Cincin Pernikahan

Cincin Pernikahan
Episode 42


__ADS_3

Pagi itu, Lisa bangun kesiangan, karena dia begadang sampai pagi dengan teman temannya, begitulah untungnya anak kos, bisa pulang sesuka hati, mau jam berapa aja. Kalau tinggal sama orang tua pasti akan dilarang dan tidak bisa se bebas itu.


**


Hari ini, Clara libur (tidak ada aktivitas ke kampus). Senin depan perkuliahan barunya akan dimulai.


Clara berencana mengajak Lisa untuk membeli kemeja dan perlengkapan lainnya sebelum masuk kuliah. Mengenaskan emang jadi anak kosan apalagi ketika akhir bulan. Oleh karena itu, Clara harus pandai mengatur keuangannya supaya cukup sampai datang kiriman awal bulan dari orangtuanya.


Untuk mengatasi kesepiannya, Clara duduk-duduk di teras rumah kosnya, dia tidak ingin mengganggu Lisa yang masih tertidur pulas. “Agak sorean ajalah nanti kami ke Mall”, gumam Clara


Clara mengambil buku yang belum tuntas dibacanya tadi malam, lalu dia menarik sebuah kursi untuk tempat duduknya di teras rumah. Clara membaca buku sambil berjemur di sinar mata hari pagi. Masih beberapa


menit Clara membaca buku, tiba-tiba suara sapu lidi terdengar dari arah samping rumah kosnya. Clara belum pernah melihat bahkan berkenalan dengan cewek yang menyapu itu, padahal mereka satu kos. Akhirnya saat itu Clara harus menutup bukunya untuk sementara, tidak bisa fokus membaca karena ribut, dan bising dengan suara goresan lidi di halaman itu.


“Menyebalkan!”, gumam Clara


Clara bergegas pergi ke lantai dua untuk menemui Lisa. Dia mengetu-ngetuk pintu kamar Lisa.


“Tok, tok, tok”  suara ketukan pintu


“Lis, bangun dong,” teriak Clara

__ADS_1


Clara yang masih berdiri di depan pintu kamar Lisa, tiba-tiba si cewek yang menyapu halaman tadi datang menyusul dan menegur Clara.


“Hei, kau siapa?” tanya cewek itu dengan nada yang keras


“Aku? Ya, anak kos di sini,” jawab Clara dengan terkejut


“Kau tau enggak peraturan di kos ini, se-enaknya saja kau letakkan kursimu di luar itu,” ucap si cewek itu sambil ngomel-ngomel berjalan ke halaman rumah


Clara mengedipkan matanya “Oh, Iya. Kursi ..,” ucap Clara memotong perkataannya sambil menepuk jidatnya.


Clara sedikit merasa gak nyaman dengan teguran si cewek itu, suaranya kuat serasa membentak Clara sat itu.


Clara mengambil kursi yang di halaman rumah kosnya itu dan meletakkannya ke tempat semula, sementara si cewek itu tetap melanjutkan aktivitasnya menyapu halaman, tanpa memperdulikan Clara yang datang ke halaman saat itu.


Clara pengin sekali meminta maaf, dan ingin berkenalan dengan cewek itu baik-baik. Tapi karena melihat tatapan si cewek itu tidak bersahabat, sinis dan seram, akhirnya Clara tidak jadi menyapanya.


Ketika Clara mau melangkah masuk ke rumah, suara si cewek itu pun menghambat langkah Clara


“Kau anak kos baru, ya?” tanya si cewek itu sambil berdiri pegang sapu lidi


“Iya.”

__ADS_1


Clara tidak ingin panjang lebar ngobrol dengan si cewek itu, lalu Clara masuk ke kamarnya


“Dasar anak kecil, pasti kau datang dari kampung-kampung!” ucap si cewek itu menggerutu


Untunglah Clara tidak mendengarkan ucapan si cewek, teman kosnya itu. Dia sudah keburu masuk ke kamarnya.


**


Terkadang, Enggak selalu berjalan sempurna, memilih untuk ngekos juga punya sisi negatif.


Clara tidak ingin punya musuh di kosnya, walaupun sesekali ada cekcok dengan teman-temannya, itulah yang mengharuskannya pintar-pintar beradaptasi dengan orang-orang di sekelilingnya. Ada juga yang merasa senior karena paling lama menjadi penghuni di kos itu, begitulah nasib anak rantau yang ngekos. Kadang juga kosan itu, bisa jadi basecamp dan akhirnya rumah kos berantakan seperti kapal pecah


Kalian yang pernah nge kos seperti Clara pasti merasakan hal yang sama juga.


•••


Bersambung 🌹🔥


Setelah membaca, jangan lupa klik jempolnya 👍 dan tinggalkan komentar ya 💌


Terima kasih 🙏💗

__ADS_1


__ADS_2