Cincin Pernikahan

Cincin Pernikahan
Clara Pergi Merantau


__ADS_3

Pagi yang dingin, sejuk, dan jauh dari keramaian, Mama Clara sedang menyapu pekarangan rumah. Sementara Bapak Clara menikmati secangkir kopi ditemani singkong rebus di kursi yang ada di teras. Mereka menikmati pagi seperti orang di kampung pada umumnya.


Asap mengepul di samping rumah setelah Mama Clara menyapunya dan membakarnya. Suasana kampung yang benar-benar terlihat ketika asap dari dedaunan yang dibakar. Sungguh pagi yang tenang dan damai ketika suasana kampung yang jauh dari hiruk-pikuk keramaian kota.


Clara berdiri memperhatikan kedua orangtuanya melakukan kegiatan masing masing.


"Sebentar lagi aku pergi merantau untuk melanjutkan pendidikanku. Tentu aku harus meninggalkan kedua orangtuaku yang kini tidak sekuat dulu lagi. Sedih, tetapi ini harus aku lakukan karena mungkin dengan kuliah bisa membuatku lebih berkembang dalam berpikir maupun bersosialisasi terhadap lingkungan sekitar. Ini juga atas persetujuan kedua orangtuaku dan Kakak-Abangku. Selama ini juga aku tidak pernah jauh dari keluargaku, terutama dari Mama. Mama adalah sosok yang selalu dekat denganku. Aku selalu membantu Mama bekerja. Kadang kami berdua juga mencari kayu bakar bersama." batin Clara.


Setelah menghabiskan kopinya, Bapaknya pergi sebentar mengurus kuda dan kerbau mereka. Kali ini Bapaknya lebih cepat pergi dari hari sebelumnya. Sedangkan Mamanya tidak pergi ke OnAn untuk jualan ikan, karena harus memberangkatkan putri bungsunya untuk menimba ilmu ke negeri orang.


Di sela-sela membersihkan pekarangan, Mamanya tiba-tiba melihat Clara jongkok dengan kedua tangannya mengganjal di dagu sambil termenung.


"Ra, kok termenung? Ngapain termenung, nak?" sapa Mamanya.


"Eh Ma, enggakkk," jawab Clara agak sedikit terkejut.


"Iya, Mama paham kok. Hari ini kan hari terakhir kamu bersama Bapak dan Mama, karena sebentar lagi kamu akan berangkat. Ayo, kita buat 'Manuk Na Pinadar'," ajak Mamanya sambil senyum.


Mendengar ajakan Mamanya, bengong Clara pun langsung buyar seketika. Karena "Manuk Na Pinadar" adalah makanan favoritnya, juga di bagian daging ayam ada khusus "Hasoloman" Clara. (Manuk Na Pinadar\=Ayam Panggang Dengan Bumbu Khas Batak, Hasoloman\=Paling Disukai)


Orang tua Clara memang selalu membuat seperti itu setiap memberangkatkan anak-anaknya pergi merantau, agar selalu mengingat orangtuanya dan kampung halamannya.


Kemudian Clara dan Mamanya mempersiapkan bumbu-bumbunya. Sedangkan Bapaknya yang sudah pulang dari mengurus kuda dan kerbau menangkap ayam mereka beberapa ekor, lalu memotongnya dan memanggangnya.


Tidak berapa lama, Wati pun datang yang sudah dipesankan Mama Clara untuk bantu-bantu.


"Horas Nantulang," kata Wati. (Horas\= Salam Khas Batak, Nantulang\= Tante)


"Horas. Ehh, sudah datang kamu, nak? Masuk, masuk," balas Mama Clara setelah melihat Wati berdiri di pintu.


"Sini, Wati. Disampingku," ajak Clara.


Di saat proses membuat bumbu Manuk Na Pinadar, kemudian Mama Clara bertanya untuk memastikan Clara. Jangan sampai ada keragu-raguan, karena itu tidak baik.

__ADS_1


"Ra, bagaimana perasaanmu?" tanya Mamanya.


"Biasa aja kok, Ma," jawab Clara walaupun hatinya merasa sedih melihat keindahan bersama kedua orangtuanya. Tetapi Clara harus berpura-pura tegar agar Mamanya yakin melepaskannya. Clara bukan ragu, tetapi hanya sedih.


Mendengar perbincangan Clara dan Mamanya, ada sedikit rasa iri di hati Wati.


"Salut kepada orang tua Clara, orangtuanya selalu melakukan yang terbaik kepada Clara sehingga Clara bisa melanjutkan kuliah. Tetapi aku tidak membandingkan dengan orangtuaku, karena rezeki setiap orang tua itu berbeda-beda. Semoga aku kelak bisa membantu dan membahagiakan orangtuaku juga, seperti impian Clara kepada orangtuanya," batin Wati.


"Bagaimana, sudah siap bumbunya? Ini ayamnya sudah selesai saya panggang," tanya Bapaknya sambil membawa ayam yang sudah dipanggang ke rumah.


