Cincin Pernikahan

Cincin Pernikahan
Berkunjung Ke Tempat Wisata


__ADS_3

Sebelum ibu nur tiba di kamar clara,


clara sudah terlebih dulu keluar dari kamarnya. Clara yang saat itu sedang menutup pintu kamarnya.


“hum, ibu sudah tau kan aku akan pergi dengan siapa ?” ucap clara dengan senyum manis di wajahnya.


Ibu Nur Pembantu dirumah pamannya itu pun hanya bisa terdiam dan senyum tanpa berkomentar kepada clara.


“nanti aku bawa oleh-oleh untuk ibu ya” ucap clara sambil berpamitan kepada ibu Nur


Tidak lama kemudian clara masuk kedalam mobil pamannya.


Pamannya pun mengingatkan clara untuk memakai seat belt alias sabuk pengaman mobil.


Clara tidak mengerti cara menggunakan seat belt atau safety belt. Padahal seat belt adalah salahsatu fitur keselamatan yang paling penting di mobil. Clara ini sangat polos. Jangankan untuk mengenal seat belt, gadis dari desa inipun jarang naik mobil. Karena biasa di kampugnya selalu berjalan kaki mau pergi kemanapun.


Karena melihat clara kebingungan, pamannya pun langsung membantu memasang sabuk pengamannya. Tidak hanya itu, pamannya juga menyempatkan untuk mengajari clara memasang dan melepas sabuknya. Dan syukurlah, clara cepat nangkap. Dan sekarang clara sudah bisa pasang dan lepas sabuk pengaman itu berkat dari pamannya.


“Penggunaaan Seat Belt yang tepat tentu akan melindungimu dari kejadian-kejadian yang tidak diinginkan” ucap pamannya clara


“Iya Paman”


jawab clara sambil menganggukkan kepalanya.


“Lalu kamu pengen jalan-jalan kemana ? adakah sesuatu tempat yang ingin kamu kunjungi ?”


Tanya pamannya sambil memancing ponakannya itu untuk ngobrol karena sedari tadi clara diam-diam aja di dalam mobil sambil menikmati musik yang dimainkan oleh pamannya.


“Clara pengen keliling Kota Medan Paman”


jawab clara sambil melirik ke arah pamannya dengan senyum.


“Hahaha …Kota Medan ini sangat luas, untuk mengelilingi kota Medan tidak cukup satu hari” kata pamannya sambil tertawa terkekeh


“Kalau gitu gimana kalau paman bawa aku mengunjungi Istana Maimun…?”

__ADS_1


ujar clara sembari menawarkan ke pamannya


“Boleh, kita kesana ya.” Jawab pamannya sambil menambah kecepatan mobil.


“apa yang kamu ketahui tentang Istana Maimun, kenapa kamu pengen berkunjung kesana?”


“Itukan tempat wisata yang cukup populer di Kota Medan paman, selain itu di Istana Maimun terdapat sebuah Mariam Puntung. Konon katanya Mariam puntung ini jelmaan dari putri hijau, Apakah cerita itu benar paman ?”


Tanya Clara


“Kurang lebih seperti itu lah ceritanya. Untuk memuaskan rasa keingin tahuan, nanti kita coba lihat sejarah dari Istana tersebut ya” jawab pamannya clara.


"Siap, Paman" jawab Clara singkat


Lokasi Istana ini terletak di jalan Brigadir Jenderal Katamso, kelurahan Sukaraja, kecamatan Medan Maimun, Medan, Sumatera Utara.


Clara dan Pamannya hanya butuh waktu sekitar 20 menit saja sudah tiba di Istana tersebut.


Setelah tiba di Istana Maimun, clara memandangi bangunan Istana yang berwarna kuning tersebut.


Pamannya pun membawa clara keliling-keliling di sekitaran istana yang luas itu, sayangnya clara belum punya HP saat itu jadi tidak ada foto-foto yang bisa diabadikan. dia enggan mau minta di foto oleh pamannya.


Setelah mengelilingi Istana tersebut, akhirnya clara mengetahui Sejarah Asal Usul Istana Maimun Medan dan Meriam Putung serta Putri Hijau.


