
Sebelum Clara tidur, dia merapikan kamarnya terlebih dahulu supaya tidur lebih nyaman dan lebih enak.
Setelah itu dia membaringkan tubuhnya di atas kasur, menarik napas panjang dan melepaskannya, lalu mulai memejamkan mata sambil tersenyum.
Tiba –tiba Clara teringat kejadian tadi sore saat pergi ke WARTEL untuk menelepon Bapaknya tetapi tidak diangkat.
Dengan mata terpejam dia seperti melihat beberapa wajah yang hadir di dalam hidupnya, mereka yang senantiasa mencurahkan kasih sayangnya dengan tulus sehingga Clara bisa terus berkembang dan belajar mengenai kehidupan.
Ada dua wajah yang jika dia membanyangkan dunianya seakan berhenti. Perasaannya tidak terbendung jika muncul bersamaan dengan semua cerita perjalanan hidup yang sudah mereka lalui bersama. Siapakah kira-kira? Ya, siapa lagi kalau bukan Bapak dan Mamanya.
Panutan hidup Clara yang sejak lahir bersandar kepadanya. Dua tiang kuat yang sangat berjasa dalam hidupnya. Siapalah Clara tanpa bimbingan orangtuanya?
Hangatnya perasaan itu memaksanya mengingat cerita indah di masa lalu. Kerja keras yang tidak kenal lelah, itulah Bapak dan Mamanya yang bisa mengantarkan Clara hingga menempuh pendidikan tinggi.
Nikmatnya perasaan itu, ketika dia bisa memikirkannya dengan seluruh hatinya.
Dan dia pun tersenyum manis sambil melentangkan kedua tangannya dan menghela napas. Sungguh kehangatan itu telah menguasai seluruh tubuhnya.
"Pak, Mak, dari dulu banyak teman-temanku di sekolah bertanya: 'Ra, hal apa yang paling kamu syukuri di dunia ini?' lalu kujawab sederhana: 'Aku masih memiliki kedua orangtuaku. Kemudian mereka bertanya lagi yang kedua: 'Kenapa Ra?' Kujawab: 'Tuhan itu maha baik. Semua kebaikan yang aku dapatkan dalam hidupku selama ini Tuhan kirim melalui tangan kedua orangtuaku. Lalu, teman-temanku hanya terdiam dan memandangi wajahku. Salah seorang teman lagi bertanya: 'Lalu, kamu lebih mirip dengan siapa? Bapak atau Mamamu?' Kujawab: 'Mamaku seorang wanita yang sangat lembut hati dan sederhana, tidak pernah sedikit pun kulihat Mamaku tidak peduli terhadap orang lain, bahkan untuk orang yang tidak dikenalnya sekali pun. Dalam diamnya saja aku bisa belajar banyak. Kalau Bapakku, beliau adalah orang yang tegas, disiplin dan pekerja keras. Ya, meskipun aku tidak selembut Mama dan tidak lebih disiplin dari Bapakku, tetap saja aku perpaduan dari mereka berdua. Aku tahu itu dan aku bisa merasakannya. Pak, Mak, terima kasih tidak terhingga karena telah menjadi orang tua sekaligus menjadi guru dalam kehidupanku. Maaf dari aku anakmu karena masih belum bisa menjadi anak yang Bapak dan Mama inginkan, yang lebih sering membuat kecewa dibanding membanggakan. Salam sayang dari aku selalu untuk Bapak dan Mama," batin Clara sambil membayangkan di sela-sela mau tidur.
Lalu sontak Clara membuka mata dan seolah-olah dia tiba-tiba baru sadar dari khayalannya.
__ADS_1
"Besok pagi aku akan menghubungi Bapak dan Mama, sekaligus aku ingin memberitahukan kalau aku akan pindah dari rumah Paman dalam Minggu ini, karena Minggu depan aku sudah mulai mengikuti orientasi Mahasiswa baru di kampusku, juga berharap besok pagi aku sempat ketemu Pamanku sebelum beliau berangkat kerja, jadi aku harus cepat-cepat bangun pagi ini," batinnya.
Lalu Clara pun merebahkan badannya dan tertidur dengan pulas.
**
Pagi harinya, saat dia terbangun Jam sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi. Dia keluar dari kamar dengan pakaian baju tidurnya.
“Selamat pagi Paman dan Bibi," sapa Clara saat Pamannya sedang beres-beres merapikan kemeja kerjanya, sedangkan Bibinya membuat teh untuk Pamannya di dapur.
“Pagi juga," jawab Pamannya sambil tersenyum.
“Kok tumben cepat bangun, Ra?” tanya Bibinya.
“Paman, Bibi, aku mau kasih tahu kalau Minggu depan aku akan mengikuti orientasi dikampusku. Semalam aku sudah mendaftar di kampus X, ditemani Jhoni yang kemarin kubawa ke rumah ini. Dan rencanaku mau cari kos yang dekat ke kampus supaya bisa berjalan kaki mau berangkat kuliah," kata Clara menjelaskan. Dengan perasaan yang sangat menegangkan, Clara berharap Pamannya tidak marah dengan informasi yang diberikannya.
“Oh, jadi mau kos aja ya? Tidak apa-apa Clara, yang penting kamu bisa jaga diri baik-baik dan belajar yang serius. Kalau ada liburmu, main-mainlah ke sini ya," kata Paman Clara sedikit tegas. Maklumlah, Paman Clara kan seorang Polisi.
“Siap Paman," jawab Clara sambil menunduk.
“Maaf ya Clara, selama kamu tinggal di sini Paman dan Bibi belum sempat mengajakmu jalan-jalan. Jadi, maklumlah karena kesibukan kami setiap hari," kata Pamannya sambil mengelus rambut Clara.
__ADS_1
Clara tahu bahwa Pamannya sayang kepadanya dan dia percaya suatu hari nanti akan ada waktu yang tepat untuk mereka bisa jalan-jalan bersama.
Paman dan Bibinya sudah mulai berangkat kerja, Clara pun langsung melangkah cepat menuju pintu, lalu membuka pintu rumah dan membuka gerbang supaya mobil Pamannya bisa langsung keluar.
Sebelum meninggalkan garasi, Pamannya berkata, “Besok Paman usahakan izin libur.”
Clara hanya menjawab dengan senyuman sambil menganggukkan kepala.
Setelah mobil Pamannya keluar dan melaju, Clara menutup gerbang dan segera melangkah menuju dapur. Dia mengambil segelas air putih hangat untuk diminum.
Bersambung..🌹
Hello Readers 💗
tetap setia membaca novel ini ya.
oya, novel ini mengikuti kontes "You Are A Writer Season 3" loh 😍
mohon bantuan like, vote dan comment ya. dukung aku terus supaya lebih bersemangat menulis cerita berikutnya.
__ADS_1
terima kasih 😍🙏