
Jhoni lagi asyik ngobrol-ngobrol dengan temannya, di mana temannya itu salah satu mahasiswa juga di kampus itu.
Clara membiarkan mereka ngobrol di sudut ruangan, dia pergi ke WARTEL yang tidak jauh dari kampus, hanya beberapa langkah saja.
Dia ingin nanya kabar Bapak-Mamanya, sekaligus ingin memberitahukan kalau dia sudah mendaftar kuliah.
Kalau Clara cerita, pasti Jhoni akan menawarkan HP-nya untuk dipakai, Clara merasa tidak enak, karena Jhoni sudah banyak membantunya sampai saat ini, lagian pun duit Clara masih cukup untuk nelepon dari WARTEL.
Pengunjung WARTEL tidak terlalu ramai, dia (Clara) mendorong pintu masuk WARTEL, dia melihat beberapa bilik yang kosong lalu masuk ke bilik 01.
Beberapa kali dia menghubungi nomor HP orangtuanya, ternyata tidak terhubung.
“Mungkin HP-nya lagi lowbat, lagian ini masih jam 5 sore. Mereka biasanya belum pulang dari ladang jam segini,” gumam Clara.
5 menit kemudian, dia mencoba lagi untuk tekan nomor HP orangtuanya, tetapi tidak terhubung juga. Dia berusaha berpikir positif.
"Mungkin HP Bapakku lagi di cas dan sengaja di Non-Aktifkan," gumamnya.
Kemudian Clara kembali ke kampus menjumpai Jhoni, dia melihat Jhoni masih asyik ngobrol-ngobrol dengan temannya. Clara menghampiri mereka dan duduk di samping Jhoni.
Tiba-tiba pandangan teman Jhoni berpaling seketika kepada Clara yang duduk bersama mereka.
"Wouww, cantik sangat cewek ini," gumam teman Jhoni terheran-heran dan terkagum-kagum.
“Pacarmu ya, Bro?” tanya teman Jhoni.
“Walah, kamu ada-ada aja. Kami berdua hanya teman saja dan dia mau lanjut kuliah di kampus kita ini, Bro," jawab Jhoni.
“Oya Ra, ini Bimo temanku, mahasiswa di kampus ini juga," kata Jhoni sambil menepuk punggung Bimo.
“Oh iya, Bang. Hi, aku Clara," kata Clara sambil menyodorkan tangannya.
Bimo pun langsung menyambut tangan Clara dengan semangat.
“Hi juga, aku Bimo.” balas Bimo tetapi belum melepaskan tangannya dan masih menatap Clara seolah tidak mau melepaskan tangan dan tatapannya.
“Hrmm, hrmm, tidak harus lama-lama kali pegang tangannya,” kata Jhoni tiba-tiba sambil sedikit berbatuk.
__ADS_1
Jhoni sepertinya cemburu ketika Bimo pegang tangan Clara. Jhoni memperhatikan tangan Bimo yang seolah tidak mau melepaskan tangannya.
“Ngapain juga kamu marah! Kan, kalian hanya teman saja,” kata Bimo yang sedikit terkejut.
“Tidak perlu terlalu buru-buru,” balas Jhoni.
“Kenapa sih Bang Jhoni larang Bimo seperti itu! Padahal, baru sebentar doangnya, apakah dia memendam perasaan kepadaku ya?" gumam Clara sambil tersenyum. Mulai lagi Clara berpikir aneh-aneh dan gampang terbawa perasaan.
Waktu pun berjalan dan hari semakin sore. Mereka pun bubar dari lokasi kampus.
"Aku ke Warnet dulu Bro, Clara, mau main game," kata Bimo sambil tersenyum kepada Clara.
Memang, Bimo adalah seorang pecandu game. Kadang dia sampai lupa mengerjakan tugas di kampus dan kadang tidak mandi berhari-hari karena merasa games itu lebih penting. Dia menganggap games itu adalah satu-satunya yang bisa membuat dia happy.
Sementara itu, Jhoni dan Clara berencana mau pulang. Mereka pun menuju parkiran.
Seperti biasa, Jhoni dan Clara memakai pelindung diri untuk berkendara. Kemudian, motor besar Jhoni pun meluncur meninggalkan parkiran kampus.
Ketika melintasi jalan raya, tiba-tiba terdengar suara angin dari ban motor Jhoni, "Pusss." Ternyata ban depan motor Jhoni bocor.
Betapa tidak, begitu ban depan motor Jhoni kempes, tiba-tiba Clara tergeser ke depan sehingga lebih rapat lagi ke badan Jhoni, seperti Clara mendekap Jhoni dari belakang. Itulah untungnya. Kalau sialnya? Ya itu, ban motornya kempes yang tidak dapat ditolak.
Agar tidak terlalu parah, Clara pun langsung turun dari boncengan.
"Kalau aku harus berjalan kaki tidak mungkin, karena masih setengah perjalanan dan tidak mungkin juga aku meninggalkan Bang Jhoni dengan keadaan seperti itu," gumam Clara.
“Bang, kenapa bisa tiba-tiba bannya kempes?” tanya Clara.
“Iya, sepertinya tadi aku nabrak jalan yang berlubang, Ra. Tidak apa-apa, kita coba cari tukang tambal ban ya," jawab Jhoni.
Hari semakin sore dan menurut pemikiran Jhoni, masih banyak tempat tambal ban yang masih buka.
"Ra, dorong dari belakang ya, biar aku yang naik, hehehe," kata Jhoni bercanda sambil tertawa.
__ADS_1
"Ihhh, aku kan cewek, mana mungkin mendorong dari belakan," kata Clara sambil merengek.
"Ya sudah, kamu yang naik biar aku yang dorong dari belakang, tidak apa-apa, hehehe," kata Jhoni bercanda lagi sambil tertawa.
"Hahahah, Nggak mau akhhh!" kata Clara sambil tertawa.
Akhirnya Jhoni menaiki motornya sambil mendorong pakai kakinya. Clara pun ikut juga jalan dari belakang menuju tempat tambal ban.
Begitu kira-kira 100 meter mereka jalani, ternyata tambal ban yang biasa ada di pinggir jalan itu tidak buka.
Ada satu tempat tambal ban lagi yang terdekat yang di ketahui Jhoni, mereka pun terus berjalan ke arah tambal ban tersebut.
"Horeee, buka!" kata Clara dalam hati saking senangnya.
Lalu, tukang tambal ban itu langsung memeriksa bagian yang bocor.
"Karena dipaksa dinaiki dengan jarak yang lumayan jauh, bannya semakin rusak parah dan harus diganti dengan yang baru, tidak bisa ditambal lagi. Sekiranya tadi motornya tidak dipaksa dinaiki tetapi dituntun pelan-pelan, maka ban tidak terlalu rusak parah," kata tukang tambal ban menjelaskan.
Jhoni pun langsung menyetujui hal tersebut, diganti dengan ban yang baru.
Bahwa di setiap peristiwa yang terjadi, pasti didalamnya terselip pelajaran kehidupan.
Setelah selesai diganti, mereka pun melanjutkan perjalanan pulang ke rumah Paman Clara.
Mereka harus mengusahakan sampai di rumah secepat mungkin, sebelum Paman-Bibi Clara sampai duluan.
Bersambung..🌹
Hello Readers 💗
tetap setia membaca novel ini ya.
oya, novel ini mengikuti kontes "You Are A Writer Season 3" loh 😍
__ADS_1
mohon bantuan like, vote dan comment ya. dukung aku terus supaya lebih bersemangat menulis cerita berikutnya.
terima kasih 😍🙏