Cincin Pernikahan

Cincin Pernikahan
Kota Medan


__ADS_3

Kota Medan adalah ibu kota provinsi Sumatera Utara dan kota terbesar No.3 di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya atau kota terbesar No.1 di Pulau Sumatera (menurut kepadatan penduduk), juga kota pendidikan.


**


Kernek bus menurunkan barang-barang para penumpang dari bagasi bus. Angkot, taxi, dan becak langsung seketika mengerumun untuk menawarkan jasa.


"Tidak, Pak. Aku dijemput," tolak Clara dengan sopan dan senyum kepada para jasa angkutan yang menawari.


Clara melihat kota Medan dengan takjub yang penuh keramaian, gedung-gedung bertingkat, kebisingan, kendaraan, dan lain sebagainya.


“Waow, rame sekali,” gumam Clara.


Tidak lama kemudian, dia tiba-tiba teringat ingin menghubungi Jhoni dan orangtuanya untuk memberitahu bahwa dia sudah sampai. Dia meninggalkan tasnya di loket untuk sementara dan pergi mencari WARTEL (Warung Telepon). Dia harus dari WARTEL untuk bisa menghubungi, karena HP-nya telah berpindah tangan sebelumnya kepada orangtuanya.


Tidak susah bagi Clara menemukan WARTEL. Hanya beberapa langkah dari loket dia sudah menemukannya, lalu memilih ruangan yang sedang kosong. Sebelum masuk, dia membaca sebuah tulisan di kertas yang menempel di pintu "Buka pukul 05.00 - 21.00".


“Ooo, ada batas-batasnya ternyata. Kukira bisa setiap saat," gumam Clara.


Di dalam, dia membaca petunjuk-petunjuk cara penggunaan sambil memencet nomor HP Jhoni dan kemudian tersambung.


(Terjadilah percakapan di antara mereka)


Jhoni: "Hallo."


Clara: "Hallo, Bang. Ini aku Clara, Bang.“


Jhoni: "Oh, iya. Ada apa?"


Clara: "Abang di mana? Abang sibuk tidak?"


Jhoni: "Tidak, aku lagi di kos, kenapa?"


Clara: "Bang, aku baru saja sampai di Medan, jemput aku ya. Aku di loket bus (menyebutkan nama bus) ya, Bang."


Jhoni: "Hmm, ya sudah, tunggu di sana." (Jhoni langsung menutup telepon)


"Aneh, jawaban Bang Jhoni kok cetus-cetus seperti itu ya? Seperti tidak menunjukkan rasa senang! Tidak biasanya Bang Jhoni seperti itu. Duhhh, bagaimana nih! Bagaimana kalau benaran dia tidak datang menjemputku? Akhh, Bang Jhoni pasti datang kok," batin Clara dan cemberut sambil memainkan bibirnya.


**


Kemudian, Clara memencet nomor HP Bapaknya dan tersambung.

__ADS_1


Hallo, hallo Pak,” kata Clara tetapi tiba-tiba terputus.


"Mungkin jaringan kurang bagus," batin Clara.


Dia pun mencoba lagi dan kemudian tersambung.


(Terjadilah percakapan di antara mereka)


Clara: “Hallo, Pak. Ini aku Clara, Pak."


Bapak: "Hallo, nak. Sudah sampai di Medan ya?”


Clara: "Sudah, Pak. Baru saja aku sampai, aku lagi menunggu Bang Jhoni untuk menjemputku di loket."


Bapak: “Oh baiklah, nak. Baik-baik di sana ya. Ini Mama mau ngomong katanya.”


Clara: “Iya, Pak. Mana Mama, aku juga mau ngomong.”


Mama: "Hallo, boruku. Bagaimana kabarmu?”


Clara: “Hallo, Ma. Aku baik-baik aja, Ma." (Clara menangis)


Clara: “Iya, Ma. Nanti aku ke rumah paman. Mama dan Bapak sehat kan?” (Clara melihat tarif di argo telepon)


Mama: “Puji Tuhan, kami sehat-sehat. Jangan terlalu mencemaskan Bapak dan Mama di sini, yang penting kamu baik-baik dan jaga kesehatan. Selalu memberi kabar ke kampung ya, nak.”


Clara: “Iya, Ma. Sudah dulu ya Ma, aku tutup teleponnya. Aku akan selalu memberi kabar kepada Mama.”


Mama: “Iya, nak. Jaga diri baik-baik ya.”


