
Clara merasa tubuhnya lebih segar setelah mandi, lalu dia mencoba mengeringkan rambutnya dengan handuk. Clara pengin sarapan untuk mengisi kembali energinya.
Hari-hari sebelumnya, Ibu Nur lebih sering menyediakan roti gandum dan minuman lemon sebagai menu di pagi hari. Bagi Clara roti di sini sungguh tidak enak, “Dengan tekstur yang kasar serta hambar membuat lidahku tidak bergoyang. Namun, apalah daya inilah kebiasaan di sini yang tentunya berbeda jauh dengan di kampungku” gumam Clara kala itu.
Tapi untuk hari ini menu sarapan mereka berbeda.
Saat Clara ke dapur, dia melihat bahwa Ibu Nur sudah menyajikan masakannya di meja makan.
Mereka pun segera menyantap sarapannya dengan nikmat. Di meja makan, Ibu Nur dan Clara terlihat sangat kompak. Hari ini, Ibu Nur menyediakan ayam goreng tepung plus tempe goreng tepung sebagai menu sarapan mereka.
Setelah selesai sarapan, Ibu Nur merapikan meja makan, dan membersihkan semua peralatan masak.
“Aku sudah terbiasa sarapan nasi, Bu. Rasanya kurang kenyang jika hanya makan roti saja sebagai sarapan."
Ibu Nur pun membenarkan ucapan Clara tersebut, apalagi Clara yang banyak aktivitas di kampung. Kurang 'menggigit' memang, jika sarapan yang ringan-ringan aja. Padahal, jika dilihat dari sisi kesehatan roti gandum lebih bergizi dan berserat di banding roti biasa yang manis mengandung banyak karbohidrat.
Setelah selesai piring-piring dicuci, Ibu Nur mengajak Clara untuk ngobrol-ngobrol. Mereka pun memilih tempat yang santai yaitu di teras rumah. Ibu Nur banyak bercerita tentang kenangan masa lalunya saat dia (Ibu Nur) seumur-an dengan Clara. Clara hanya bisa mengangguk-angguk mendengar cerita si pembantu pamannya itu.
Setelah Ibu Nur selesai bercerita, lalu Ibu Nur mulai membahas tentang si pemuda pengantar Koran itu lagi. sepertinya Ibu Nur sungguh penasaran dengan pria idaman Clara.
"Cowok idamanmu seperti apa, Ra?" tanya Ibu Nur mulai kepo
"Aduh! untuk saat ini, aku tidak tau, Bu."
Clara hanya bisa senyum dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Oh, Iya, aku tadi mau menelepon Bapakku!" gumam Clara
Clara langsung meminta izin kepada Ibu Nur, untuk menggunakan telepon rumah pamannya. Pembantu di rumah pamannya itu pun tidak merasa keberatan dengan permintaan Clara.
__ADS_1
"Bu, boleh kah aku pakai telepon rumah Paman sebentar?" tanya Clara
"Tentu dong, Clara manis, sana pakailah!" jawab Ibu Nur
Bagi Clara, walaupun Ibu Nur hanya seorang pembantu di rumah pamannya, tetapi Clara harus meminta izin terlebih dahulu sebelum menggunakan apapun di rumah pamannya itu, Clara menganggap Ibu Nur adalah bagian dari keluarga pamannya juga. itu sebabnya Clara sangat menghormati pembantu di rumah Pamannya itu.
Setelah menerima izin dari Ibu Nur, Clara pun langsung bergegas menuju ruang tengah untuk menelepon Bapak-Mamanya. Tentu Clara sangat rindu dengan orangtuanya di kampung.
“Loh! kok salah nomor?” gumam Clara sambil mengerutkan alisnya, ternyata Clara kurang memasukkan satu angka nomornya.
Lalu Clara mencoba lagi dengan menekan nomor yang benar. Sambungan telepon pun terhubung.
Beginilah percakapan mereka melalui telepon.
Bapak : “Hallo”
Bapak : “Oh!, kamunya ini, Boru?" (NB: Boru = panggilan bagi anak perempuan Batak-Toba)
Clara : “Iya, Pak. Bagaimana kabar Bapak-Mama di kampung?”
Bapak : "Kabar kami baik-baik aja di sini. Kamu sehat-sehat juga di sana kan?”
Clara : “Puji Tuhan, sehat Pak. Oya Pak, aku sudah mendaftar kuliah ya. Aku ditemani bang Jhoni kemarin dan Minggu depan aku sudah mulai mengikuti orientasi mahasiswi baru Pak. Kasih tahu sama Mama lah ya, Pak”
Bapak : “Benarkah? Syukurlah, Nak. Baik-baik di sana ya. Trus, bagaimana dengan kosanmu, sudah dapat?”
Clara : “Belum Pak, hari Jumat inilah rencana mau cari kosku. Kebetulan bang Jhoni libur kerja juga di hari itu”
Bapak : “Yaudah, baik-baik. Jangan lupa pamit dari Paman-Bibimu dengan baik ya jika mau pindah ya, Nak”
__ADS_1
Clara : “Iya Pak, pastilah itu Pak, Mama di mana, Pak?"
Bapak : “Mama ada di ladang, ketepatan Bapak lagi kasih kuda kita minum, Mama enggak ada di sini”
Clara : “Oh, begitu! Yaudah lah Pak, yang penting Bapak dan Mama sehat-sehat ya di kampung. Sampaikan salamku untuk Mama"
Bapak : “Iya, Boru”
Clara pun mengakhiri percakapannya dengan Bapaknya lalu menutup telepon.
Ternyata Bapak Clara saat itu tidak sedang bersama dengan Mamanya. Terkadang karena kesibukan kedua orangtuanya membuat Clara susah untuk bisa menelepon.
Sebenarnya Clara masih pengin cerita lebih lama lagi dengan Bapaknya, tetapi mengingat bahwa telepon yang dipakainya saat itu adalah telepon dari rumah pamannya. Clara tidak ingin pembayaran Pamannya membengkak.
“Walaupun hanya sebentar saja bisa bicara dengan Bapakku, setidaknya rasa rinduku sudah ter-obati, dan aku merasa senang dan bersyukur, karena Bapak dan Mamaku sehat-sehat di kampung“ gumam Clara sambil senyum
------
Bersambung..🌹
Hello Readers 💗
tetap setia membaca novel ini ya. oya, novel ini mengikuti kontes "You Are A Writer Season 3" loh 😍
mohon bantu like, vote dan comment ya. dukung aku terus supaya lebih bersemangat menulis cerita berikutnya.
Terima kasih 😍🙏
__ADS_1