Cincin Pernikahan

Cincin Pernikahan
Keterampilan Memasak Clara


__ADS_3

Sesampai di rumah pamannya, Clara melihat dari luar pagar bahwa garasi masih kosong, ternyata Paman-Bibinya belum pulang.


"Syukurlah Pamanku belum pulang, hatiku pun agak lega," gumam Clara.


Clara menekan bel, lalu Ibu Nur segera buka gerbang. Clara pun berterima kasih dan dia mengajak Jhoni masuk ke rumah.


Dia mengajak Jhoni makan malam di rumah Pamannya. Saat itu sudah Jam 7 malam, artinya sudah waktunya untuk makan malam.


Clara melihat tidak ada makanan di atas meja. Ibu Nur saat itu sedang sibuk menyetrika pakaian.


Sebenarnya bisa aja sih Clara meminta tolong kepada Bu Nur untuk menyiapkan makan malam, tetapi kasihan Bu Nur yang lagi sibuk.


Tanpa mengganggu Ibu Nur yang sedang menyetrika, Clara langsung siap-siap mau masak agar Jhoni juga tidak kemalaman pulang, soalnya kos Jhoni lumayan jauh.


Keterampilan memasak Clara tidak begitu luar biasa, namun dia tidak canggung berada di dapur.


Clara sejak kecil sudah diajarkan orangtuanya untuk hidup mandiri dan bahkan dibiasakan mengurus diri sendiri walaupun anak bungsu, tetapi dia tidaklah dimanjakan oleh kedua orangtuanya termasuk belajar memasak.


Jadi, mulai menginjak remaja dia tidak lagi kesulitan menyiapkan makanan di rumah untuk keluarganya.


Kemudian Clara meletakkan brokoli, ayam tanpa tulang, toples berisi bumbu-bumbu, serta beragam bahan pelengkap.


Dia memakai bumbu jadi demi memudahkan dan mempersingkat waktu memasak. Kalau di kampung kan sangat jarang pakai bumbu jadi seperti itu, semua serba alami.


Dengan cekatan dia membuat cah brokoli dan ayam goreng tepung.


Untuk alasan kepraktisan, jauh lebih muda jika dia dan Jhoni membeli makanan aja atau bisa jadi makan di luar sesudah menambal ban tadi.


Namun Clara suka menyibukkan diri, salah satunya dengan memasak. Dan juga dia tidak mau boros-boros untuk saat ini, karena Minggu depan dia sudah pindah ke kosan baru.


Jadi, dia lebih menghemat keuangannya supaya cukup sampai datang kiriman dari orangtuanya.


Dia menyendok nasi ke piring dan meninggalkan dapur dengan langkah cepat menuju ruang tamu. Setelah itu, dia mengajak Jhoni untuk makan malam.

__ADS_1


“Kamu masak apa, Clara? wangi sekali,” tanya Jhoni.


“Udah kelar Bang, ini kita mau makan," jawab Clara.


Begitu mereka tiba di dapur, Clara segera meminta Jhoni duduk. Sementara Clara mengambil piring lagi yang kemudian diisinya dengan nasi.


“Kita makan bersama dengan Ibu Nur ya Bang, tetapi menunya enggak macem-macem," kata Clara kepada Jhoni.


Clara pun mengajak Ibu Nur untuk makan malam bersama dengan mereka. Awalnya Bu Nur menolak ajakan Clara, mungkin Bu Nur merasa enggak enak kalau gabung di meja makan bersama mereka.


Tetapi, Clara merayu Bu Nur dan akhirnya bersedia.


“Kita samalah Bu di sini, jangan segan-segan menyuruh Clara ya, Bu,” kata Clara.


“Ayo makan, kalau rasanya kurang enak, yah dienakin ajalah ya," kata Clara sambil tersenyum.


Jhoni pun mengambil sepotong ayam goreng tepung, lalu menggigitnya perlahan.


“Abang kan jarang sekali ke sini, jadi belum sempat merasakan olahan tanganku," kata Clara bercanda.


“Lagian kalau aku ngaku-ngaku bisa masak, entar Abang bilang aku pamer, ya kan Bu?” kata Clara kepada Ibu Nur yang juga lagi asyik menikmati masakan Clara. Ibu Nur hanya tersenyum, juga Jhoni ikut tersenyum.


“Kukira hanya sekedar bisa doang, dalam arti masakannya enggak mentah dan rasanya mungkin enggak menjanjikan. Bentar, aku mau coba brokolinya dulu," kata Jhoni sambil menjangkau mangkuk berisi sayuran, lalu memindahkan sedikit isinya ke dalam piringnya.


Lima detik kemudian, Jhoni memberi respon mantap dengan mengacungkan jari jempolnya.


“Memang enak, ya? Aku kok enggak yakin," balas Clara.


"Mungkin karena sudah terlalu lapar mungkin Bang, kalau lagi lapar kan masakan yang rasanya asin pun tetap aja nikmat, hehehe," kata Clara kemudian sambil tertawa.


“Enak Ra, serius, aku enggak bohong. Kamu belajar masak sejak kapan?” tanya Jhoni.


“Sejak SMP, Bang. Di kampung kan harus serba bisa semua, pelan-pelan Mamaku mengajari aku memasak dan akhirnya bisa karena sudah terbiasa. Tetapi sampai sekarang pun aku enggak mau masak yang ribet Bang, aku lebih memilih menu praktis tetapi sehat”, kata Clara menjelaskan.

__ADS_1


Selama di rumah Pamannya yang sudah kurang-lebih sebulan, Clara selalu rajin bantu Ibu Nur di dapur. Clara juga dapat banyak ilmu tentang memasak Ibu Nur.


Setelah selesai makan, Ibu Nur mencuci piring.


"Biar aku aja yang nyuci, Bu," kata Clara kepada Ibu Nur.


“Enggak usah nak, kalau dilihat Bapak bisa marah nanti,” kata Bu Nur.


Sudah menjelang malam, Paman dan Bibinya belum pulang juga.


Clara dan Jhoni menuju ruang tamu, mereka ngobrol-ngobrol dan duduk di sofa sambil menunggu Pamannya pulang.


Clara sangat berterima kasih kepada Jhoni yang selalu menyempatkan waktunya untuk menemani Clara mulai dari awal tiba di Medan sampai mendaftar kuliah.


Clara merasa sudah jadi cewek yang paling beruntung, punya Abang seperti Jhoni yang baik hati.


Dan bahkan sampai rencana Clara untuk mencari kos di dekat kampus pun Jhoni siap untuk menemaninya. Mungkin Clara tidak bisa membalas semua kebaikan Jhoni.


Beberapa menit kemudian, Jhoni harus pulang ke kosnya. Mereka yang dari tadi menunggu Paman dan Bibi Clara di rumah, juga tidak kunjung pulang-pulang.


Seperti biasa memang mereka selalu sibuk, rumah itu selalu sepi karena Paman dan Bibi Clara jarang ada di rumah.


Selama Clara di rumah itu pun dia jarang sekali cerita-cerita sama Paman-Bibinya, hanya Ibu Nur-lah temannya untuk diajak bercerita.


Bisa dibayangkan kan, bagaimana Ibu Nur selalu kesepian setiap hari di rumah itu.


•••


Bersambung 🌹💗


Ayo baca terus kelanjutan ceritanya ya, like dan komen supaya aku lebih bersemangat lagi untuk menulis cerita selanjutnya 🔥


Terima kasih 🌷

__ADS_1


__ADS_2