
“Kami akan memikirkannya terlebih dulu Jhoni, karena akan lebih bahaya nanti jika Clara putus kuliah hanya karena keuangan yang tidak cukup”, jawab Mama Clara.
“Tapi aku bisa sambil bekerja kok Ma, percayalah samaku! Aku tidak akan mengecewakan kalian", sambung Clara meyakinkan orangtuanya sambil menatap ceria layaknya gadis manja. Semangat Clara sangat luar biasa dan patut untuk dicontoh.
Bapak dan Mama Clara saling menoleh setelah mendengar ucapannya seperti itu, juga seketika itu orangtuanya sudah mulai menunjukkan ekspresi akan mengubah keputusan tentang kelanjutan kuliah Clara.
“Hmm, oh ya, Jhoni! Kapan mulai pendaftaran Mahasiswa/i baru di kampusmu?”, tanya bapak Clara.
“Bulan Agustus ini buka pendaftaran untuk gelombang pertama, Om”, jawab Jhoni.
“Jika tidak keberatan, biar nanti aku temani Clara mendaftar. Oh ya, kebetulan ditasku ada brosurnya, Om. Silahkan dibaca persyaratannya dan nominal uang pendaftarannya ada di brosur itu, juga dengan detail", sambung Jhoni sambil memberikan brosur tersebut kepada Bapak Clara. Sebelum ke rumah Clara, Jhoni sudah mempersiapkannya terlebih dahulu karena kenaikan kelas atau lulusan telah usai.
“Oh, Baiklah, Jhoni. Terima kasih ya atas penjelasannya, coba nanti kami renggutkan dulu”, kata Bapak Clara.
“Iya, sama-sama, Om. Jika Clara jadi melanjut kuliah di Medan, dikabari aja samaku ya, Om, Tante. Biar sekalian nanti kubantu Clara mencari kos-kosan”, kata Jhoni sambil menawarkan bantuan. “Oh ya, berhubung sudah mulai malam aku pamit pulang dulu ya, Om, Tante”, kata Jhoni mengakhiri sambil beranjak dari tempat duduknya.
“Iya, Jhoni. Hati-hati di jalan ya! Salam buat orangtuamu”, Bapak-Mama Clara mempersilahkan.
“Iya, Om, Tante. Clara! Abang pulang dulu ya”, kata Jhoni permisi kepada Clara.
“Iya, Bang. Terima kasih sudah mampir kerumah!”, sahut Clara sambil tersenyum. Clara dan kedua orangtuanya mengantarkan Jhoni sampai depan pintu.
Jhoni pun menghidupkan motornya, lalu melajukannya.
**
"Pak, Ma, kalian mandilah, biar makan kita. Aku sudah siapkan makan malam", pinta Clara kepada kedua orangtuanya.
"Iya, tolong ambilkan air hangat dan tuang ke ember ya, karena Bapak tidak tahan mandi air biasa kalau sudah malam seperti ini", suruh Mama Clara.
"Iya, Ma", balas Clara.
Clara pun segera melaksanakan perintah Mamanya. Dia selalu berusaha menuruti perkataan kedua orangtuanya demi mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan kuliah.
“Semoga Bapak-Mamaku mengizinkan aku kuliah setelah mendengarkan penjelasan Bang Jhoni tadi”, batin Clara.
15 menit kemudian, mereka pun duduk di lantai yang beralaskan tikar untuk makan malam. Seperti biasa, Clara yang memimpin doa.
__ADS_1
Keluarga Clara sangat disiplin. Selama makan tidak boleh cerita-cerita ataupun berbisik, juga itu adalah salah satu peraturan di keluarga Clara saat makan. Orangtuanya sangat mendidik anak-anaknya.
Makan malam pun selesai, tapi belum ada juga jawaban dari orangtuanya tentang pembahasan kelanjutan kuliah Clara.
"Ah, sudahlah! Mungkin Bapak-Mama sudah lelah bekerja satu harian ini di ladang. Sebaiknya kuurungkan aja dulu untuk membahas mengenai kuliahku", batin Clara sambil mengumpulkan piring-piring kotor dan menggulung tikar tempat mereka makan.
Semuanya sudah beres dan bersih, kemudian Clara bertanya, "Ma, sudah mau tidur ya?"
“Iya, Mama lelah. Mama mau istirahat dulu!", jawab Mama Clara sambil menuju kamar tidur.
“Kamu jangan lama-lama tidur ya, Ra. Jaga kesehatan, besok pagi harus cepat bangun!”, perintah Mama Clara dari kamar.
“Siappp, Ma!”, sahut Clara dari ruang tamu yang sedang nonton TV.
Pagi Hari Yang Sejuk
Terdengar suara ayam berkokok yang menandakan hari sudah mulai pagi. Clara bangun dan segera memasak untuk sarapan buat keluarganya.
