Cincin Pernikahan

Cincin Pernikahan
Mencari Kos


__ADS_3

Pergi merantau untuk menimba ilmu seorang diri memang bukan perkara mudah bagi banyak orang termasuk bagi Clara, remaja yang baru saja lulus dari Sekolah Menengah Atas. Terlebih baginya yang baru pertama kali hidup jauh dari rumah dan terpisah dari orang tua.


••


Pagi itu sekitar jam 10 pagi, Clara mencari tempat kos yang kira-kira dekat ke kampus. Clara mencari tempat kosan itu ditemani oleh Jhoni. Mereka mulai berkeliling melihat rumah kosan di sekitar kampusnya.


Dari sekian banyak kos-kosan yang mereka lihat, belum ada satupun yang pas dan cocok di hati Clara. Karena kos-kosan di dekat kampus itu memiliki harga yang lebih mahal. Budget Clara tidak cukup.


Sedangkan Clara tidak punya kendaraan, Jhoni sangat menyarankan untuk memilih kosan yang dekat dari kampus. Clara bisa jadi lebih hemat karena tidak perlu mengeluarkan ongkos tambahan setiap harinya.


“Jika kelas mendadak dibatalkan atau ada kelas pengganti jamnya tanggung, kamu bisa dengan mudah pulang ke kos kapanpun kamu mau” kata Jhoni


“Lingkungan di sekitar sini juga banyak warung dan supermarket. Ini akan lebih baik lagi untuk mu” Lanjut Jhoni menjelaskan kepada Clara


Ada rumah kos yang cocok di hati Clara dan pas sesuai budget nya tetapi pemilik kosnya bilang penuh. Kemudian mereka melanjutkan ke rumah berikutnya dan sayangnya, selalu saja mereka dapatkan penuh.


Clara mulai kehilangan harapan untuk mendapatkan tempat kos di dekat kampusnya. Tapi saat itu hari sudah menunjukkan pukul setengah dua siang dan perut mereka mulai keroncongan.


Mereka memutuskan beristirahat sejenak di sebuah warung yang menjual nasi dengan lauk dan sambal rumahan seadanya.


Ibu pemilik warung itu gemuk dan wajahnya sangat ramah. Ketika Clara dan Jhoni memasuki warungnya, Ibu pemilik warung itu menyambut dengan hangat sambil mempersilahkan mereka duduk.


Kemudian mengambil dua piring nasi, lengkap dengan lauk dan sayurnya.


Sambil makan, Ibu pemilik warung itu menghujani mereka dengan banyak pertanyaan-pertanyaannya. Mulai dari daerah asal Clara, alasan kuliah di sini, sampai cerita tentang pengalaman ibu itu pernah merantau di sebuah kota beberapa tahun.


Karena Clara dan Jhoni sangat lapar dan menghabiskan makanan mereka dengan lahap.


Clara tidak terlalu mendengarkan ibu itu bercerita. Tapi tampaknya ibu itu hanya senang bercerita meski tak seorangpun antusias mendengarkannya.


Setelah selesai makan, Jhoni langsung mengeluarkan uang dari kantong jacketnya. Lalu memberikan kepada Ibu pemilik warung itu.


Sesaat sebelum mereka pamit dan mengucapkan terima kasih, Clara menyempatkan diri bertanya kepada ibu itu tentang tempat kos yang masih tersedia di sekitar sini.


Sekilas Clara menangkap ada keraguan di wajah ibu itu. Tapi kemudian ibu itu berkata, “Kalau disini selalu penuh, tapi mungkin yang disebelah sana” ibu itu menunjukkan sebuah jalan lagi, sekitar seratus meter dari seberang warungnya.


