Cherry Blossom

Cherry Blossom
Dibalik Selimut


__ADS_3

Aku bergelayut manja pada selimut yang menghangatkan tubuhku. Wangi bunga yang ku suka berasal dari selimut yang menyelimuti diriku dan hidungku menangkap aroma lain yang mampu meningkatkan gairah ku sebagai seorang wanita.


Aroma feromon pada parfum yang memiliki zat kimia yang berfungsi merang-sang dan memiliki daya pikat s3ksu4l pada lawan jenis. Dan aku mengenalinya.


Bau Edgar pikirku.


Aku langsung membuka mata dan untuk kedua kalinya, dia sedang tidur sambil memelukku. Bedanya aku menghadap ke arah dadanya, aku bahkan bisa mendengar dengkuran kecilnya.


Lucu memang, seorang billioner mendengkur dalam tidurnya.


Aku tidak langsung beranjak, aku ingin memiliki moment ini sekian detik. Rasanya sangat nyaman berada dalam pelukannya sembari membayangkan apa yang terjadi semalam. Dan aku tersenyum kecil, ada perasaan senang. Aku rasa, aku sudah jatuh cinta padanya


Pagi ini sangat dingin ditambah suhu ruangan ber-Ac yang semakin dingin. Membuatku enggan untuk bergerak melepaskan pelukannya.


Tak berapa lama, Edgar bergerak, sepertinya dia sudah terbangun. Aku langsung menutup mataku. Dia melepaskan aku dan beranjak entah kemana karena aku tidak melihatnya lagi. Mataku sudah tertutup.


Tapi kurasakan jika dia mengambil ponselnya yang ada di nakas.


Apa yang terjadi aku tidak melihat apapun. Edgar juga kelihatannya masih di tempat tidur, sedangakan aku tidak berani mengintip.


"Hallo Blast, aku kesiangan... hemmm jam berapa pesawat kita?" ucap Edgar


Pesawat? Jadi dia mau pergi... kemana? Ingin sekali aku bertanya tapi enggan, takut jika Edgar berpikir aku terlalu ikut campur, kecuali dirinya sendiri yang mengatakan.


"Dua jam lagi... hmm oke begitu lebih baik," Edgar masih berbicara di telepon


"Tidak perlu, kita bertemu di Bandara saja. Kau siapkan semua berkasnya, ok? Thankyou," Edgar terlihat mengakhiri pembicaraannya di telepon karena setelah itu aku tidak mendengar apapun.


Tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang menempel di pipiku, dengan sedikit bulu runcing yang menggelitik kulitku.


"Zoya bangunlah," bisiknya


Aku sengaja tidak langsung bangun, tetapi sesuatu menggelitik telingaku. Reflek saja aku terbangun dan menangkap benda yang menggelitiki telingaku


"Hmm Edgar! Gelii...," ucapku dengan suara sedikit serak, pastinya karena baru bangun dan kurang minum


"Hahaha," Edgar tertawa


Pertama kalinya ku lihat tawanya yang riang. Benarkah itu dirinya, seakan dia memiliki dua kepribadian yang berbeda.


"Kau ingin mandi sendiri atau....," ucap Edgar dengan mata nakalnya


Aku tahu arah pikirannya


"Atau apa?" tanyaku pura-pura tidak tahu.


Aku masih berada di dalam selimut dengan nakalnya dia menarik selimut ku dan mengambilnya.


Spontan saja aku menarik kembali selimut yang dia ambil


"Edgar kembalikan, aku tak memakai apapun," pekik ku tetapi dia tertawa dan mengatakan hal yang membuatku malu


"Untuk apa ditutupi aku sudah melihatmu, dan itu s3ksi,"

__ADS_1


Rasanya gemas saat dia mengatakan itu. Bagiku itu bukan pujian melainkan ungkapan yang terlalu di buat-buat. Aku tidak merasa jika diriku s3ksi.


Edgar beranjak dan menggendong ku paksa, Aku tidak bisa menghindari kekuatannya. Dia menang, lalu membawaku menuju kamar mandi.


Benar-benar membuatku malu terlihat di tempat yang terang. Sementara Edgar memandangimu tanpa kedip


"Kau tahu... pipimu seperti sakura jika malu seperti itu," puji nya


Ya Tuhan, pria ini bahkan menyamakan aku dengan bunga favorit ku.


Kami masuk di dalam bos shower, lalu dia menurunkan aku di bawah shower, tangannya merai kran yang ada di belakang ku. Air hangat keluar membasahi tubuhku dan tubuhnya.


Embun hangat membuka pori-pori ku menciptakan kesegaran tersendiri. Ku ambil sabun dan menciptakan busa-busanya menutupi diriku. Aku tidak lihat apa yang dilakukan Edgar, ku rasa dia juga sedang bermain sabun.


Tapi pikiranku salah Edgar membantu ku keramas, memijat kepalaku yang terasa sedikit pening. Setelah busa menghilang hal tergila yang dia lakukan melanjutkan atraksi panas. Menguasai tubuhku dari belakang.


Seketika aku teringat dirinya yang saat itu masuk kedalam kamar mandi dengan kekasihnya dan detik itu juga aku cemburu.


Aku ingin memiliki dirimu sepenuhnya Edgar, karena aku tidak ingin diduakan.


