajahnya tanpa kedip, merasa dilindungi dan tanpa terasa kami telah berada dalam kamar yang gelap.


Edgar mengelus pipi ku secara perlahan, menyentuh bibirku dan mulai mengecupku. Satu kali kecupan kemudian dia memandangku lama, Dua kali kecupan yang berdurasi sedikit lama dan beberapa kali kecupan seraya menarik pinggang ku untuk lebih dekat dengannya.


"Zoya, aku cemburu melihatmu dengan Poky" ungkap Edgar


"Aku akan memperlakukanmu lembut mulai sekarang," ucap Edgar tapi aku tidak langsung mempercayainya.


"Jika kau menganggap aku adalah milikmu, pastikanlah hanya aku yang bisa memilikimu," ucapku dengan maksud Edgar akan melepaskan kekasihnya


Aku tak mungkin mengatakan untuk meninggalkan kekasihnya, itu pasti membuatnya terluka dan merasa berat untuk meninggalkan tetapi jika ku beri pilihan yang menantang, aku harap dia lebih memilih diriku.


Edgar tidak menjawab, jemarinya fokus menanggalkan semua kain yang melekat di tubuhku. Dan pikiran dan pandangannya sedang tertuju pada ku.


Sempat pikiranku menolak, takut jika dia memperlakukan ku seperti kemarin. Kali ini dia memperlakukan ku dengan sangat lembut. Mengatur tempo yang membuatku merasakan gairah dan menikmati setiap ritme yang tercipta.

__ADS_1


Dia bagaikan komposer mengatur komposisi musik instrumental dan vokal melebur menjadi satu hingga menciptakan melody yang dapat menghangatkan jiwa.


__ADS_2