
Aku mempersilahkan Detektif Gangga untuk masuk ke dalam, kenapa Detektif Gangga yang datang bukankah dia bisa ke Jepang setelah 5 hari. Karena Detektif yang kemarin ia rekomendasikan adalah Detektif Takada dan dia telah mengerjakan penyelidikannya
"Maaf nyonya kedatangan ku kemari hanya ingin menjenguk Tuan Edgar, karena kebetulan aku juga sedang menyelidiki kasus disini. Sebentar lagi Detektif Takada juga akan datang, " ucap Detektif Gangga.
Oh hanya menjenguk, Kupikir dia datang untuk mengambil alih penyelidikan. Benar saja tak berapa lama, Detektif Takada datang menyusul.
Lalu karena keduanya sudah berkumpul, ku ceritakan semuanya jika Edgar tidak ingin memperumit masalah dengan membawanya ke jalur hukum.
"Aku minta maaf sebelumnya tuan-tuan Detektif," ucap Ku
"Tidak masalah, ah bisakah kita membahasnya nanti." ucap Detektif Takada seakan-akan dia enggan menutup kasus yang baru diseledikinya.
Setelah itu Detektif Gangga mendekat ke arah Edgar dan berbicara sedikit soal kondisinya. Tatapannya benar-benar menyayat, lebih dingin dari pada Edgar. Begitu pun dengan Detektif Takada, matanya yang sangat sipit menambahkan suasananya horor di ruangan itu.
Kedua Detektif pun pamit tetapi raut wajah Detektif Gangga mengkode sesuatu agar aku membuka ponselku.
Setelah kepulangannya, aku langsung membuka ponselku. Ada beberapa pesan yang masuk. Aku sendiri tidak menyadarinya karena aku sibuk mengurusi Edgar. Salah satu pesan itu datang dari Detektif dan itu baru saja, beberapa menit setelah ia pamit pulang
"Aku dan Detektif Takada tidak percaya pada suamimu saat kau bilang dia tiba-tiba tidak ingin membawanya ke jalur hukum. Ada apa sebenarnya? Aku penasaran, karena Detektif Takada sebenarnya sudah menemukan bukti baru. Aku kemari hanya berkunjung tetapi saat melihatmu seperti itu sangat mengecewakan. Jujur aku tidak enak dengan Detektif Takada, karena akulah yang merekomendasikan dirinya. Aku harap kau akan meneruskan penyelidikan, aku bersedia membantu dan tidak perlu dibayar. Pemutusan kerja di tengah jalan ini, sangat menyinggung reputasi kami sebagai Detektif. Tolong kerjasamanya," ucap Detektif Gangga pada pesannya yang panjang lebar di ponsel
Astaga dia benar-benar Detektif yang menjunjung kredibilitasnya sebagai seorang penyelidik. Kalau begitu malu pada diriku, tentu saja aku akan menerima ajakannya untuk membicarakan kasus itu kembali, tanpa sepengetahuan Edgar.
"Terimakasih Detektif, karena kau lebih peduli terhadap masalahku. Aku minta maaf sebelumnya, tetapi baiklah kalau begitu aku sangat menghargai keputusan mu, kita akan tetap melanjutkan penyelidikan hingga terungkap kebenaran, tetapi tolong rahasiakan ini dari siapapun. Jangan sampai Edgar tahu. Tolong sampaikan pesanku pada Detektif Takada," balas ku setelah pesan terkirim aku langsung menghapus semua pesan yang masuk dari Detektif Gangga.
Akhirnya kami berencana bertemu tengah malam, di atap rumah sakit saat Edgar tidur. Aku juga tidak sabar ingin segera mengetahui apa bukti yang di dapatkan Detektif Takada.
Saat jam makan malam, aku menyuapi Edgar. Dia tidak selera dengan menu makanan rumah sakit. Tetapi ku terus memaksanya agar dia mau makan. Akhirnya dia mengalah dan menurut. Kami juga berbincang, bercanda dan tertawa dengan lepas. Suara Edgar sudah membaik. Hanya kakinya saja yang belum bisa bergerak.
__ADS_1
Tak berapa lama dokter dan suster datang memeriksa
"Selamat malam Tuan Edgar," sapa dokter ketika datang dan langsung masuk ke ruangan di iringi suster di sampingnya.
