
Pagi di hari Minggu, Clara agak cepat bangun mendahului Mamanya. Dia harus memasak dan mempersiapkan sarapan.
Melihat Bapak dan Mamanya sudah bangun, Clara pun menyapanya: “Selamat pagi Bapak-Mamaku sayang dan selamat hari Minggu"
“Selamat pagi juga sayang”, balas Bapak-Mamanya serentak sambil mencium kening Clara.
"Pagi ini aku sangat bahagia dan hatiku penuh damai. Aku pun bertambah bahagia ketika bisa beribadah bersama dengan kedua orangtuaku. Sebelumnya, aku dan Mamakulah yang selalu beribadah", batin Clara.
“Ini kemeja dan jas Bapak, sudah aku setrika”, kata Clara sambil meletakkannya di atas kursi.
“Iya, nak. Kita langsung saja bersiap-siap, agar tidak terlambat nanti”, kata Bapak Clara.
“Ia, Pak. Oh iya, aku yang duluan mandi atau Mama?, tanya Clara kepada Mamanya.
“Kamu aja, Nak. Ehh, tetapi mandinya jangan lama-lama ya!, perintah Mama Clara.
“OK, Ma. Paling 2 Jam-an, hahaha, bercanda!", jawab Clara tertawa sambil menuju kamar mandi.
**
Setelah Clara, Bapak, dan Mamanya selesai mandi, mereka pun sarapan.
"Ayo sarapan, Pak-Ma. Kita tidak makan lagi di tengah jalan, hehehe", kata Clara sambil bercanda.
Mama: "Hehehe, kamu bisa aja, nak. Seperti di dalam Bus aja"
Memang Clara sengaja lebih banyak ceria dan tertawa, untuk mengurangi kesedihannya dan orangtuanya, karena tidak lama lagi mereka akan berpisah.
**
"Memang benar kata Bapakku, setelah memakai kemeja dan jasnya, Bapakku terlihat mantap dan gagah, belum terlihat seperti ompung-ompung (ompung\= kakek) walaupun sudah ada di antara kami anaknya yang menikah. Mamaku juga terlihat sangat cantik pakai kebaya merah dan sanggul yang menempel di belakang kepalanya", gumam Clara sambil memandang kedua orangtuanya.
Sedangkan Clara pakai gaun merah agar selaras dengan Mamanya. Dia juga tidak lupa pasang bulu mata supaya matanya terlihat indah mengalahkan bidadari kayangan.
Jam 09.30 WIB, Clara dan kedua orangtuanya berangkat ke Gereja.
Perjalanan ke Gereja menghabiskan waktu 10-15 Menit karena harus berjalan kaki. Belum ada Bus/Bis ataupun Angkot seperti di kota-kota. Jangankan ke Gereja, mau ke pasar (pajak tradisional) pun masih berjalan kaki, begitu juga dengan anak-anak sekolah harus berjalan kaki.
__ADS_1
Mereka pun tiba lebih awal di Gereja (seperti pepatah berkata: Lebih Baik Menunggu Daripada Terlambat). Semua teman-teman Clara baik pria maupun wanita pandangannya tiba-tiba tertuju kepada Clara, seolah berkata: "Wouww, cantik sekali Clara". Clara yang mengetahui itu hanya melempar senyum dan langsung duduk di kursi yang masih kosong di antara kedua orangtuanya. Mereka berdoa terlebih dahulu, lalu hening menunggu acara ibadah dimulai.
**
Di Gereja Clara ibadahnya hanya dua sesi, yaitu: Jam 08.00 WIB-ibadah anak sekolah Minggu dan Jam 10.00 WIB-ibadah umum (remaja, dewasa, dan orang tua).
**
(Lonceng Gereja berbunyi pertanda masuk dan ibadah akan dimulai)
Ibadah hanya berlangsung 2 Jam. Selama mengikuti ibadah, suasana hati Clara pun sangat tenang dan damai.
Dipenghujung acara, Clara berdoa (setelah melipat kedua tangannya):
"Tuhan, aku memohon dan menyerahkan segala kekhawatiranku kepada-Mu. Bimbing dan pimpinlah setiap langkahku. Begitu juga dengan kedua orangtuaku Tuhan, berkati dan lindungilah mereka"
Tidak berapa lama, acara pun selesai. Setiap Jemaat saling bersalam-salaman. Clara memeluk Bapaknya, juga memeluk Mamanya dan berkata: "I love you mom". Mereka pun pulang.
