Cincin Pernikahan

Cincin Pernikahan
Survey Lokasi Kampus


__ADS_3

Seminggu Kemudian.


Clara merasa sudah jauh ketinggalan kereta di antara teman-temannya. Rata-rata mereka sudah mendaftar di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) melalui jalur SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru). Pada tahun 2002-2007 masih pakai jalur SPMB namanya.


Dan pada di tahun 2008-2010 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi RI mengadakan lewat jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).


Sementara Clara tidak bisa mengikuti mereka harus kuliah di PTN. Lagi pula, seandainya pun dia mengambil jalur SPMB sudah terlambat pendaftarannya.


Semuanya karena keterbatasan biaya dan Clara akan mencoba mengambil D-1 dulu sesuai kemampuan orangtuanya yaitu di Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Medan.


Yang terpenting bagi Clara mimpinya untuk kuliah tercapai, hasratnya untuk menuntut ilmu jauh lebih besar dibanding harus membandingkan dirinya dengan teman-temannya.


“Ngapain aku harus membandingkan diriku dengan orang lain, orangtua teman-temanku kan orang kaya,” batin Clara.


Sudah seminggu Clara tinggal di rumah pamannya, artinya sudah seminggu juga dia telah berpisah dengan orangtuanya.


Dan Clara pun memutuskan untuk keluar dulu melihat-lihat lingkungan kampus bersama Jhoni. Dia teringat, waktu itu Jhoni menjelaskan kalau dikampusnya bisa kuliah sambil bekerja.


“Sepertinya aku akan coba di kampusnya Bang Jhoni," batin Clara.


Kemudian, Clara meminta izin kepada Ibu Nur untuk memperbolehkannya memakai telepon rumah Pamannya. Dan, Ibu Nur pun mengizinkannya. Clara pun menelepon Jhoni.


(Terjadilah percakapan di antara mereka)


Jhoni: “Hallo."


Clara pun tesenyum mendengar sapaan lembut Jhoni, suara yang sudah seminggu tidak dia dengar karena takut mengganggu Abang seniornya itu.

__ADS_1


Clara: “Hallo juga Bang, ini aku Clara. Siang ini Abang datang ke rumah Pamanku dong, boleh kan?”


Jhoni: “Boleh dong, Dek Clara. Jika tidak keberatan, Abang nanti nginap di sana ya." (Jhoni tertawa)


Clara: “haaa, nginap? Tidak bisa Bang…”


Jhoni: “Canda euyy, serius amat sih!"


Clara: “Bang, aku To The Point aja deh, hmm aku bosan di rumah seminggu ini. Aku pengin melihat-lihat kampus Abang itu dong, kita survey dulu yo Bang dan pendaftarannya sudah buka 3 hari yang lalu kan Bang?"


Jhoni: “Iya, sudah buka. Kamu kapan mulai mendaftar?”


Clara: “Siang ini aja Bang, lebih cepat lebih baik.”


Jhoni: “Baik, siap-siaplah. Jam 1 aku sampai di sana ya.”


Clara: “Kutunggu ya Bang. Sudah dulu ya Bang, tidak enak lama-lama nelepon, dari telepon rumah Paman soalnya nih.”


Mereka pun sama-sama menutup telepon.


Clara pun langsung bergegas mandi. Dia mengambil handuk yang berada digantungan jemuran belakang.


Setelah selesai mandi, buru-buru Clara mengeringkan rambut pakai handuk.


"Aduhh, pakai baju yang mana ya," gumam Clara.


Dia membuka tasnya, lalu mengambil kaos berwarna biru donker dan celana jeans panjang berwarna hitam dan segera mengenakannya.

__ADS_1


Dia pergi ke depan kaca. Dia melihat apa yang kurang. Dia menempelkan bedak tipis-tipis di pipinya, lalu mengoleskan lipstick di bibirnya, supaya tidak tampak pucat. Kemudian, dia merapikan rambutnya yang masih setengah kering.


Dia merasa deg-degan karena teringat waktu Jhoni senyum-senyum menatapnya dari kaca spion motornya kemarin dan itu membuatnya tersenyum malu malu.


“Tenanglah jiwaku, jangan lebay,” ucap Clara untuk menyadarkan pikirannya.


Dia menyiapkan semua berkas-berkasnya dan memasukkan ke dalam tas.


"Siapa tahu hari ini bisa sekalian mendaftar, tidak ada salahnya aku bawa juga berkas-berkas ini," batinnya.


Setelah semuanya sudah selesai, dia duduk-duduk di kursi teras rumah.


"Hemm, kok Bang Jhoni belum nongol-nongol ya," batinnya sambil memandangi jalan datangnya Jhoni.


Kira-kira 10 menit kemudian, terdengar suara motor besar Jhoni dan berhenti di depan gerbang. Clara pun pamit kepada Ibu Nur.


Clara melihat pria tampan (Jhoni) dengan dag-dig-dug jantung di dadanya. Jhoni membuka helm-nya dan manyapa Clara dengan senyum, “Hi Clara, yo naik."


"Manis amat Abang ini," batin Clara.


“Yup, ayo Bang,” balas Clara.


Clara pun naik ke motor besar Jhoni. Seperti biasa, dia tidak lupa untuk memakai alat pelindung saat berkendara dan memegang pinggang Jhoni supaya tidak tertinggal di belakang.


***


Bersambung 🌹

__ADS_1


like dan comment terus ya readers, supaya aku lebih semangat lagi menulis cerita selanjutnya.


Terima kasih 😍🌷


__ADS_2