Tidak berapa lama, Mamanya pun bangun menyusul. Biasanya, Mama Clara yang selalu lebih dulu bangun dari kokok ayam untuk memasak banyak macam sebelum matahari muncul. Tapi mungkin karena kelelahan bekerja sehingga membuat Mamanya nyenyak tidur.
Clara tidak ingin Bapaknya marah karena telat bangun, itu sebabnya dia harus cepat-cepat bangun untuk menyiapkan sarapan pagi.
Makanan untuk sarapan pagi sudah terhidang. Bapak Clara pun bangun dan langsung menuju kamar mandi untuk cuci muka dan sikat gigi.
Clara mengajak kedua orangtuanya untuk sarapan. Sarapan pagi keluarga Clara pun berjalan dengan sukacita.
Seperti biasa, setelah selesai sarapan Clara langsung merapikan tikar dan mengumpulkan piring-piring kotor, lalu meletakkannya di satu ember supaya gampang untuk dicuci.
Sekitar jam 8.00 pagi, Bapak-Mama Clara pun bersiap-siap mau pergi ke ladang. Pada hari itu, cuaca sangat cerah. Mamanya menyuruh Clara untuk menjemur padi.
**
Kampung Clara mayoritas 70-80% masyarakatnya adalah bertani. Jadi, untuk mendapatkan beras masih dengan cara manual dan beberapa tahapan, seperti: panen, penjemuran, dan penggilingan.
**
Tidak ada alasan bagi Clara untuk menolak perintah Mamanya. Dia pun langsung merentangkan tikar di halaman depan rumahnya. Sementara Bapaknya yang belum pergi kerja membantu Clara mengangkat padi yang mau dijemur dan menyerakkannya di atas tikar tersebut. Kemudian, Clara menjaganya dari ayam-ayam yang berkeliaran di sekitar halaman dan orangtuanya baru pergi ke ladang.
__ADS_1
Halaman rumah Clara sangat luas. Bagaimana tidak, di kampung Clara jarak rumah yang satu dengan rumah lainnya sangat berjauhan. Tidak seperti di kota-kota pada umumnya, jarak rumah berdekatan, hampir tidak ada lorong sebagai pembatas.
***
Waktu untuk makan siang pun tiba. Bapak-Mamanya sudah pulang dari ladang. Bapaknya membantu Clara mengangkat padi yang dijemur dan diletakkan di teras rumah, karena mobil akan datang menjemput padi tersebut untuk dibawa ke kilang.
Setelah itu, Clara langsung merebus sayur supaya makan siang mereka tetap hangat. Setelah semuanya selesai dimasak dan piring-piring sudah bersih, makan siang pun siap dinikmati. Seperti biasa, makan siang keluarga Clara penuh dengan sukacita.
Peraturannya juga sama seperti yang sudah dituliskan sebelumnya, tidak boleh makan sambil ngobrol-ngobrol maupun berbisik dan tidak boleh ketawa-tawa, harus hening.
"Kalau lagi makan ya makan! Nanti ngobrolnya setelah selesai makan!", begitulah tegas orang tua Clara jika kedapatan melanggar aturan.
**
Mengingat peraturan saat makan dan yang tadinya Clara sudah tidak sabar ingin membahas tentang kuliahnya, terpaksa mengurungkan niat.
**
Setelah selesai makan, Clara kembali mengumpulkan piring-piring kotor dan membersihkan tikar, lalu menggulungnya.
"Tin, tin. Tin, tin...", bunyi klakson mobil di depan rumah. Merasa tidak asing cara klakson, Clara pun langsung beranjak untuk buka pintu sambil memastikan. Ternyata, mobil untuk jemput padi.
Clara kemudian memanggil Bapaknya untuk membantu supir mengangkat padi yang sudah sengaja diletakkan di teras. Padi harus segera digiling, karena stok beras di rumah Clara sudah hampir habis.
Setelah itu, Bapak-Mama Clara istirahat sebentar sebelum pergi ke ladang lagi. Clara menyaksikan kedua orangtuanya istrahat sambil nonton TV. Akhirnya, Clara pun ikut menonton.
"Sepertinya ini waktu yang tepat untuk bertanya kepada orangtuaku tentang kelanjutan kuliahku, apakah mereka mengizinkan atau tidak", batin Clara dengan jantung berdebar tidak beraturan.
Clara pun mulai memberanikan diri untuk bertanya. Clara kemudian mengurut kaki Mamanya seolah mencari perhatian.
**
Apakah Clara akan mendapat izin dari kedua orangtuanya untuk melanjutkan kuliah?
Tetap setia baca ceritaku selanjutnya ya readers 💗🙏
Bersambung 🌹🔥
__ADS_1
terima kasih readers, jangan lupa vote, rate dan jadikan novel favoritmu 💗
selamat berkarya 🤗🔥