
Clara memulai perjalanannya. Jarak tempuh antara kampungnya ke Medan kira-kira 7-8 Jam dengan kecepatan 80-100 Kg/Jam. Di dalam bus, air matanya masih mengalir tiada henti atas kesedihan yang dia alami setelah berpisah dengan kedua orangtuanya.
Clara terus memandang ke samping dari kaca samping bus seperti tidak ingin diganggu. Dia sesekali menghapus air matanya.
"Aneh sekali rasanya, kenapa otakku serasa buntu dan tidak mampu berpikir?" batin Clara sambil memijat-mijat kepalanya.
(Setelah lelah menangis, akhirnya Clara mengantuk, lalu tertidur)
[SUARA MUSIK SYAHDU]
"Anakku naburju, anak hasianku, anakku nalagu. Ingot do ho amang, di akka poda ni, natua-tuami. Dung hu paborhat ho, namarsikkola i tu luat nadao i amang. Benget do ho amang, benget do ho, manaon na dangol i (dan seterusnya)," kata lirik lagu Batak, yang dipasang supir untuk menghibur para penumpangnya.
(Bahasa Indonesia dari lirik lagu Batak: Anakku yang baik, anak kesayanganku, anakku yang tampan/cantik. Ingatlah nasehat orangtuamu. Begitu kuberangkatkan kau sekolah ke daerah yang jauh anakku, kuat lah kau nak, semoga kau mampu menahan penderitaan itu)
Clara tiba-tiba terbangun karena mendengar suara musik dalam bus, lalu melihat para penumpang lainnya sedang tertidur pulas. Kemudian, dia meminum air putih yang sudah disediakan oleh Mamanya dari rumah sebelum berangkat.
Ketika Clara mendengar lagu itu, hatinya kembali bersedih dan air matanya mengalir lagi membasahi pipinya.
"Lagunya menyentuh sekali, sedihhh," batin Clara sambil menghela napas dan menghapus air matanya.
Clara sesekali memandang ke belakang. Maksudnya, ingin kembali memeluk orangtuanya. Tetapi hal itu tidak mungkin lagi, karena bus sudah jauh sekali meninggalkan kampungnya.
Di tengah perjalanan, bus yang ditumpangi Clara tiba-tiba belok arah dan mampir di sebuah rumah makan khusus bus.
"Makan-minum, makan-minum," teriak kernek bus kepada para penumpang.
Para penumpang pun turun satu per satu, termasuk Clara. Clara yang sudah sedari tadi menahan ingin BAK (Buang Air Kecil) langsung menuju toilet.
"Numpang tanya, Bu. Toiletnya di mana ya?" tanya Clara kepada seorang Ibu yang khusus jualan makanan ringan di area rumah makan bus.
"Oh, sebelah kiri, nak," jawab Ibu penjual.
Setelah dari toilet, Clara masuk ke rumah makan. Dia memilih meja yang paling pojok. Dia melihat-lihat menu makan yang akan dipesan.
"Aku yang ini aja, Kak," kata Clara sambil menunjuk menu yang diinginkan kepada pelayan rumah makan yang sudah berdiri didepannya.
Di meja sebelah, tiba-tiba ada seorang pria paruh baya datang menghampiri Clara.
“Mau kemana, Dek?“ tanya pria itu sambil meletakkan kopinya di meja Clara.
“Mau ke Medan, Pak, ” jawab Clara sambil senyum.
"Ini, Kak," kata pelayan rumah makan sambil meletakkan pesanan Clara di atas meja.
Bapak itu belum melepaskan pandangannya dari wajah Clara seperti penasaran.
“Tinggal dimana, Dek?” tanya Bapak itu sambil menyeruput kopinya.
__ADS_1
"Di (menyebutkan nama kampung), Pak. Mari makan, Pak," jawab Clara singkat sambil menawari Bapak itu makan.
"Iya, Dek. Silahkan," jawab Bapak itu.
"Desa (menyebutkan nama desa), dekat lapangan pacuan kuda ya?" tanya Bapak itu pengin tahu.
“Wajahnya mirip, Pak Robert. Jangan-jangan….” batin Bapak itu ragu-ragu.
“Anaknya, Pak Robert ya?” tanya Bapak itu sambil menunjuk Clara.
“Kok dia tahu nama panggilan Bapakku, siapa ya?" batin Clara bertanya heran.
“Hmm, Pak Robert siapa yang di maksud Bapak?” tanya Clara kembali untuk memastikan.
“Pak Robert yang punya kuda di desa (menyebutkan nama desa). Kamu anaknya kan?” tanya Bapak itu.
“Oh, iya Pak. Itu Bapakku,” jawab Clara sambil tersenyum.
Bapak itu langsung menyalam Clara karena dugaannya benar, “Saya, Pak Erik. Lalu siapa namamu, nak?”
“Namaku Clara, Pak," jawab Clara dan membalas salaman Pak Erik juga.
“Mau mengapain ke Medan?” tanya Pak Erik.
“Rencana mau kuliah, Pak,” jawab Clara.
"Oh begitu ya, Pak” kata Clara sambil mengangguk-angguk.