Istana Maimun, terkadang disebut juga Istana Putri Hijau, merupakan istana kebesaran Kerajaan Deli.


Istana ini didominasi warna kuning, warna kebesaran kerajaan Melayu. Pembangunan istana selesai pada 25 Agustus 1888 M, di masa kekuasaan Sultan Makmun al-Rasyid Perkasa Alamsyah. Sultan Makmun adalah putra sulung Sultan Mahmud Perkasa Alam, pendiri kota Medan.


Sejak tahun 1946, Istana ini dihuni oleh para ahli waris Kesultanan Deli. Dalam waktu-waktu tertentu, di istana ini sering diadakan pertunjukan musik tradisional Melayu.


Biasanya, pertunjukan-pertunjukan tersebut digelar dalam rangka memeriahkan pesta perkawinan dan kegiatan sukacita lainnya.


Selain itu, dua kali dalam setahun, Sultan Deli biasanya mengadakan acara silaturahmi antar keluarga besar istana.


Pada setiap malam Jumat, para keluarga sultan mengadakan acara rawatib adat (semacam wiridan keluarga).

__ADS_1


Bagi para pengunjung yang datang ke istana, mereka masih bisa melihat-lihat koleksi yang dipajang di ruang pertemuan, seperti foto-foto keluarga sultan, perabot rumah tangga Belanda kuno, dan berbagai jenis senjata. Di sini, juga terdapat meriam puntung yang memiliki legenda tersendiri. Orang Medan menyebut meriam ini dengan sebutan meriam puntung.


Kisah meriam puntung ini punya kaitan dengan Putri Hijau. Dikisahkan, di Kerajaan Timur Raya, hiduplah seorang putri yang cantik jelita, bernama Putri Hijau. Ia disebut demikian, karena tubuhnya memancarkan warna hijau.


Ia memiliki dua orang saudara laki-laki, yaitu Mambang Yasid dan Mambang Khayali. Suatu ketika, datanglah Raja Aceh meminang Putri Hijau, namun, pinangan ini ditolak oleh kedua saudaranya. Raja Aceh menjadi marah, lalu menyerang Kerajaan Timur Raya. Raja Aceh berhasil mengalahkan Mambang Yasid. Saat tentara Aceh hendak masuk istana menculik Putri Hijau, mendadak terjadi keajaiban, Mambang Khayali tiba-tiba berubah menjadi meriam dan menembak membabi-buta tanpa henti.


Karena terus-menerus menembakkan peluru ke arah pasukan Aceh, maka meriam ini terpecah dua.


Bagian depannya ditemukan di daerah Surbakti, di dataran tinggi Karo, dekat Kabanjahe.


Sementara bagian belakang terlempar ke Labuhan Deli.


Kemudian dipindahkan ke halaman Istana Maimun.


Setiap hari, Istana ini terbuka untuk umum, kecuali bila ada penyelenggaraan upacara khusus.Istana ini terkesan kurang terawat, boleh jadi, hal ini disebabkan minimnya biaya yang dimiliki oleh keluarga sultan.


Selama ini, biaya perawatan amat tergantung pada sumbangan pengunjung yang datang.


Agar tampak lebih indah, sudah seharusnya dilakukan renovasi.


Istana Maimun telah dinobatkan sebagai bangunan terindah di Kota Medan, Sumatera Utara.


Setelah Clara puas menikmati isi di dalam istana tersebut, Clara dan Pamannya melanjutkan perjalanannya menuju Kota Tua Medan. Jaraknya tidak terlalu jauh dari Istana Maimun hanya memakan waktu 30 menit saja.


Clara dan pamannya pun memutuskan untuk pergi kesana. Karena kebetulan ada festival di sana.


Dimana, clara tidak sabar mencoba berbagai makanan khas kota Medan dan band-band local yang siap menghibur clara dan pamannya saat itu.


Rasa capek dalam perjalanan pun terasa, dan semuanya itu terbayar sudah setelah menikmati suasana kota Medan.


•••


Bersambung 🌹


Hi...bantu like, comment dan vote novel ini sebanyak²nya ya. Biar aku lebih semangat lagi untuk menulis cerita selanjutnya.

__ADS_1


Terima kasih 💗🙏


__ADS_2