Clara: “Iya, Ma.” (Clara menutup telepon)


**


Clara segera menutup teleponnya. Dia harus bisa se-efisien mungkin untuk berbicara, karna harus menyesuaikan dengan isi kantongnya. Padahal, masih ada lagi yang ingin dia sampaikan kepada Bapaknya yaitu "Tabe" dari Pak Erik teman kerja Bapaknya dulu (Tabe= Salam). Tetapi karena melihat angka di argo telepon jalan terus, dia pun hanya bicara seadanya saja dan takut pembayarannya membengkak.


Clara segera keluar dari ruangan dan membayar biaya teleponnya kepada penjaga WARTEL. Dia pun kembali ke loket untuk melihat tasnya.


Tiba di loket, dia tidak menjumpai tasnya lagi di tempat semula. Dia pun panik. Kemudian dia bertanya kepada orang-orang di loket, tetapi tidak ada satu pun yang mengetahui. Kepanikan Clara pun bertambah.


"Hrmm, hrmm. Apakah ini tasnya, Nona?" tanya seorang pria sedikit berbatuk sambil menepuk-nepuk pundak Clara.

__ADS_1


Mengetahui ada seseorang menepuk-nepuk pundak Clara dari belakang dan mendengar kata TAS, dia pun langsung menoleh ke belakang.


"Bang Jhoniii! Abang kok tahu itu tasku? Juga, kok cepat sekali sampainya?" tanya Clara dengan heran.


"Sebenarnya aku sudah tahu kamu ke Medan. Seteleh kamu berangkat, Tante langsung menghubungiku memberitahu bahwa kamu sudah berangkat dan menyuruhku untuk menjemputmu di loket bus ini. Jadi, aku sudah perhitungkan jarak tempuh dari kampung kita ke Medan berapa Jam. Kamu sampai dan kamu pergi ke WARTEL pun aku sudah tahu. Cuma, aku tidak membuka helmku supaya kamu tidak mengenaliku, hehehe," jelas Jhoni sambil tertawa dan memberikan tas Clara.


"Jadi....? Ihhh, abang jahat!" kata Clara memotong kalimatnya sambil memainkan jari telunjuknya dan cemberut.


"Iya, maaf Ra, hehehe," kata Jhoni sambil tertawa. Jhoni sudah paham maksud Clara, karena dia mengerjai Clara dan membohonginya mengatakan lagi di kos.


"Jadi, Bang Jhoni sudah lama menunggu di sini?" tanya Clara.


"Belum, baru 2 jam, hehehe. Baru 30 Menit yang lalu. Oh iya, apakah kamu sudah memberitahu kepada Om dan Tante bahwa kamu sudah sampai?" tanya Jhoni.


"Sudah Bang, yang dari WARTEL tadi, hmmm!" jawab Clara sambil menatap wajah Jhoni.


“Oh begitu, baiklah. Hmm, sekarang tujuanmu kemana nih, apakah langsung cari kos?” tanya Jhoni.


“Bukan, Bang. Pesan Mama harus ke rumah pamanku dulu, mungkin nanti aku akan tinggal di sana untuk beberapa hari, Bang,” jawab Clara.


“Baiklah Ra, baguslah kalau ada keluarga di sini. Ayo, di mana alamat rumahnya?" tanya Jhoni.


Clara langsung mengambil kertas dari tasnya yang berisikan alamat pamannya, lalu membacakannya didengar Jhoni.


"Ingattt! Lain kali jangan seperti itu lagi. Barang bawaan jangan ditinggal sembarang tempat, lebih baik dititip atau dibawa. OK!" kata Jhoni memperingatkan.


"Iya Bang, maaf," jawab Clara.


Jhoni pun memberikan helm kepada Clara yang sudah dipersiapkan dari kosnya. Kemudian Clara naik ke motor besar milik Jhoni dan mereka pun berangkat ke alamat paman Clara.


Disepanjang jalan raya Clara sangat menikmati boncengan Jhoni. Dia memegang ujung jaket Jhoni sambil menoleh kiri-kanan. Hampir semua bangunan-bangunan di pinggir jalan, seperti: swalayan, minimarket, warung makan, bank, kantor-kantor, biro travel, rumah sakit, tempat hiburan dan lain sebagainya tidak terlewat dari pandangan Clara.


"Ternyata seperti ini suasana tinggal di Kota," gumam Clara sambil tersenyum.


"SELAMAT DATANG DI KOTA MEDAN CLARA," kota Medan seolah berkata.


Bersambung 🌹💗


Ayo baca terus kelanjutan ceritanya ya, like dan komen supaya aku lebih bersemangat lagi untuk menulis cerita selanjutnya 🔥


Terima kasih 🌷**

__ADS_1


__ADS_2