Cincin Pernikahan

Cincin Pernikahan
Sudah Siapkah Clara Berpacaran?


__ADS_3

Setelah Clara selesai menelepon Bapaknya, Clara masuk ke kamar. Niatnya untuk merapikan pakaian-pakaiannya untuk disusun kedalam tas, karena minggu ini dia harus pindah ke kos barunya.


Tiba-tiba terlintas di pikirannya dengan perkataan Ibu Nur yang menanyakan tentang perasaannya ke si pemuda penjual Koran itu. Lalu segera dia keluar dari kamarnya dan menghampiri Ibu Nur yang saat itu sedang sibuk merapikan baju-baju yang baru diangkat dari jemuran.


“Bu, menurut Ibu, apa sih berpacaran itu?” tanya Clara yang sontak mengejutkan Ibu Nur


Clara sambil duduk di lantai yang beralaskan karpet tipis dengan menyilangkan kedua kakinya.


Ibu Nur hanya bisa senyum lepas di wajahnya tanpa mengucapkan sepatah katapun, mungkin Ibu Nur berpikir kalau Clara sudah mulai ada rasa jatuh cinta kepada seseorang.


"Ibu, kenapa enggak menjawab pertanyaan Clara?” tanya Clara merengek sambil memoyongkan bibirnya


Lalu Ibu Nur itu bertanya kembali “Emang kamu belum pernah pacaran ya?”


“Yap, aku belum pernah pacaran, benar-benar belum pernah karena aku masih sekolah, tapi aku dekat dengan beberapa cowok di sekolahku, kami semua itu hanya sahabatan” ujar clara


Clara pun mulai melanjutkan ceritanya ke Ibu Nur, “Aku belum tau rasanya bagaimana ditembak cowok, diperhatiin dan disayang cowok, selain kasih sayang dari bapak ku. Waktu sekolah dulu rasanya aneh sendiri, ada segudang tekanan untuk punya pacar. Kadang aku sedikit iri dan bahkan sangat iri ketika melihat teman-temanku cewek berjalan bergandengan tangan di sekolah. Dan kadang juga merasa tersisih kalau semua teman-teman sudah punya pacar sedangkan aku belum. Memang, beberapa temanku itu mungkin berpacaran tanpa ada niat untuk menikah. Dan banyak juga dari mereka berpacaran putus hubungan setelah satu atau dua minggu, mereka akhirnya memandang berpacaran sebagai  hubungan sementara aja, bisa dikatakan mereka itu hanya menganggap sebagai persiapan untuk bercerai bukannya untuk menikah. Emangnya berpacaran untuk iseng berdua-duaan untuk bersenang-senang saja atau hanya supaya dianggap punya pacar ? bisa dengan mudah melukai perasaan."


Clara terus melanjutkan ceritanya dan Ibu Nur nampaknya menikmati dan mencoba untuk menjadi pendengar setia bagi Clara.

__ADS_1


"Bapak ku juga tidak pernah mengizinkan aku untuk pacaran sewaktu aku masih di kampung, setiap ada temanku cowok wajib dikenalkan ke beliau. Dan kalau misalnya ketemu cowok pun, tidak boleh nongkrong di pinggir jalan gitu. Bapak ku selalu bilang supaya diajak ke rumah dan ngobrol dirumah aja, jangan berduaan di jalan sana tidak bagus katanya. Cowok yang mau dekatin aku pun sedikit segan mau datang ke rumah karena Bapakku selalu mengawasi. Bukan hanya aku sih, hal itu juga selalu diterapkan Bapak ku untuk kakak-kakak ku sewaktu mereka masih sekolah dulu.”


Ya, Bapak Clara selalu berusaha mengawasi anak-anaknya, terkhusus untuk anak-anak perempuannya. Mulai dari pergaulan di lingkungannya, bahkan mau bepergian kemanapun, Bapaknya selalu mengontrol.


