Cincin Pernikahan

Cincin Pernikahan
Episode 35


__ADS_3

Lisa tampaknya trauma setelah melihat aksi perampok di Wartel tadi, Clara pun mengajaknya singgah di Rumah Makan untuk makan siang. Clara ingin mencoba menghibur Lisa.


[suasana di Rumah Makan]


Datang seorang pengamen pria masuk kedalam Rumah Makan dengan gitar di punggungnya.


Pengamen itu berdiri dekat di meja Clara dan Lisa, mereka pun menikmati alunan musik dengan suara merdu si pengamen. Lama-kelamaan Lisa pun bisa melupakan kejadian perampokan yang di Wartel, berkat Clara berhasil menghiburnya.


Mereka  berdua sangat menikmati makan siangnya sambil mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh pengamen tersebut.


Clara pun membuka tasnya, dia mengambil beberapa duit dari tas lalu dikasihnya ke kaleng-kaleng si pengamen.


Berapa menit kemudian, setelah mereka membayar uang makannya, Clara dan Lisa meninggalkan Rumah Makan. Dan saat itu mereka tidak langsung pulang ke kosnya. Mereka masih melanjutkan perjalanannya nongki-nongki di Mall yang pas berada di seberang Ruman Makan tersebut. Clara dan Lisa tidak niat untuk berbelanja melainkan hanya untuk cuci mata di mall aja.


Saat itu pukul lima sore, menjelang Magrib, mereka pun pulang ke kos. Jalanan sedang sepi 'entah kenapa, waktu Clara


berniat membuka pagar, Lisa tiba-tiba bicara, “Wah, Mbak-Mbak yang tadi kulitnya putih banget. Orang Korea kali, ya?”


“Yang mana?” tanya Clara dengan nada terkejut


“Yang tadi, waktu kita lewat belokan situ.” Jawab Lisa


Clara hanya tidak mau terpengaruh dengan ucapan Lisa itu.


Di dekat kos Clara itu, memang ada sebuah belokan sempit. Di sana, di sudutnya, ada sebuah kuburan. Clara pasti tidak tahu karena dia baru pertama kali lewat daerah sini.

__ADS_1


 “Lisa,” panggil Clara pelan, “daritadi kita lewat, nggak ada orang sama sekali.”


“Ada, kok. Di sana itu, Ra,” serunya bersemangat sambil menunjuk ke arah kuburan yang tertutup pohon rindang.


“Itu kuburan,” sahut Clara cepat-cepat. Clara langsung diam. Wajahnya pucat. Clara mendadak teringat kata-kata Lisa soal penunggu kos. Tanpa lama-lama, mereka segera masuk ke dalam.


Suasana malam kedua di kos baru, Clara.


“ini terasa aneh”, Clara teringat dengan hal-hal aneh seperti yang Lisa peringatkan kepadanya sebelumnya.


Malam harinya, Lisa tiba-tiba masuk ke kamar Clara dengan tergesa-gesa.


“Kenapa?” tanya Clara heran.


“Tadi ada yang turun nggak?”


“Nggak ada,” jawab Clara, sambil membalikkan halaman buku yang sedang dibacanya


Lisa diam, lalu berkata sedikit gemetar, “Tadi pas aku ke atas, kamar Ana jendelanya kebuka dan lampunya nyala. Karena aku kebelet ingin ke kamar mandi, aku nggak sempat cek dan langsung masuk kamarku sendiri. Waktu aku keluar, jendela kamar Ana sudah tertutup dan lampunya mati.”


“Nggak mungkin,” sahut Clara cepat. Ana adalah kawan kos mereka yang berada di lantai dua, yang sudah mudik sejak empat hari yang lalu. Di lantai atas, hanya Lisa saja yang masih tinggal, sementara kamar lainnya kosong. Mereka pandang-pandangan.


Clara mengajak Lisa supaya tidur dikamarnya, "Lia, tidur disini aja yo, aku takut tau", Ajak Clara "Iya Ra, aku juga takut di atas sendirian", jawab Lisa cepat. Dan malam itu berakhir dengan Lisa tidur di kamar Clara setelah mereka menebak-nebak sendiri apakah ini semua ulah penunggu kos yang misterius yang pernah diceritakannya kepada Clara.


__

__ADS_1


[Flashback]


[Kisah Aneh Yang Dialami oleh Lisa]


Setahun yang lalu, ada tugas kampus yang urgent dan harus diselesaikan Lisa, Lisa


tidur jam 3 subuh kala itu, semua penghuni kos sudah pada tidur. Saat itu sangat sepi


sekali. Karena sudah merasa ngantuk, Lisa mematikan lampu kamarnya. Masalahnya,


kalau lampu kamarnya dimatikan, bayangan dari luar pasti akan terbentuk jelas di tirai jendelanya karena lampu ruang tengah selalu dinyalakan. Mulanya, buat Lisa, ini bukan masalah besar. Tapi malam itu telah mengubah semuanya.


Tanpa suara, ada bayangan orang berbadan bungkuk berjalan pelan-pelan sekali, dari arah kanan kamar Lisa ke sebelah kiri. Bayangannya terpampang nyata di tirai jendelanya, seperti seorang nenek-nenek yang sedang melintas pelan-pelan.


Lisa keheranan, awalnya, hingga lama-lama sedikit merinding. Itu nenek siapa?! Seingatnya, yang menyewa kamar di kos ini hanya kami mahasiswi-mahasiswi berusia 20an yang jalannya masih tegap.


Lisa menunggu bayangan itu kembali: dari arah kiri ke kanan. Tapi, hingga bermenit menit berlalu, si “nenek” ini tak kunjung melintas lagi.


Mendadak, Lisa baru sadar. Kamarnya ini letaknya di ujung lorong. Artinya, di sebelah kiri kamarnya tak ada apa-apa kecuali dinding yang terbentang dan tak lazim dilewati siapa pun.


Lisa keluar kamar. Tidak ada seorang pun di depan kamarnya. Mendadak dia teringat pesan anak kos yang tinggal dikamar itu sebelumnya, soal penunggu kos yang dia ceritakan sambil tertawa.


•••


Bersambung 🌹🔥

__ADS_1


Setelah membaca, jangan lupa klik jempolnya 👍 dan tinggalkan komentar ya 💌


Terima kasih 🙏💗


__ADS_2