Edgar membalas sapaannya, aku pun juga
"Wah bagus ya makanannya sudah mau habis," timpal Dokter itu lagi. Ia berbicara bahasa Inggris padahal kami yang orang Perancis pun bisa berbahasa Jepang.
"Kondisi Tuan Edgar membaik, penyangga leher juga bisa dilepas. Tetapi jangan terlalu banyak gerak dulu ya? Dan sering-sering di terapi seperti ini," Dokter lalu mengambil kaki Edgar yang satu dan mengangkatnya lalu menaikkannya seraya menekukkannya.
"Agar satu kakinya ini bisa merespon. Jika kaki yang baru dioperasi ini jangan dulu ya. Tunggu beberapa bulan," ucap Dokter lagi
Aku menganggukkan kepala mengerti yang diajarkan Dokter, selebihnya akan ada beberapa perawat yang datang kesana untuk memantau. Sementara untuk Dokternya sendiri Edgar memilih dokter lain di luar rumah sakit ini.
Suster telah mengambil penyangga leher Edgar dan pemeriksaan yang lain juga telah selesai. Dokter pun memperbolehkan Edgar pulang dengan banyak persyaratan, setelah semua nasihat di lontarkan, dokter dan suster pun meninggalkan ruangan untuk memeriksa pasien lain.
Usai makan, Edgar mulai mengantuk, dia juga memperhatikan aku dengan menyuruhku untuk makan malam. Aku pun pamit untuk membeli makanan di luar.
"Zoya....," ucap seseorang ketika aku hendak duduk di kantin rumah sakit
Ku tolehkan kepalaku ke arah sumber suara.
"Ben?" sahutku
"Ahhaha kau masih ingat?" tanya Ben
Tentu saja dia adalah temanku kerjaku saat di Perancis sebelum aku pindah ke Jepang.
__ADS_1
"Kau...Kenapa kemari?" tanyaku,
"Aku sedang menjenguk klien ku, dia sakit keras. Jadi aku tak lama disini, tetapi sebelum kembali di Bandara aku memutuskan untuk makan disini," ucap Ben. Dia memiliki nama asli Benjamin.
"Oh kurasa ini suatu kebetulan, duduklah bergabung dengan ku," sahutku
"Thanks Zoya....Bukan kebetulan lagi tapi suatu kebahagiaan haha, berikan nomermu aku tidak dapat menghubungi mu sejak kau pergi ke Jepang, kau tahu kau makin cantik Zoya," ucap Ben muji diriku yang berlebihan
Dan kamipun bertukar nomer telepon. Setelahnitu kami berbincang tentang yang lalu juga yang sekarang dan Dia terkejut saat ku katakan bahwa aku sudah menikah.
"Sepertinya aku kalah cepat ya, seharusnya aku ke Jepang dan melamar mu," ucapnya dengan candaan
"Haha kau selalu saja bercanda," ucap ku dengan canda juga
Kami pun tak terasa telah menghabiskan makanan masing-masing. Ben harus pulang karena ia sudah memesan tiket pesawat sebelumnya. Dan aku harus kembali ke kamar.
Sesampainya aku di kamar, sebuah vas bunga melayang tepat disampingku lalu jatuh mengenai kaki ku. Aku terkejut bukan main hingga jantungku berdetak sangat kencang. Napasku pun menderu
"Ada apa denganmu? Kau ingin membunuhku dengan melemparkan vas bunga ke arahku?" tanyaku pada Edgar
"Aku sudah bilang kan? Jangan pernah dekati pria lain selain aku," Edgar marah.
"Dekati, aku tidak mendekati pria lain. Hatiku hanya untukmu," ucap ku memang aku tak pernah mendekati pria lain apalagi merayunya
"Kau duduk dan tertawa bersama laki-laki lain," ucap Edgar.
"Astaga dia teman lama kerjaku saat di Perancis, apa aku tidak boleh berteman dengan seorang pria? Aku tahu batasanku," ucapku
__ADS_1
Dari mana dia tahu aku bertemu dengan pria lain?Kurasa dia selalu memasang mata-mata untukku,
Semakin aku tahu semakin lama sikap Edgar tidak dapat ku tolerir. Aku tidak bisa di kekang seperti ini, cemburu boleh tapi bukan berarti aku harus menjauhi semua pria.