Setelah masak semuanya, makan bersama pun siap untuk dimulai. Clara dan Wati merentangkan tikar dan mempersiapkan alat-alat makan, seperti: piring, gelas, cuci tangan, dan lain sebagainya. Dan para undangan pun sudah mulai berdatangan, karena Mama Clara mengundang beberapa tetangga terdekat mereka.


Setelah selesai makan, tibalah saatnya bergiliran memberikan "Tona Dan Poda" kepada Clara (Tona\= Pesan, Poda\= Nasehat). Pemberian tona dan poda dimulai dari Bapak Clara, Mama Clara, lalu para tetangga.


Waktu keberangkatan Clara pun tiba. Semua bergegas dari tempat duduk masing-masing. Sejenak Clara memandangi rumah mereka dan kamarnya sambil meneteskan air mata, lalu berkumpul di halaman. Di depan halaman rumah, Clara pamit dan memeluk para tetangganya satu per satu sambil menyalami mereka.


Clara pun tidak lupa memeluk temannya Wati. Saat Wati dipeluk, Wati berkata, "Ingat, jangan lupa ya."


Clara yang merasa heran atas perkataan Wati, kemudian bertanya, "Ingat apa, Ti?"


"Ihh, apa-an sih kamu, Ti! Ada-ada aja," kata Clara tersenyum sambil mencubit pinggang Wati.


Clara pun berangkat ditemani kedua orangtuanya ke loket bus yang lumayan jauh dari rumah mereka. Wati melambaikan tangan sambil meneteskan air mata hingga Clara dikejauhan.


****


Seperti lirik lagu Batak:


Marudur do sude,. Akka dongan sahuta dah,. Di topi parit di huta i,. Na di toru ni bulu i,.


Nang ilu-ilu pe huhut,. Sai maraburan i,. Lao paborhathon ho,. Na ujui tuparjalangan,.


(Dan seterusnya)

__ADS_1


Makna dari lagu ini, menceritakan tentang seorang anak yang menjadi harapan orang tuanya, diberangkatkan merantau demi kehidupan yang lebih baik. jika kelak menjadi orang yang berhasil diperantauan, agar selalu mengingat orang tua dan kampung halamannya.


****


Tiba di loket, Clara langsung membeli tiket dan kembali duduk bersama orangtuanya di bangku tunggu menunggu Jam keberangkatan.


"Kepada para penumpang kami tujuan Medan, dipersilahkan untuk masuk. Sekali lagi, kepada para penumpang kami tujuan Medan, dipersilahkan untuk masuk, terima kasih," kata operator loket dengan mikrofon.


"Ayo, ayo. Berangkat, berangkat," kata kernek bus kemudian.


Mendengar itu, Clara pun langsung memeluk Mamanya dan menangis sejadi-jadinya.


“Sudahlah, nak. Ini kan kemauan kamu mau kuliah di sana, jadi kamu harus kuat. Jangan terlalu memikirkan kami, nanti kamu bisa sakit. Nanti kalau kamu sakit di sana, siapa yang akan mengurus kamu?" kata Mamanya menguatkan. Clara pun mengangguk-angguk.


“Jaga diri baik-baik ketika sudah sampai di sana ya, Boru. Ingat, tujuan kamu kuliah itu apa. Di sini kami punya harapan yang besar kepadamu, jadilah anak yang baik dan berguna dan jangan lupakan budayamu. Buat kami bangga, nak. Ingat bahwa Bapak-Mama di sini bekerja banting tulang hanya untuk masa depanmu yang lebih baik," kata Bapaknya menasehati. Clara pun mengangguk-angguk dan langsung berbalik badan untuk memeluk bapaknya. Clara berusaha untuk menghentikan air matanya, tetapi tidak berhasil. Lalu ditumpahkannya semua rasa sedihnya di pelukan bapaknya.


Setelah berpamitan kepada kedua orangtuanya, Clara pun masuk ke bus yang masih menunggu dan mencari nomor bangku yang sudah ditentukan loket. Setelah itu Clara duduk dan menggeser kaca samping.


"Pemmm, pemmm," suara klakson bus, pertanda bus mau berjalan.


"Da, da, nak," kata Mamanya sambil melambaikan tangan.


"Da, da, Ma," balas Clara sambil melambai juga. Clara masih terus menangis.


“Clara, jaga diri baik-baik ya. Hati-hati di sana. Kami akan selalu mendoakanmu," kata Mama Clara kemudian.


"Pak, Ma, aku pergi untuk kembali lagi. Percayalah, jika tangisan hari ini akan menjadi senyuman bahagia di hari esok. Perjuangan Bapak-Mama kelak akan membuahkan hasil, percayalah. Aku berjanji, aku akan membahagiakan kalian. Doakan aku semoga berhasil. Selamat tinggal Bapak-Mamaku tersayang, sampai berjumpa kembali", batin Clara.


Orang tua Clara masih berdiri sambil memantau bus yang ditumpangi Clara sampai dikejauhan.


•••


Bersambung 🌹🔥

__ADS_1


Jangan bosan membaca novel ini ya readers. Klik jempolnya dan tinggalkan komentarmu ya 💌 terima kasih 🔥💗


__ADS_2