
Alex berdiri dari ranjang dan berjalan kekuar dari kamar. Dia tidak berniat untuk membantu Jaselyn untuk makan, walaupun dia tahu kondisi tubuh Jaselyn masih sangat lemah.
Setelah Alex pergi, kedua mata Jaselyn terpejam dan dari kedua sudut matanya, air mata Jaselyn meleleh. Hatinya terasa begitu sesak, saat mengingat semua yang telah dia alami.
Beberapa saat kemudian, Jaselyn mencoba untuk bangun dan mengambil mangkuk yang ada di atas nakas.
Dengan tubuh yang sangat lemah, Jaselyn berusaha mengambil mangkuk bubur itu.
Praaaaang !
Suara mangkuk terjatuh begitu nyaring, namun tidak ada seorangpun yang datang ke dalam kamar, karena kamar itu kedap suara. Tubuh Jaselyn pun tersungkur di atas lantai, karena tidak bisa menopang tubuhnya saat mencoba mengambil mangkuk itu.
"Aaaakh! Tidak Pa! Jangan lempar lagi! Aaaaakh!"
Jaselyn berteriak dengan keras, karena saat mendengar suara mangkuk terjatuh, dia ingat pada Robert Stuart yang selalu melempar gelas atau vas bunga ke arahnya, saat Robert Stuart sedang marah.
Tubuh Jaselyn gemetar begitu hebat, dia terus berteriak dan menangis.
"Ampun Pa, Jaselyn tidak akan melakukannya lagi, ampuni Jaselyn Pa." Ucap Jaselyn di sela tangisannya.
Jaselyn meringkuk di atas lantai, badannya yang kecil menggigil.
Dalam beberapa saat Jaselyn diam, kedua matanya melihat pecahan mangkuk yang ada di depannya. Tangan Jaselyn terulur mengambil pecahan mangkuk itu.
"Papa, maafkan Jaselyn. Tolong ampuni Jaselyn sekali ini." Gumam Jaselyn.
Tangan Jaselyn gemetar memegang pecahan mangkuk itu, dan dengan tenaganya yang tersisa. Jaselyn mengarahkan pecahan mangkuk itu pada tangan kirinya.
Sreeeeeeet
Seketika darah segar keluar dari pergelangan tangan Jaselyn, dan perlahan kedua mata Jaselyn mengeluarkan air mata.
"Maafkan Jaselyn Papa, Jaselyn selalu membuat Papa dan Mama marah."
Ceklek
Pintu kamar terbuka, Alex yang membuka pintu itu sangat terkejut melihat tubuh Jaselyn di atas lantai, dan... Dengan banyak darah dari tangannya.
__ADS_1
Dengan cepat Alex berjalan mendekati tubuh Jaselyn.
"Jaselyn! Jaselyn Stuart." Seru Alex seraya menopang tubuh Jaselyn.
Kedua mata Jaselyn mulai terpejam, suara Alex yang memanggil namanya pun sudah tidak bisa lagi dia dengar.
"Leon! David!" Alex berteriak dengan keras memanggil dua orang itu.
Mendengar teriakan yang begitu keras, David dan Leon segera datang ke kamar tamu itu. Dan melihat Alex tengah memeluk tubuh Jaselyn yang di pebuhi oleh darah.
(Pintu kamar sudah terbuka ya, jadi pas Alex berteriak terdengar keluar)
"Jangan diam saja! Selamatkan Jaselyn sekarang!" Seru Alex sambil menatap David dengan tajam.
Alex mengangkat tubuh Jaselyn dan membaringkannya di atas ranjang.
David segera berjalan mendekati Jaselyn dan mengikat pergelangan tangan Jaselyn dengan kain seprei yang dia robek.
"Leon, ambil kotak obat dan alat jahit di ruanganku sekarang." Ucap David dengan cepat.
Leon mengangguk dan bergegas pergi ke ruang kerja David yang ada di samping ruang olahraga Alex.
Tak berapa lama, Leon kembali membawa semua yang David katakan padanya.
Setalah membuka kotak obat dan menerima peralatan jatihnya, David membuka kembali kain yang tadi dia ikat pada pergelangan tangan Jaselyn.
Dengan cepat David menuangkan sedikit alkohol pada kapas lalu membersihkan tangan Jaselyn juga sedikit menekan pergelangan tangannya agar darah tidak lagi keluar.
Setelah selesai memberisihkan darah itu, dengan serius David mulai menjahit pergelangan tangan Jaselyn.
Sementara Alex yang melihat pekerjaan David hanya diam, dia menatap wajah Jaselyn dengan khawatir.
"Aku membutuhkan darah. Dia kehilangan banyak darah." Ucap David.
"Ambil darahku!" Ucap Alex tanpa pikir panjang.
"Alex!"
__ADS_1
David adalah dokter pribadi Alex, jadi dia tahu bagaimana kondisi tubuh Alex. Dan untuk melakukan transfusi darah dengan jumlah yang cukup banyak, itu akan membuat tubuh Alex memburuk.
"Aku bilang ambil darahku! Kita tidak mungkin menunggu selama satu jam untuk darah itu." Ucap Alex.
"Tapi Alex, kau akan...."
"Cukup! Ambil darahku sekarang."
David menatap Alex, selama ini dia tidak pernah melihat Alex peduli dengan orang lain. Terlebih orang itu adalah anak dari musuhnya.
"Jika kau tidak mau melakukannya, maka biar aku yang melakukan sendiri. Leon ambilkan selang di ruangan David."
"Baik, baik. Aku akan melakukannya." Ucap David yang akhirnya mengalah.
Leon kembali pergi ke ruangan David untuk memgambil jarum dan selang.
Setelah mendapatkan jarum dan melang, dia lalu menyuntikan jarum pada lengan Alex yang sudah berbaring di samping Jaselyn.
Darah segar mengalir dari tubuh Alex ke tubuh Jaselyn, melihat itu David mempunyai firasat yang tidak baik akan kondisi tubuh Alex nanti.
10 menit kemudian transfusi darah selesai, David mencabut jarum yang ada di lengan Alex.
"Leon, bawa Alex ke kamarnya. Aku akan segera kesana." Ucap David.
Leon mengangguk, dia lalu membantu Alex yang tubuhnya sedikit tak bertenaga pergi ke kamar Alex.
David memasang selang infus yang dia ambil di ruang rawat yang ada di dalam mansion, lalu membiarkan cairan infus masuk ke dalam tubuh Jaselyn.
Setelah selesai dengan Jaselyn, David segera ke kamar Alex, karena dia sudah sangat khawatir pada kondisi tubuh Alex saat ini.
"S*al! Bagaimana bisa kau melakukan itu pada orang lain Alex? Kau bahkan tidak peduli dengan kondisi tubuh mu sendiri." Ucap David dengan kesal setelah berdiri di depan ranjang Alex.
Seharian ini David melakukan yang terbaik untuk merawat Alex. Karena dia benar-benar tidak ingin teman baik dan juga penyelamatnya terjadi apa-apa.
David adalah salah satu dari banyak orang yang Alex selamatkan dulu, Alex menyelamatkan David dari seorang mafia yang akan membunuhnya, karena ada seseorang yang ingin dia mati setelah dia menyelamatkan seseorang diruang operasi dulu.
Setelah itu David pun menjadi dokter pribadi Alex dan tidak ada yang berani menyentuhnya lagi.
__ADS_1
Hari sudah hampir malam, namum Alex masih belum sadarkan diri setelah dia mendonorkan darahnya pada Jaselyn. Dan David pun masih melakukan berbagai upaya yang dia bisa untuk Alex.