“Masih banyak yang kosong. Soalnya, sebagian mahasiswa lebih suka kos di daerah sini”

__ADS_1


Clara heran. “Memang kenapa, Bu ?” Apa di sebelah sana lebih mahal ?” tanya Clara


“Oh, tidak juga,” jawab ibu itu nyaris memotong pertanyaan Clara


“Malah banyak yang murah. Hanya saja, mungkin…..,” Ibu itu tidak meneruskan perkataannya lagi dan wajahnya berubah kaku.


“Ibu sarankan, kalau bisa kamu cari kos jangan di sana” kata ibu pemilik warung itu


Dalam benak Clara sudah terlanjur menggarisbawahi kata-kata ‘malah banyak yang murah’


 Hingga Clara tidak begitu mempedulikan perubahan aneh sikap ibu tentang daerah yang di tunjukkannya itu.


Karena penasaran, Clara mengajak Jhoni untuk segera meluncur kesana. Tapi Jhoni menolaknya.


Jhoni melihat jam tangannya sudah pukul setengah tiga.


“Kita harus segera menemukan tempat kosmu nih, jangan buang-buang waktu untuk melihat yang tidak perlu” tegas Jhoni sambil menghidupkan motornya.


Lalu mereka kembali berkeliling melihat tempat kos di daerah kampusnya, kali ini mereka mengelilingi rumah yang ada di belakang kampus itu.


Rumah kos khusus wanita


--


Lalu Jhoni menghentikan motornya dan mereka mencoba melihat ke arah rumah itu. Tiba-tiba ada seorang ibu-ibu yang datang menghampiri mereka, dan ternyata ibu itu adalah pemilik rumah kosan itu.


"Mau cari tempat kos?” tanya Ibu itu.


Clara membalasnya dengan anggukan cepat antusias.


“Apa masih banyak kamar ini yang kosong bu ?” tanya Clara


“Tinggal satu kamar yang kosong” jawab ibu pemilik rumah kosan itu.


Ibu pemilik rumah itu memandu Clara bersama Jhoni masuk ke dalam rumah. Sambil berjala, Clara melihat langit-langit rumah itu dan tampaknya sangat bersih.


Ibu itu memandu mereka melewati pintu-pintu kamar yang tertutup rapat untuk menuju kamar kosong paling ujung.

__ADS_1


Lalu  Ibu pemilik rumah kosan itu membuka kamar yang kosong yang ingin ditawarkan untuk Clara. Tak satupun perabot atau fasilitas di dalamnya. Kamar itu kosong, tapi lumayan bersih walaupun sedikit agak sempit.


Kemudian ibu itu menjelaskan semua peraturan di rumah kos itu. Juga memberitahukan harga kosnya perbulan, dan itu sudah termasuk biaya air listrik.


“Penghuni di rumah kosan ini semua perempuan. Ada juga yang sudah bekerja, tapi lebih banyak yang masih kuliah” ucap Ibu Pemilik kos itu.


Clara mengangguk-angguk sepakat. Jhonipun mendukung Clara untuk tinggal di rumah kos yang khusus perempuan ini, setidaknya ini sudah lebih aman buat Clara.


Setelah sepakat. Clara segera melunasi biaya kosnya untuk biaya kos satu bulan agar tidak disalip orang lain. Setelah menerima sejumlah uang dari Clara. Ibu pemilik rumah itu menyerahkan kunci kamarnya.


Karena barang-barang Clara tidak banyak hanya ada satu tas ransel dan satu buah tas yang agak besar yang dibawanya dari kampung itu.


Clara tidak perlu lama menata kamarnya.


Clara cukup membersihkannya dulu lalu membeli barang-barang yang kira-kira diperlukan saat itu.


•••


~


~


~


~


~


Bersambung 🌹


Hello Readers 💗


Tetap setia membaca novel ini ya. oya, novel ini mengikuti kontes "You Are A Writer Season 3" loh 😍


Mohon bantuan like, vote dan comment ya. dukung aku terus supaya lebih bersemangat menulis cerita berikutnya.


terima kasih 😍🙏

__ADS_1


__ADS_2