
Biasanya Clara selalu memainkan HP-nya untuk membuang kejenuhan, tetapi kali ini dia termenung dalam istrahatnya yang baru saja menyelesaikan pekerjaan di rumah.
“Apakah aku akan merasakan kesepian, sendiri, dan kerinduan nantinya? Kalau sedih sudah pasti, karena ini adalah bagian dari sebuah perjuangan. Aku punya mimpi yang sangat besar, jadi untuk meraih mimpi itu tentu lewat perjuangan seperti 'menahan kerinduan akan tanah kelahiranku'. Jujur, kesedihan yang terberat dalam hatiku ialah 'ketika jauh dari kedua orangtuaku'. Duhh, kenapa sih aku jadi termenung seperti ini? Tidak seharusnya aku berpikiran macam-macam", batin Clara sambil menjitak kepalanya.
Wati (teman Clara) yang sedang lewat tiba-tiba melihat Clara duduk seperti termenung di teras rumahnya, lalu mengendap-endap dan langsung: "Woii, Termenung aja!", kaget Wati sambil menghentakkan pundak Clara.
Clara pun terkejut bukan kepalang: "Watiii, terkejut tahu!", teriak Clara sambil cemberut dan memainkan bibirnya yang tipis.
“Hahaha, maaf. Tidak sengaja kebetulan aku lewat dan melihat kamu termenung seperti itu", jelas Wati sambil tertawa karena berhasil mengejutkan Clara.
“Kamu merenungi apa-an sih, Ra?, tanya Wati kembali.
“Hmm, aku tidak apa-apa kok, Ti”, jawab Clara.
“Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Santai, rileks! Yang ada kamu nanti malah stres", kata Wati menyemangati.
“Ehh, jangan salah, Ti! Aku pernah membaca sebuah buku yang isinya seperti ini: 'Menghayal itu tidak selalu buruk. Ilmuwan di sebuah universitas mengatakan, setiap hari kita menghabiskan 30% dari masa hidup untuk berkhayal atau termenung. Bahkan, jika kita bepergian jauh dengan waktu yang cukup lama, kuantitas khayalan kita akan meningkat sampai 70%. Ilmuwan mengatakan juga, bahwa mengkhayal itu positif. Seseorang yang senang berkhayal akan meningkatkan kreativitas dan lebih bisa memecahkan masalah, juga terhindar dari stres', seperti itu, Ti!, kata Clara sambil menjelaskan. "Makanya, sering-sering baca buku, Ti!”, jelas Clara sambil tersenyum.
“Iya deh yang kutu buku itu, semoga kamu tidak stres benaran ya, hahaha”, kata Wati sambil tertawa dan cubit pipi Clara dengan lembut. "Omong-omong, kamu kenapa mengkhayal sih, Ra? Ada apa?”, tanya Wati ingin tahu dan duduk di samping Clara.
"Iya, Ti. Kalau tidak ada halangan, Selasa depan aku sudah harus berangkat ke Medan, Ti. Aku jadi lanjut kuliah di sana", jawab Clara.
"Owh, kabar bagus nih! Aku senang orangtuamu akhirnya mengizinkanmu lanjut kuliah. Jangan sombong nanti kalau sudah sukses ya, Ra. Ingat pulang ke kampung kita ini loh, hahaha", kata Wati sambil tertawa paksa. Sebenarnya Wati merasa sedih juga mendengar perkataan Clara, karena harus berpisah dari temannya.
"Nah, itu dia. Aku dari tadi termenung karna itu, aku harus jauh dari orangtuaku, juga dari kalian teman-temanku. Aku harus menahan rindu dan....akh, sebenarnya itu sangat sulit bagiku, Ti", kata Clara memotong sebagian perkataannya dengan wajah sedih.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, paling hanya di awal aja yang agak berat, setelah itu akan terbiasa kok. Aku juga pasti mengalami hal yang sama nanti, iya kan?", kata Wati.