Usai melampiaskan hasratnya, dia mengecupi pipi ku di bawah guyuran shower. Kemudian mencumbu ku dan mengatakan dengan lembut sampai aku tidak dengar apa yang dia katakan. Karena percikan air yang bergema membuatku telingaku tidak jelas mendengar perkataannya


"Hah? Kau bilang apa?" tanya ku


Tetapi yang dia bilang, "Aku malas, tidak ada pengulangan,"


Dia pun pergi dan mengambil handuk untuk dirinya sendiri dan keluar dari kamar mandi. Hemm benar-benar tidak pengertian.


Sebelum keluar kamar mandi ada ruangan pakaian disana, jadi aku memilih pakaian dahulu kemudian memakainya.


Bentuk kamar mandi Edgar adalah berada di dalam lemari yang miliki tempat tersendiri untuk berganti pakaian.


Ku keluar dengan sudah berpakaian lengkap, tinggal berdandan. Yang ku pakai adalah atasan blus dan celana panjang untuk ke kantor.


"Kau mau kemana?" tanya Edgar


"Kantor mu? Lalu kemana lagi?" tanya ku balik


"Aku akan ke New York, selama lima hari. Jadi selama itu Kau tidak perlu ke kantor. Tapi....," Edgar yang sedang memakai kemeja kerjanya menghentikan ucapannya seraya mendekatiku yang sedang berdiri di meja rias karena aku tidak tahu kemana kursinya.


"Tapi apa?" tanyaku sambil memoleskan cream wajah ke pipiku


"Tapi jangan pernah kau dekati pria lain," ucapnya


seraya memelukku dan mengecupi pipiku


"Haha oke. Jika itu ayahku atau adikku?"


"Tidak apa, aku mengijinkannya,"


Edgar menggelitikku dengan kumis dan janggutnya hingga aku terkekeh kegelian.


"Pakailah syal, lehermu seperti macan tutul," ucapnya san aku baru menyadarinya

__ADS_1


"Ini ulahmu," seru ku.


Dia masih memelukku seperti enggan melepaskan, sedangkan aku sedikit kesusahan untuk memakai make up


"Kau ingin lagi? Sepertinya bagus jika itu ada di pipi lengan dan kaki," ucap Edgar


"No, tidak akan kubiarkan. Aku tidak mau kulitku seperti macan tutul," ucapku melepaskan pelukannya dna menghindarinya karena Edgar ingin membuat tanda itu lagi


"Haha itu bagus kan sedang tren. Cepatlah, Aku ingin kau mengantarku ke Bandara," ucap Edgar kemudian ia mengambil jasnya dan memakainya sambil berjalan keluar kamar.


Ku lihat dasinya tidak terpasang rapi, jadi aku memanggilnya.


"Edgar tunggu," panggil ku


"Hmm," ucapnya menghentikan langkahnya lalu berbalik


"Dasimu belum rapi," sahutku lalu memperbaikinya


"Sengaja agar kau memperbaikinya," ucapnya sambil terkekeh dan aku pun jadi terkekeh


"Dasar kau banyak akal juga ya?" ucapku


Edgar tidak langsung menjawab dia malah terus memperhatikan diriku.


"Kenapa? Apa aku salah bicara,"


"Aku yang salah, aku baru tahu betapa cantiknya dirimu," puji Edgar lagi. Entah ke berapa kalinya dia memujiku terkesan dibuat-dibuat dan aku masih tidak yakin dengan perkataannya.


"Terimakasih," jawabku sambil tersenyum


Kemudian ia mendekatkan bibirnya ke atas keningku. Mengecup pucuk kepalaku sedikit lama. Setelah itu kami saling tersenyum dan memandang tanpa bicara. Aku yakin Edgar ingin mengatakan sesuatu. Tetapi dia masih menahannya.


Usai membenahi dasinya, Ia pergi keluar kamar dan aku secepat mungkin menyelesaikan dandanan ku.


Edgar sudah menunggu di bawah, di dalam mobil. Dia menyalakan mesinnya tetapi duduk di samping kursi kemudi. Dia memakai mobilku. Dia memintaku untuk mengantarnya ke Bandara.


Di Mansion itu aku juga tidak melihat keluarga Edgar, mungkin semua telah pulang karena Edgar mengusirnya. Meski dia mengatakan dengan jelas siapa yang diusirnya mungkin semua juga ikut pergi. Sebenarnya Aku tidak ingin Edgar dan keluarganya mempunyai masalah hanya karena aku. Semoga semuanya baik-baik saja.


Sepanjang perjalanan semua sama saja, hening. Tanpa lagu, tanpa pembicaraan. Mungkin dia masih sedikit canggung, Aku juga.


Biarlah, waktu yang menjawab kisah kita. Hari ini membuatku senang dengan sikapnya yang tulus dan lembut.


Setelah itu Edgar sibuk dengan ponselnya mengetik sesuatu, raut mukanya terlihat serius, mungkin urusan bisnisnya


Tak terasa, waktu berjalan kami telah sampai di Bandara. Dia memintaku untuk menurunkan ku di depan Lobby jadi aku tidak memarkirkan mobilku.


Tiba-tiba, Edgar mengecup bibirku sekilas, setelah itu ia turun dan mengambil kopernya. Lalu dia kembali lagi mengetuk jendela mobilku.


"Ada apa?" tanya Ku setelah membuka kaca jendela ku,


"Ada yang ketinggalan," ucap Edgar menundukkan kepala lalu memasukkan kepalanya dan mencumbu bibirku sangat dalam.


Astaga tingkahnya tidak bisa di tebak. Dan dia pun pergi dengan senyum sambil melambaikan tangan.

__ADS_1


__ADS_2