Setiap hari Minggu, orang tua Clara berhenti melakukan aktivitas di ladang. Karena bagi umat Kristen hari Minggu adalah hari peristirahatan atau hari memuliakan Tuhan, dan sangat dipantangkan melakukan aktivitas. Begitu juga dengan para petani lainnya, tidak (boleh) pergi ke sawah/ladang mereka.
**
KENANG CLARA:
Aku masih ingat saat duduk di bangku SD, Mama selalu mengawasi gerak-gerikku lewat tatapan saat berkunjung di rumah sanak-saudara ataupun di rumah teman Bapak-Mama.
Juga saat di rumah sebelum pergi, Mama sudah lebih dulu membuat beberapa perjanjian untuk kami anak-anaknya tanpa perbedaan, baik anak sulung maupun anak bungsu.
Pertama, Jaga sopan santun.
Kedua, Duduk dengan tenang.
Ketiga, Selalu habiskan minuman (karena itu sebagai bentuk hormat kepada pemilik rumah).
Aku pernah ingin ikut bermain dengan anak pemilik rumah saat berkunjung di rumah teman orangtuaku, langsung tatapan mata Mama tajam padaku, seperti bahasa isyarat, tanpa mengeluarkan kata-kata. Aku pun langsung kembali duduk.
Saat makan bersama pun seperti itu, harus mendahulukan orang yang lebih tua. Tidak ada istilah anak bungsu atau paling kecil lebih dulu. Mungkin (sebagian) di keluarga lain anak bungsu paling didahulukan, tetapi di keluarga kami tidak berlaku sistem seperti itu. Ketika yang lebih tua sudah mengambil nasi, baru diikuti sampai yang lebih muda.
__ADS_1
**
Jadi berkat Mamanya, Clara sudah terbiasa makan dengan tenang. Dan, dia merasa lebih enak karena tidak mengganggu kenyamanan yang lain.
**
KENANG CLARA:
Kalau Bapak sangat santai dan tidak terlalu keras mendidikku. Cukup dari kebiasaan baik yang dilakukan Bapak. Bapak selalu menjadi teladan yang istimewa bagiku walaupun jarang beribadah ke Gereja. Tetapi, aku yakin suatu saat Bapak akan bisa berubah.
Aku ingin seperti Bapak yang selalu ramah terhadap siapapun, baik yang sudah kenal maupun yang belum, misalnya: "Di saat berjalan, setiap berpapasan selalu menyapa 'Mari, Pak, Bu', dengan khas senyum lebar". Jadi, tidak heran jika aku kadang SKSD (Sok Kenal-Sok Dekat) dengan orang yang berpapasan denganku.
Bapak juga pernah berpesan:
Jangan marah atau berkecil hati jika sapa-an dan senyuman tidak terbalas. Pernah satu kali-dua kali, namun lebih banyak terbalas dengan sapa-an balik dan juga senyuman.
Aku percaya, niat baik akan selalu berbuah kebaikan pula. Teladan istimewa yang dari Bapak-Mama sudah terekam kuat mulai dari aku kecil sampai berhasil membentuk pribadiku seperti yang sekarang ini. Terima kasih Bapak, Mama!
**
MOTIVASI CLARA:
Senyuman bisa membuat hari jadi lebih menyenangkan; senyuman juga termasuk ibadah yang sangat dianjurkan; tidak ada label sok ketika ada niat baik untuk menyenangkan orang lain.
**
Hari Minggu sangat berkesan sekali bagi Clara. Dia akan merindukan masa-masa seperti itu ketika dia sudah merantau dan jauh dari orangtuanya.
Clara pun mempersiapkan segala perlengkapannya dengan pelan-pelan untuk berangkat melanjutkan kuliah. Tinggal besok terakhir bersama dengan orangtuanya.
•••
Bersambung 🌹🔥
Hi readers, ikuti terus ceritaku ya. Setelah membaca, jangan lupa klik jempolnya dan tinggalkan komentar💌
Terima kasih 😍🌷
__ADS_1