"Iya sih, semogalah. Kita pasti bisa. Oh iya, lalu kamu kapan berangkat merantau, dan kemana, Ti?", tanya Clara balik.
"Aku juga dalam minggu ini akan berangkat ke Pekanbaru, Ra. Kebetulan di sana banyak keluarga dari Bapak dan semoga aku cepat dapat kerja di sana. Mohon doanya ya, Ra", kata Wati dengan wajah sedih.
"Oh, iya, Ti! Semogalah ya. Sukses untuk kita berdua dan saling mendoakan ya, Ti", balas Clara.
“OK, juga saling komunikasi ya, Ra. Oh iya, hampir lupa...?, kata Wati seolah heran dan memotong kata-katanya.
"Ada apa, Ti!, tanya Clara dengan heran.
"Hmm, jangan lupa cerita juga kepadaku kalau kamu sudah punya pa-pa-pacar di kampus barumu ya, wkwkhaha”, kata Wati sambil tertawa bahak.
“Ihh, apa-an sih kamu! Aku kira tadi entah apa. Baiklah kalau itu yang kamu mau", kata Clara sambil tersenyum.
**
**
Setelah makan siang selesai, Clara, Bapak dan Mamanya seperti biasa duduk di ruang TV sambil menonton.
Clara sebentar lagi akan pergi jauh dan meninggalkan kedua orangtuanya. Jadi, sebelum pergi ada sebuah momen penting yang tidak ingin dia lewatkan.
Besok adalah hari Minggu, juga Minggu terakhir bagi Clara. Dia ingin sekali mengajak Bapaknya untuk beribadah bersama, karena selama ini Bapaknya jarang beribadah ke Gereja. Terjadilah percakapan di antara mereka.
__ADS_1
Clara: "Pak, besok kan aku terakhir beribadah di sini, karena hari Selasa depan aku sudah berangkat ke Medan"
Bapak: "Iya, lalu?"
Clara: “Hmm, aku mau mengajak Bapak besok ke Gereja. Kita beribadah bersama dan aku mau Bapak mendoakan aku”
Mama: “Betul, nak. Ide bagus itu. Kapan lagi Bapakmu mau berubah” (sahut Mama Clara langsung)
Clara: “Hehehe, betul, Pak. Kita harus rajin loh beribadah, agar kami anak-anak Bapak selalu diberkati Tuhan. Benar kan, Mak?"
Mama: “Ya, betul, nak. Sangat betul sekali”
Bapak: “Iya, besok beribadah bersama pun kita. Kalau begitu, siapkanlah kemeja dan jas Bapak yang paling mantap, agar Bapak terlihat gagah dan awet muda" (Bapaknya tersenyum sambil melirik Mama Clara)
Clara: “Yesss! Aduh, senang sekali aku, Pak. Aku kira tadi Bapak menolak. Terima kasih ya, Pak” (Clara memeluk Bapaknya)
Bapak: "Tidaklah boruku (boru\= putri) sayang, mana mungkin Bapak menolak. Apapun yang dapat membuat kamu bahagia, Bapak akan lakukan"
Clara: “Mengenai kemeja Bapak, amanlah itu, Pak. Bila perlu, aku akan setrika kemeja Bapak dengan rapi dan kusemprotkan spray terharum Se-Dunia yang dibeli Mama kemarin, hehehe” (Clara tertawa dan mengakhiri percakapan mereka)
"Terima kasih Tuhan, Bapakku tidak menolak atas ajakanku untuk memuliakan-Mu besok. Aku senang sekali", batin Clara.
Clara pun bergegas untuk mengecek kemeja-kemeja di lemari pakaian yang berada di kamar orangtuanya. Clara memilih kemeja terbaik yang berwarna biru kesukaan Bapaknya.
•••
__ADS_1
Bersambung 🌹🔥
Hello Readers, ikuti cerita selanjutnya ya 💗 bantu like dan berikan komen yang membangun bagi Author 👍👍🌷