“Bapakmu adalah orang baik, aku pernah diselamatkannya. Saat itu sudah sore, dia memotong kayu terakhir. Saya panggil-panggil dia, tetapi tidak mendengar karena suara mesin alat potong kayu yang begitu kuat dan memengakkan telinga. Saat saya sudah hampir mendekatinya, kayu yang dipotong pun tumbang. Begitu mengetahui saya bakalan tertimpa, Bapakmu langsung berlari dan mendorongku supaya tidak tertimpa. Ya, Bapakmulah yang menyelamatkan saya saat itu. Hmm, kala itu," kenang Pak Erik lanjut sambil menghela napas.
“Oh begitu, hebat sekali Bapakku," kata Clara dengan haru setelah menyimak Pak Erik bercerita tentang Bapaknya.
“Yah, begitulah kisah perjuangan kami dulu bersama Bapakmu, nak,” kata Pak Erik.
Ternyata Pak Erik adalah teman Bapak Clara saat bekerja memotong kayu. Hanya saja Clara tidak mengetahuinya, karena saat itu Clara masih anak-anak. Clara hanya mengetahui Bapaknya bekerja di ladang dan mengurus kuda dan kerbau.
"Pantasan saja di rumah kami ada mesin alat potong kayu dan helm-helm proyek, ada warna kuning dan warna biru helmnya. Ternyata, sebelumnya pekerjaan Bapakku memotong kayuuu," batin Clara sambil mengingat.
"Ayo, ayo. Berangkat, berangkat," kata kernek bus tiba-tiba sambil berteriak.
Perbincangan Clara dan Pak Erik pun terputus seketika. Ternyata bus yang ditumpangi Pak Erik mulai berangkat yang sudah lebih dulu singgah di rumah makan tersebut daripada bus yang ditumpangi Clara.
Pak Erik pun langsung beranjak dari tempat duduknya dan memberi uang kepada Clara, "Nah, untuk menambahi uang sakumu aja."
"Tidak usah, Pak," tolak Clara.
"Terimalah, nak. Anggap aja ini bentuk terima kasihku untuk Bapakmu dan ini pun belum seberapa dibandingkan dengan nyawaku," kata Pak Erik.
__ADS_1
Clara pun akhirnya menerimanya dan berkata, "Terima kasih ya, Pak."
Kemudian, Pak Erik langsung menuju kasir untuk membayar makan dan minumannya.
"Berapa, Bu? Sama punya anak itu ya," tanya Pak Erik Sambil menunjuk ke arah Clara.
“Pak, aku aja yang bayar punyaku," kata Clara sedikit berteriak setelah Pak Erik menyebutkan posisi mejanya.
“Tidak apa-apa, Nak. Oh iya, sampaikan salamku kepada Bapakmu ya," kata Pak Erik dengan buru-buru meninggalkan rumah makan.
“Iya, Pak. Terima kasih sekali lagi ya, Pak," sahut Clara.
“Tidak ada kebaikan yang sia-sia. Kebaikan yang dilakukan Bapakku dulu kepada orang lain, sekarang anaknya yang menerima balasannya," batin Clara.
20 menit kemudian, waktu istirahat para penumpang bus yang ditumpangi Clara pun berakhir.
"Ayo, ayo. Berangkat, berangkat," kata kernek bus berteriak.
Para penumpang termasuk Clara pun beranjak dari tempat duduk masing-masing. Sambil menunggu para penumpang masuk semuanya, terjadi pergantian supir. Mungkin, sudah seperti itu anjuran dari pihak "Direksi Bus" demi menjaga keselamatan. Supir yang pertama kembali istirahat. Bus pun segera meninggalkan rumah makan dan melanjutkan perjalanan.
Beberapa Jam bus berjalan, Clara bingung karena tidak tahu sudah sampai di mana. Dia tidak mengenali setiap daerah yang dilalui bus, karena baru itu pertama kali dia ke Medan.
"Bu, kita sudah sampai dimana ya?" tanya Clara kepada penumpang disampingnya.
"Oh, kita sudah di (menyebutkan nama daerah)," jawab Ibu itu.
"Medan masih jauh lagi, Bu?" tanya Clara lagi.
"Masih, kira-kira 4 Jam lagi," jawab Ibu itu.
Mendengar jawaban si Ibu, Clara pun lega karena Medan masih jauh lagi. Dia mencoba untuk tidur lagi.
Jam 17.00 sore.
"Medan, Medan, Medan," kata kernek bus sedikit berteriak.
Para penumpang pun bersiap-siap dan memeriksa barang-barang bawaannya.
"Dek, Dek, kita sudah sampai di Medan," kata si Ibu penumpang di sampingnya membanguni sambil menepuk-nepuk pundak Clara.
Clara pun tersentak terbangun dan memeriksa barang bawaannya.
"Terima kasih, Tuhan. Kami sampai di tujuan dengan selamat," doa Clara dalam hati.
•••
Bersambung 🌹🔥
__ADS_1
Jangan bosan membaca novel ini ya readers. Klik jempolnya dan tinggalkan komentarmu ya 💌 terima kasih 🔥💗