Clara lanjut bercerita lagi, “Ada temanku namanya Rico, dia teman sekelasku waktu di SMA, bulan Februari yang lalu usiaku genap 18 tahun. Jadi, Mamaku merayakan ulang tahun ku. Semua teman-temanku satu kelas di sekolah diundang, dan teman-teman remaja di gereja juga, walaupun tidak semua mereka yang hadir saat itu. Waktu itu Rico yang menjadi pendamping duduk di kursi untuk meniup lilin di kue ulang tahun ku. Rico juga usia 18 tahun seumur-an dengan aku. Saat itu perayaan ulang tahun ku sangat ramai di hadiri oleh keluarga dekat dan juga teman-temanku. Aku dan Rico sangat kompak, dan bahkan beberapa teman kami di kelas menduga kalau kami telah berpacaran. Dengan polosnya Rico menikmati apa yang dia kira sekedar bersahabat dengan aku. Dia kemudian sadar kalau aku menganggapnya hanya sekedar teman biasa,”


“Aduh! aku benar-benar kaget. Rico begitu cepat menganggap itu hal yang serius. Sungguh, aku hanya berpikir kami Cuma berteman. Itulah yang ku sadari Bu, kadang aku berpikir kalau pacaran itu hanya untuk main-main.”


Clara merasa Capek ngomong-ngomong sendiri, Ibu Nur hanya diam mendengarkan cerita Clara.


“Bu, apa arti berpacaran itu? Ibu belum menjawab aku dari tadi!” tanya Clara lagi, seolah Clara belum puas karena Ibu Nur itu belum menjawab pertanyaannya.


Lalu, Ibu Nur mencoba menjelaskan dengan bijak kepada Clara.


“Tentu saja, tidak salah jika kamu bergaul dengan lawan jenis dalam kelompok yang diawasi dengan sepatutnya. Akan tetapi banyak sekali diantara pemuda dan pemudi khususnya remaja ABG (Anak Baru Gede) yang lebih terdorong oleh rasa ketertarikan semata, disebabkan dari sisi kedewasaan, usia, kemampuan finansial maupun persiapan lainnya dalam membentuk rumah tangga (berkeluarga), mereka belum mampu atau sangat belum siap.”


Tutur ibu Nur


“Jadi, aku boleh berpacaran ya Bu?, Clara kan belum siap dan belum mampu. Untuk biaya kehidupanku pun masih minta-minta ke orangtuaku” ucap Clara dengan senyum

__ADS_1


“Boleh-boleh saja Clara. Masa berpacaran itu adalah masa perkenalan. Banyak dampak positifnya kalau kamu berpacaran di usia sekarang salah satunya, dengan berpacaran kamu akan mampu ber-sosialisasi dengan pasanganmu, sehingga kamu mampu mengetahui karakter seseorang dan membuat kamu tidak canggung dalam ber-sosialisasi dengan orang asing yang baru kamu jumpai. Karena kamu telah belajar ber-sosialisasi dengan pasanganmu. Intinya hubunganmu bawa ke hal positif aja. Dunia remaja atau ABG memang unik, sejuta peristiwa terjadi dan sering menciptakan ide-ide cemerlang dan positif. Namun demikian, tidak sedikit juga hal-hal negatif yang terjadi.” kata Ibu Nur menjelaskan


“Ibu Nur smart deh, aku senang bisa curhat ke Ibu. Tapi sampai saat ini, aku belum menemukan lelaki yang pas dengan keinginanku, Bu!” ucap clara sambil senyum dan menggaruk kepalanya


“Nanti kamu akan menemukan pria yang pas, jika kamu sudah siap”, jawab Ibu Nur meyakinkan Clara


Ibu Nur menjelaskan banyak hal tentang berpacaran kepada Clara, banyak saran yang bagus yang bisa diterimanya dari si pembantu pamannya itu. selain itu, Ibu Nur pun menjelaskan dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami, sehingga Clara tetap merasa nyaman dan jera bertanya kembali.


-----


Bersambung..🌹


Hello Readers 💗


tetap setia membaca novel ini ya. oya, novel ini mengikuti kontes "You Are A Writer Season 3" loh 😍


Mohon bantu like, vote dan comment ya. dukung aku terus supaya lebih bersemangat menulis cerita berikutnya.


Terima kasih 😍🙏

__ADS_1


__ADS_2