
Pada saat Clara dibonceng, Jhoni menganjurkan supaya Clara memegangnya dengan erat dan mengikuti gerak tubuhnya. Hal itu bertujuan supaya stang motor tidak goyang, tidak kaku, dan gampang belok ke kiri dan ke kanan. Demi keselamatan, Clara pun menurutinya.
Tiba di lampu merah, Clara dan Jhoni pun berhenti. Hal yang tidak disangka-sangka dan diduga-duga pun terjadi. Di mana mereka saling bertatap mata lewat kaca spion. Jhoni lebih dulu menatap Clara dengan senyum termanisnya, kemudian disambut Clara dengan senyum termanisnya juga.
"Wouww, di mana ini? Indah sekali bunga-bunganya. Wah, pangeran berkuda datang, ganteng sekaliii."
"Tin, tinnn, tinnnnn," suara klakson kendaraan bersahutan pertanda sudah lampu hijau.
Clara pun langsung tersadar dari lamunannya.
"Sial, ternyata aku hanya berhalusinasi," batin Clara.
Kemudian, mereka pun melanjutkan perjalanan.
“Kok, aku nyaman ya dibonceng dia? Jangan-jangan Bang Jhoni menyukaiku,” batin Clara lagi.
Diperjalanan, Jhoni jadi sering-sering menatap Clara lewat kaca spion dan sambil tersenyum.
"Eitss, fokus Bang dan ingat keselamatan. Jangan keseringan menatapku lewat kaca spion," kata Clara sambil tersenyum.
“Memangnya salah ya? Aku kan harus memastikan penumpangku aman di belakang,” jawab Jhoni.
Motor pun semakin digas Jhoni. Clara yang mengetahui motor semakin melaju, dia pun mengencangkan pegangannya di jaket Jhoni yang semula hanya berpegangan di ujung jaket.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba gerimis turun. Jhoni mengajak Clara untuk menepi dan berteduh di sebuah emperan ruko. Saat itu Clara tidak pakai jaket, hanya pakai kaos polos saja. Mengetahui Clara tidak pakai jaket, Jhoni pun langsung membuka jaketnya.
“Nih pakai, supaya badanmu hangat,” kata Jhoni sambil memakaikannya di pundak Clara.
Clara hanya bisa menunduk dan tersipu malu.
“Terima kasih, Bang. Abang baik sekali loh kepadaku," ujar Clara sambil tersenyum dan mengamati tubuh Jhoni yang kekar.
__ADS_1
“Iya, harus baiklah kepada adek junior,” kata Jhoni dengan wajah yang sok cool.
“Hmm, aku harus akui Bang Jhoni memang tampan, senyumannya manis, baik, romantis, sehingga aku mulai tertarik kepadanya. Wanita lain pun pasti mengalami hal yang sama jika jumpa pria seperti Bang Jhoni. Apa dia benar-benar suka denganku ya?” tanya Clara dalam hati.
Gerimis sudah mulai berhenti. Mereka pun langsung beranjak ingin memulai perjalanan, supaya tidak terlalu malam sampainya.
Tetapi, sebelum berangkat terjadi pergeseran dan perpindahan. Semula tas menjadi pembatas (di tengah) di antara mereka yang sambil dipangku Clara, kini menjadi pindah ke depan.
"Ra, tasmu di depan aja ya, di atas tangki minyak. Lalu, kamu lebih rapat lagi dibelangku sambil memegang pinggangku," kata Jhoni.
(Apakah itu strategi Jhoni supaya gimana-gimana gitu atau untuk menstabilkan motor, Author tidak tahu)
Clara pun menurut. Dia memegang erat pinggang Jhoni dan hampir tidak ada celah di antara mereka. Ya, miriplah dengan "Jack Dawson & Rose DeWitt" (pemeran utama Film Titanic).
Clara sangat menikmati jalanan yang basah dan udara yang cukup dingin. Mereka pun sudah mulai akrab dan sambil ngobrol-ngobrol di atas motor.
**
**
Tidak lama kemudian, mereka memasuki area asrama yang menjadi tempat tinggal Pamannya. Mereka pun sampai sekitar Jam 19.00. Berarti, kurang-lebih 1.5 Jam perjalanan dari loket bus ke rumah Paman Clara.
Hal itu menjadi momen yang lucu dan sangat berkesan bagi Clara saat pertama kali menginjakkan kakinya di kota yang penuh dengan kendaraan, di mana ada seseorang yang baik hati mau menemaninya sehingga dia tidak kesepian.
Clara menekan tombol bel rumah Pamannya, kemudian seorang Ibu paruh baya yang membuka gerbang. Dia adalah pembantu Pamannya, Ibu Nur.
Kedatangan Clara pun disambut baik oleh Paman-Bibinya. Clara memberi salam dan mencium tangan mereka, lalu memperkenalkan Jhoni.
Pamannya langsung mengajak mereka ke rumah dan menyuruh pembantunya untuk memasukkan tas Clara ke kamar. Sedangkan Bibinya langsung membawa 2 gelas air putih hangat dari dapur dan melatakkan di atas meja sambil menawari.
Mereka pun berbincang-bincang dan Pamannya banyak bertanya tentang keadaan di kampung dan pastinya juga bertanya tentang kabar orang tua Clara.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Jhoni meminta segera pulang karena harus menyelesaikan beberapa tugas kampusnya. Clara pun mengantar Jhoni sampai di gerbang.
“Terima kasih ya Bang, sudah mengantar aku ke mari,” kata Clara sambil menyalam Jhoni.
“Sama-sama, Ra. Kalau kamu butuh bantuan, jangan segan-segan menghubungiku ya," kata Jhoni.
“Baik, Bang. Terima kasih sekali lagi dan hati-hati di jalan ya," kata Clara mengakhiri.
Setelah Jhoni pergi, Clara kembali masuk ke rumah. Sedangkan Ibu Nur sudah mempersiapkan makan malam di atas meja.
Paman-Bibinya langsung mengajak Clara untuk menikmati makan malam bersama.
"Wouww, menyenangkan sekali tinggal di rumah ini. Pamanku ternyata orang kaya," batin Clara.
Clara sangat bahagia tinggal di rumah Pamannya. Tetapi, Clara tidak pernah berharap akan menumpang di rumah keluarganya, apalagi saat mau masuk kuliah nanti.
"Syukurlah, Paman-Bibiku orang yang baik walaupun orang kaya dan anak-anaknya sudah berhasil semua, tetapi mereka tetap rendah hati dan suka menolong," batin Clara.
Setelah selesai makan, Clara pun mandi dan mengganti pakaiannya, kemudian dengan tenteram berdoa dan bersyukur kepada Tuhan yang sudah memberkati sepanjang perjalanan sampai tiba di rumah Pamannya.
Dia berharap, itu akan menjadi malam yang indah, aman dan nyaman baginya. Juga, karena itu adalah malam pertama di kota Medan.
Tanpa memikir panjang, dia langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur yang sudah disediakan dan dirapikan Ibu Nur sebelumnya.
•••
Bersambung 🌹💗
Ayo, baca terus kelanjutan ceritanya, like dan komen supaya author lebih bersemangat lagi untuk menulis cerita selanjutnya 🔥
Terima kasih 🌷
__ADS_1